Oleh: Farid Haritsah S.Pd

Kementerian Agama RI secara resmi mengumumkan penghapusan konten-konten yang dianggap ajaran radikal dalam 155 buku pelajaran agama Islam. Penghapusan konten radikal ini merupakan salah satu bagian dari program penguatan moderasi beragama yang dilakukan oleh kemenag RI. Yaitu sebagai bagian dari 12 pengarusutamaan Islam moderat di madrasah. Buku-buka yang direvisi berasal dari pelajaran Aqidah Akhlak, Fiqih, SKI, Al-Qur’an Hadits dan Bahasa Arab.

Konten yang dihapus itu terkait dengan ajaran Sistem Pemerintahan Islam (Khilafah) dan Jihad. Didalam buku-buku agama islam hasil revisi tersebut masih terdapat materi soal Khilafah dan nasionalisme. Akan tetapi buku-buku itu akan memberi penjelasan bahwa khilafah tidak lagi relevan untuk diterapkan di Indonesia. Dan buku-buku itu akan mulai berlaku pada tahun ajaran 2020/2021.

Untuk memuluskan kinerjanya kemenag telah bekerja di daerah bersama Setara Institute untuk mengkampanyekan gerakan moderasi beragama. Kepala Madrasah, Pengawas dan guru mata pelajaran agama di beberapa daerah telah mendapatkan doktrin bagaimana memoderasi Islam dari Lembaga Swadaya Masyarakat yang anti islam itu.

Demi melancarkan program ini Kemenag telah mendapatkan Pendanaan dari USAID (yang merupakan lembaga bantuan milik AS yang biasa membiayai program Liberalisasi di Indonesia). Ketiganya telah menandatangani kesepakatan untuk mencegah radikalisme khususnya bagi ASN di lingkungan kemenag. Untuk itu pula Setara institute telah menyusun modul-modul utnuk menjalankan program tersebut.

Langkah-langkah yang diambil Kemenag ini tentu saja tidak lepas dari upaya sistematis menanamkan nilai-nilai Islam Moderat. Dimana moderasi beragama sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024.

Menurut rezim jokowi bahwa buku-buku yang berisi ajaran islam itu mengandung materi-materi yang berlawanan dengan ideologi bangsa dan berkeyakinan ekstrem. Kemenag menganggap bahwa buku-buku itu melahirkan sikap kekerasan, intoleran dan tidak menghargai perbedaan.

Peneliti Setara Institute, Halili mengatakan bahwa pemerintah tepat sekali jika merespons masalah radikalisme seperti misalnya peredaran buku-buku yang salah tafsir, sehingga kemenag berwenang meluruskanya. Menurutntya bahwa kementerian Pendidikan dan kebudayaan kecolongan dalam beberapa ,materi yaitu Khilafah dan jihad. Dalam buku-buku itu dikatakan bahwa khilafah wajib, padahal khilafah sudah tidak ada. Dengan adanya buku-buku dari kemenag ia berharap ia bisa menjadi kontra narasi yang baik.

Moderasi Kurikulum bagian Liberalisasi
Islam moderat adalah istilah yang disodorkan oleh Kemenag setelah Islam Nusantara dan Islam Liberal belum diterima masyarakat. Agar tampak lebih islami ide Islam Moderat dibungkus dalam term ‘islam washathiyah’ yang diambil dari kutipah ayat dari Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 143. Yakni ummatan Wasathan.

Pemerintah serius menggarap ide ini. Pada bulan Mei 2018 Pemerintah Indonesia menyelenggarakan Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama Se-Dunia dengan tema Islam Wasathiyah di bogor. Dalam pidatonya Presiden Jokowi mengatakan bahwa Indonesia menyambut dengan gembira menguatnya semangat moderasi dalam gerakan besar dunia Islam. Keterlibatan ulama menjadi sangat penting karena ulama adalah pewaris Nabi dan obor keteladanan bagi umat. Jika ulamanya bersatu padu dalam satu barisan untuk membumikan moderasi islam, poros Wasathiyah Islam dunia akan menjadi arus utama sehingga menjadi harapan bagi dunia yang aman, damai, sejahtera dan berkeadilan.

Menutur utusan Khusus presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan peradaban Din Syaamsuddin,”Konsultasi Tinggkat Tinggi ini diharapkan dapat mendorong gerakan bersama Islam moderat di dunia sekaligus menyingkirkan wawasan islam yang bersifat fundamentalis, ekstrimis dan radikalis yang menyebabkan krisis peradaban.

Moderasi Islam ini bukan domain Indonesia saja tetapi sudah menjadi program Global. Inilah yang bisa dibaca dari dokumen RAND Corporation , lembaga think thank Amerika Serikat. Lembaga itu telah menerbitkan sebuah dokumen berjudul “Membangun Jaringan Muslim Moderat”. Mereka memberikan saran kepada pemerintah AS tentang siapa yang harus menjadi mitra muslimnya di dunia.

Moderat yang dimaksud oleh mereka adalah mau menerima nilai-nilai barat dan tidak menentang barat dalam segala aspek. Sedangkan mereka yang tidak mau kompromi dengan Barat disebut radikalis.

Amerika sebagai kampium ideologi kapitalisme merancang pendekatan yang amat halus dalam pertarungan Ideologi melawan Islam. Cheryl Benard menyebutkan bahwa dunia Islam harus dilibatkan dalam pertarungan tersebut yaitu dengan menggunakan nilai-nilai Islam yang dimilikinya. AS harus menyiapkan mitra, strategi dan sarana untuk memenangkan pertarungan tersebut. Tujuannya adalah Pertama, Mencegah penyebaran Islam Politik. Kedua, menghindari Kesan bahwa AS menentang Islam. Dan ketiga, mencegah agar masalah ekonomi, sosial dan politik tidak menyuburkan rdikalisme Islam.

Islam kaffah vs Islam Wasathiyah
Barat menempuh berbagai cara untuk melemahkan islam dalam benak kaum muslimin. Dalam pertarungan pemikiran saat ini mereka menampilkan idiom “Islam Wasathiyah”. Istilah ini diambil dari Surat Al-Baqarah ayat 143 yang potongannya berbunyi:
“Dan demikianlah Kami jadikan kalian sebagai umat yang wasath……”.

Ayat tersebut dimaknai sesuai keinginan mereka sehingga mengesankan bahwa mereka yang radikal, fundamentalis dan label-label stigmatis lainnya dianggap telah melanggar ayat ini. Dengan bahasa dan cara-cara yang sangat halus.Mereka menggambarkan bahwa Islam Wasathiyah itu mengedepankan jalan tengah. Tidak liberal dan tidak radikal. Selanjutnya digambarkan bahwa Islam wasathiyah adalah Islam damai. Islam yang menyetujui demokrasi, pluralisme dan nilai-nilai Barat. Islam yang tidak anti terhadap investasi dan intervensi asing.

Di sisi lain, Islam yang sebenarnya digambarkan sebagai ajaran radikal karena terdapat syariat tentang jihad dan Khilafah. Juga difitnah sebagai ajaran yang mendiskreditkan perempuan, minoritas dan non muslim. Padahal sejarah mencatat, kekerasan terhadap perempuan dan minoritas justru lebih sering terjadi ketika Islam tak lagi mengatur dunia seperti saat ini.
Ini adalah pemikiran rusak yang sengaja ditanamkan dalam benak kaum muslimin. Tentu saja pemikiran ini sangat berbahaya karena mereka yang memang sudah lemah pemahaman islamnya akan membenarkannya.

Padahal Wasathiyah memiliki makna yang sangat berbeda dengan terminasi yang dibuat oleh Barat . Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 143 berfirman :

“Dan demikianlah Kami jadikan kalian sebagai umat yang wasath……”.
Wasathiyah didalam ayat diatas mempunyai dua makna,
Makna pertama, adalah umat yang paling adil. Hal ini sesuai dengan potongan ayat sesudahnya.
” Agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. Ayat ini menjelaskan bahwa umat islam akan menjadi saksi untuk semua umat manusia yang ada. Ketika seluruh ummat dikumpulkan di akhirat kelak. Maka yang menjadi saksi dan yang dipercaya untuk semua ummat manusia adalah umat islam. Ummat islam adalah ummat yang adil dan akan menjadi pemutus perkara. Jadi makna wasath disini adalah yang adil dalam memutuskan.
Makna Kedua, adalah umat terbaik (khaira Ummah). Jadi pertengahan disini adalah posisi yang terbaik diantara ifrath (berlebih-lebihan hingga mengadakan yang baru dalam beragama) dan tafrith (mengurangi-ngurangi ajaran agama).

Jadi pada dasarnya seluruh ajaran islam itu Wasath. Jika menggunakan makna yang seperti ini maka sungguh pemahaman inilah yang paling relevan untuk situasi dan kondisi saat ini.

Islam Wasathiyah, Racun Barat untuk Umat Melihat sejarah kelahirannya, Islam wasathiyah muncul karena sekulerisme. Umat dibuat puas dengan penerapan sebagian hukum Islam seperti sholat, puasa dan zakat. Padahal dalam QS. Al Baqarah: 208 Allah mewajibkan umat Islam untuk menerapkan Islam secara kaaffah. Totalitas.

Sehingga jelaslah bagi kita bahwa tujuan memunculkan ide islam wasathiyah adalah meragu-ragukan dan menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam, agar nilai-nilai dan praktek Islam khususnya yang berhubungan dengan politik Islam dan berbagai hukum-hukum Islam lainnya dapat dieliminasi dari kaum muslim dan diganti dengan pemikiran dan budaya barat. Islam dengan berbagai label yang telah mereka sematkan seperti “Islam Indonesia” atau “Islam Timur Tengah” sebenarnya sama dengan istilah “Islam Radikal”, “Islam Militan”, “Islam Moderat” atau yang lain.
Pengkotak-kotakan seperti ini sebenarnya merup akan bagian dari strategi Barat untuk menghancurkan Islam. Ini sebagaimana yang dituangkan dalam dokumen Rand Corporation. Strategi penghancuran ini dibangun dengan dasar falsafah “devide et impera” atau politik pecah-belah.

Sehingga Keberadaan Islam moderat/ Islam Wasthiyah justru akan menghilangkan banyak ajaran Islam. Sistem pemerintahan Islam dalam bingkai Khilafah akan dinafikkan karena demokrasi dianggap final. Aktivitas ‘amar ma’ruf nahi munkar akan dianggap membatasi kebebasan berekspresi. Efeknya, kemaksiatan seperti LGBT dan seks bebas akan menjamur. Jihad sebagai bagian ajaran Islam yang karenanya Islam dapat menguasai dunia di katakan radikal.

Jahatnya lagi, ide Islam wasathiyah (moderat) ini dipropagandakan oleh kalangan ulama dan cendekia muslim yang telah dididik dengan ide dan hukum Barat. Alih-alih mengkritisi ide ini, mereka malah mendistorsi dan mengebiri sebagian hukum Islam agar sejalan dengan ide-ide Barat.

Islam Moderat telah digunakan untuk menghadang upaya penegakan syariah dan Khilafah. Hal ini sama saja dengan menghalangi terjadinya kebangkitan Islam di muka bumi ini. Musuh-musuh Islam sangat menyadari bahwa tegaknya kembali Khilafah di tengah-tengah kaum muslimin yang akan menerapkan syariah Islam secara kaffah, menyatukan umat Islam diseluruh dunia, melindungi dan membebaskan umat Islam yang tertindas dan menyebarluaskan Islam ke seluruh penjuru dunia sehingga menjadi rahmatan lil ‘alamin, akan mengancam dominasi mereka.

Oleh karena itu, tegaknya kembali Khilafah harus dicegah dengan segala cara. Salah satunya dengan menggunakan politik belah bambu. Umat Islam yang mendukung mereka diangkat, dipuji-puji dan dijuluki Muslim Moderat, sedang yang bertentangan harus ditekan habis.
Karenanya mereka berupaya keras agar umat Islam dijauhkan dari aturan Islam dengan menerapkan sistem demokrasi kapitalis, sistem yang diterapkan hari ini yang jelas-jelas telah membawa umat Islam pada kehancuran, keterjajahan, dan kehinaan.

Sekaligus menjauhkan kaum Muslimin dari karakternya sebagai sebaik-baik umat (khairu ummah) dan sebagai pionir peradaban, sebagaimana pernah tersemat di pundak mereka selama belasan abad, dimulai saat Rasulullah ﷺ berhasil menegakkan sistem Islam di Madinah dan dilanjutkan oleh Khalifah-khalifah setelahnya, hingga sistem Khilafah ini runtuh tahun 1924 atas konspirasi penjajah dan antek-anteknya di negeri kaum Muslimin. Saat itulah umat Islam dan negeri-negerinya mulai masuk dalam cengkraman penjajahan kapitalisme hingga menjadi umat yang tak berdaya sama sekali.

Musuh-musuh Islam akan berusaha keras mencegah kebangkitan Islam dengan menjauhkan umat dari rahasia kebangkitannya — yang tidak lain adalah ajaran Islam sebagai sebuah ideologi (mabda) — yang ditegakkan oleh kekuatan penopangnya berupa negara Khilafah.

Saatnya umat sadar, bahwa Islam yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah saw. adalah Islam yang satu. Narasi Islam moderat adalah narasi Barat meski dibalut dengan bahasa Arab yang seolah islami. Wasathiyah. Ide ini dibuat untuk meredam kerinduan umat pada kehidupan yang diberkahi Allah. Kehidupan yang menjadikan hukum Islam sebagai tolak ukur perbuatan.
Kesadaran ini perlu dibangun secara terus menerus kepada umat dengan adanya dakwah. Dakwah pemikiran tanpa kekerasan seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. dulu. Dakwah untuk mengembalikan kemuliaan Islam dan kaum Muslimin. Sekaligus menjaga harta, darah dan kehormatan setiap warga negara, muslim maupun non muslim.