Oleh: Mustika Lestari
(Pemerhati Sosial)

Di zaman ini, virus Islamophobia tidak hanya terjadi di kalangan Barat saja, lebih memprihatinkan hal ini juga terjadi pada kaum Muslim itu sendiri. Tentu saja dari kalangan yang sudah terkontaminasi pemikiran sekuler yang memisahkan kehidupan dengan agama mereka (Islam) sendiri, tak terkecuali negara Turki. Partai berkuasa disana menolak seruan majalah pro pemerintah untuk membangkitkan kembali sistem pemerintahan Islam, menyusul pembukaan kembali Hagia Sophia di Istanbul sebagai masjid. Seruan ini justru diadukan menurut hukum pidana oleh pihak sekuler Turki.

Dikutip dari m.republika.co.id (28/7), Asosiasi Bar Ankara, mengajukan pengaduan pidana terhadap Gercek Hayat yang membagikan sampul majalah di media sosial yang mengeluarkan seruan untuk membangkitkan kembali Kekhilafahan Islam dengan tuduhan menghasut orang-orang untuk melakukan pemberontakan bersenjata melawan Republik Turki, menghasut masyarakat membentuk kebencian dan permusuhan serta menghasut orang untuk tidak mematuhi hukum.

“Menimbang bahwa seruan pembentukan Kekhilafahan tidak dapat diwujudkan dalam hukum, dengan cara tidak bersenjata dan damai, jelas tindakan para tersangka menghasut orang-orang untuk melakukan pemberontakan bersenjata,” ujar Asosiasi Pengacara Ankara saat membacakan pengaduan pidana dan diserahkan ke Kantor Kepala Kejaksaan Umum Istanbul, dilansir di Duvar English, Selasa (28/7/2020).

Kubu Sekuler Ingin Menjegal Kebangkitan Islam?

Bagi umat Islam pembukaan kembali Hagia Sophia sebagai masjid dinilai akan menjadi genderang awal kebangkitan peradaban baru (Islam) di masa depan, di tengah keterpurukan umat Islam akibat kebodohan, konflik dan krisis berkepanjangan serta perseteruan elit politik di dunia yang hanya mejadikan umat Islam sebagai alat meraih kekuasaan. Umat pun dilanda euforia karena kabar gembira tersebut.

Namun, di tengah kabar baik ini ada pula pihak seperti ‘cacing kepanasan’ menyaksikan hal tersebut, yakni mereka kaum sekuler-liberalis. Modus demi modus dilayangkan, berbagai narasi sesat, argumen dangkal dan dusta mereka semburkan dari mulut-mulut mereka guna menebar fitnah sekaligus menjegal kebangkitan Islam. Di Turki, dari laman wartaekonomi.co.id (29/7), Juru Bicara Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pada Senin (27/7/2020) meyakinkan kaum skeptis, bahwa Turki akan tetap menjadi republik sekuler setelah majalah Gercek Hayat menyerukan pembaruan Kekhilafahan.

“Republik Turki adalah negara yang demokratis dan sekuler berdasarkan aturan hukum,” ujar Juru Bicara Omer Celik dalam sebuah cuitannya di Twitter. “Republik kita adalah payung bagi kita semua berdasarkan kualitas-kualitas ini. Adalah salah untuk memicu polarisasi tentang sistem politik Turki… Debat dan polarisasi tidak sehat yang muncul di media sosial kemarin tentang sistem politik kita tidak ada dalam agenda Turki. Republik Turki akan berdiri selamanya. Dengan doa dan dukungan dari negara kita, dan di bawah kepemimpinan presiden kita, kita berjalan menuju apa yang disebut tujuan yang tak terjangkau untuk negara dan kemanusiaan kita. Republik kita akan terus bersinar,” tambah Celik sebagaimana dilansir Al-Araby.

Benar, kembali kepada sistem Khilafah Islam, berarti Ancaman bagi pembencinya. Penentangnya (kalangan sekuler Barat) seperti Amerika Serikat dan antek-anteknya beraksi lagi akibat ketakutan mereka akan seruan itu yang jelas saja mengancam kedudukannya. Misalnya saja, Departemen Luar Negeri AS mengatakan, pihaknya kecewa dengan keputusan tersebut dan berharap Hagia Sophia bisa kembali dibuka untuk semua umat. Begitu pula, Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian menyatakan bahwa Prancis menyayangkan keputusan Turki tentang Hagia Sophia. Pasalnya, keputusan ini menimbulkan keraguan pada salah satu tindakan paling simbolis dari Turki modern dan sekuler.

Nampak tak hanya Barat, ironisnya hal serupa juga dilayangkan oleh kubu sekuler Turki. Seruan kepada Khilafah dituduh memberontak, merusak, memecah belah dan sebagainya. Terlihat, perubahan Hagia Sophia mendapat kritikan keras dari kubu oposisi, Partai Rakyat Republik (CHP). Walikota Istanbul Ekrem Imamoglu, yang diungkapkannya dalam Forum Internasional Delhi beberapa waktu lalu bahwa kebijakan itu tidak relevan dengan kondisi Turki saat ini. Novelis Turki, Orhan Pamuk juga menyatakan kekecewaannya. Pamuk menganggap bahwa pembukaan Hagia Sophia menjadi tempat ibadah (masjid) menandakan Turki tidak lagi sekuler. Sungguh pernyataan yang lancang jika menyatakan bahwa seruan Khilafah memicu kerusakan karena tidak relevan dengan kesepakatan hukum mereka. Hal ini sama saja dengan menganggap bahwa lebih tinggi aturan buatan manusia daripada aturan Allah. Na’udzubillah…

Perilaku ini sangat tidak mencerminkan keislaman mereka. Dan patut diduga virus ayat-ayat setan hasil dari penghambaan terhadap tradisi monster Barat seperti sekularisme, liberalisme dan pluralisme telah menjalar dan berkarat dalam pikirannya. Aneh tapi nyata, mereka khawatir dengan kebangkitan Islam sebagai peradaban gemilang yang telah terbukti dan teruji selama belasan abad lamanya memuliakan manusia, dengan mengangkatnya dari keterpurukan kepada kehidupan Islam.

Padahal dalam sejarahnya Daulah Islam yang didirikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, pelaksanaannya tanpa pertumpahan darah. Begitu pula sepeninggal beliau, ketika dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin juga dijalankan dengan cara damai. Sangatlah aneh jika saat ini Khilafah dituduh membahayakan dan mengancam persatuan bangsa. Sejarah membuktikan bahwa di zaman Kekhilafahan, 2/3 belahan dunia berhasil disatukan di bawah naungannya dan rakyat hidup damai berdampingan di dalamnya, antara kaum Muslim dan non Muslim dengan perbedaan suku, ras, agama dan budaya. Khilafah sebagai sebuah konsep ajaran mulia dan terbukti menyejahterakan seluruh umat manusia. Sama sekali tidak ada pemberontakan dan sebagainya seperti yang dituduhkan para pembencinya hari ini. Namun, inilah yang terjadi ketika orang sudah mengidap penyakit akibat virus Islamophobia stadium kronis, Islam akan dianggap sebagai monster yang menakutkan.

Dalam firman-Nya: “…Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi,” (Q.S. Ali Imran: 118).

Pasti, siapapun yang memperjuangkan tegaknya Khilafah di muka bumi akan dikriminalisasi, dianggap pemberontak dan merusak persatuan. Idenya harus diasingkan, jangan sampai memenuhi pemikiran umat. Di balik perkataan yang dilontarkan ada target untuk menciptakan citra negatif di tengah masyarakat dengan membangun penyesatan opini agar umat mempunyai persepsi buruk tentang Khilafah. Misalnya, Islam itu kejam, diskriminatif, dan masih banyak lagi yang sebenarnya hanya sebuah strategi agar umat Islam menjauhi ajaran Islam dan mau diatur dengan hukum sekuler warisan penjajah yang selalu disakralkan di berbagai negeri Muslim. Umat diharapkan akan membenci, menjauhi dan memusuhi syariat Islam, khususnya sistem Khilafah.

Tegaknya Khilafah itu Pasti!

Sejatinya, Islam adalah agama yang sempurna yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam, menjelaskan dan mengatur segala perkara kehidupan manusia seperti akidah, ibadah, akhlak, makanan, pakaian, muamalah, pemerintahan, ‘uqubat dan lain sebagainya. Adapun, Istilah sistem pemerintahan Islam (Khilafah) juga merupakan bagian dari ajaran Islam sebagaimana akhlak, shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya.

Menurut Dr. Mahmud al-Khalidi (1983), “Khilafah adalah kepemimpinan umum Muslim di dunia untuk menerapkan syariah dan mengemban dakwah Islam keseluruh penjuru dunia (Al-Khalidi, Qawa’id Nizham Al-Hukm fi al-Islam hlm. 226).

Penting diingatkan bahwa tak ada yang bisa mengingkari tegaknya kembali Khilafah yang merupakan janji Allah Subhanahu wa ta’ala dan busyra (kabar gembira) dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Allah dan Rasul-Nya telah menggambarkan bahwa Khilafah pasti akan tegak. Menegakkannya adalah kewajiban sebagaimana wajibnya pelaksanaan syariat Islam lainnya, dan menolaknya berarti menolak kewajiban sekaligus menentang Allah dan Rasul-Nya.

Karena itu, amanah mega proyek dakwah Khilafah yang diberikan langsung oleh Pemilik alam semesta, penguasa Langit dan Bumi, niscaya adalah memperjuangkan penegakkannya dengan membangun kesadaran berfikir umat untuk bangkit. Melakukan upaya perubahan melalui perang pemikiran, antara Islam dengan pemikiran bathil Barat. Maka, umat harus bersungguh-sungguh memperjuangkannya dengan segenap kemampuannya.

Hasan Al-Banna mengatakan: “Selama daulah ini tidak tegak, maka semua umat Islam berdosa dan akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT.”

Umat harus bangkit, bergerak untuk tegaknya Islam di muka bumi dalam bingkai Khilafah Islam. Sebab, hanya sistem ini yang mampu membebaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Kembalinya Khilafah ala minhaj nubuwwah akan mengakhiri semua bentuk penjajahan pemikiran sekuler di muka bumi ini dengan dakwah fil lisan.

Apapun upaya yang dilakukan manusia untuk menghalangi bangkitnya Islam dengan terus membumikan proyek mereka, tetapi proyek Allah sudah pasti menang sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an: “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya,”(Q.S. Ash Shaff: 8).

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.