Oleh : Citrawan Fitri, S. Mat., M. Pd. Moramo, Sulawesi Tenggara (Pemerhati Sosial)

Kini resesi tidak lagi sebagai wacana, namun telah berada di depan mata dan tentu menyita perhatian bagi pemerintah tak terkecuali Indonesia. Pasalnya, sebelum pandemi Covid-19 pun ekonomi Indonesia dapat dikatakan sudah terancam krisis.
Sebagaimana pada tanggal 16 Oktober 2016, IMF menyatakan pertumbuhan ekonomi dunia berada pada laju terburuk sejak krisis keuangan global. IMF menuding perang dagang, ketidakpastian Brexit dan krisis-krisis geopolitik lainnya sebagai penyebab lesunya pertumbuhan ekonomi dunia. Maka dengan adanya pandemi yang kian hari semakin bertambah jumlah pasien yang terinfeksi, krisis menjadi kian berat, dengan begitu kebenaran ini pun tak dapat terelakkan.
Hal ini dipertegas pula dalam peluncuran laporan Bank Dunia untuk ekonomi Indonesia edisi Juli 2020, tak ada jaminan bagi ekonomi Indonesia terbebas dari resesi. Ekonomi Indonesia bisa mengalami resesi jika infeksi Covid-19 terus bertambah banyak. Terlebih lagi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa kali mengingatkan para menterinya soal ancaman tersebut.
Bagaimana tidak mengingatkan, negara-negara yang lain, kini telah mengalami hal yang sama akibat Covid-19, misalnya saja perekonomian negara tetangga Singapura, telah mengalami resesi dan tentu harus rela menelan pil pahit akibat pandemi ini. Terlebih lagi karena jaraknya yang sangat dekat dengan Indonesia.

Pengumuman terkait resesi Singapura diumumkan melalui Kementerian dan Perdagangan Industri (MTI) Singapura. Dimana Secara kuartalan, ekonomi Singapura di kuartal II 2020 berkontraksi atau minus 41,2%. Sementara secara tahunan, PDB anjlok 12,6%. (cnbcindonesia.com, 23/07/2020)
Dan hal ini melebihi survei sejumlah lembaga dan ekonom. Dimana MTI memperkirakan ekonomi negeri itu dalam setahun bisa berkontraksi di rentan. 7-4%. Ini menjadi resesi terburuk bagi negeri kita itu sejak 1965. Maka sangat jelas bahwa corona memukul keras ekonomi Singapura saat ini.
Di kuartal I-2020, perekonomian Indonesia hanya tumbuh 2,97% YoY, turun jauh dari kuartal IV-2019 sebesar 4,97%. Di kuartal ini, perekonomian berisiko semakin nyungsep, sebabnya, penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mulai berlaku efektif di beberapa daerah. Sementara pada kuartal I lalu, kebijakan PSBB belum diterapkan.
Akibatnya, roda perekonomian di kuartal II mengalami perlambatan signifikan, sehingga pertumbuhan ekonomi terancam merosot. (cnbcindonesia.com, 18/07/2020).

Merosotnya ekonomi Indonesia ini berbanding lurus dengan situasi ekonomi di negara lain, khususnya mereka yang menjadi mitra dagang negara. Hal ini tidak lain karena disebabkan oleh pandemi virus corona.
Oleh karena itu wajar ketika Indonesia perlu mawas diri, sebab jika tanpa pandemi saja perekonomian telah terancam, lantas hal apa yang dapat membenarkan bahwa dengan adanya pandemi ini negeri ini tak mengalami resesi tersebut. Terlebih orang nomor satu di negeri ini pun telah mengingatkan hal demikian.
Memang tak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya pandemi ini semua aspek mengenai dampaknya. Aktivitas produksi terpukul sehingga menyebabkan supply shock. Orang-orang kehilangan pekerjaan sehingga menyebabkan demand shock.
Namun hal itu bukan menjadi hal yang tabu dalam sistem buatan manusia ini, pasalnya krisis ekonomi selalu terjadi mengikuti siklus tahunan. Pada 1998 terjadi krisis moneter. Sepuluh tahun kemudian yakni pada 2008, dunia mengalami krisis finansial yang diawali kejatuhan Lehman Brothers. Dan Kini di tahun 2020 krisis ekonomi datang lagi. Yaitu hadirnya wabah corona dan tentu memperparah krisis yang ada.
Bahkan negara sekelas Amerika Serikat saja sudah mengalami puluhan kali resesi. Di lansir dari Investopedia, AS (negara dengan nilai ekonomi terbesar di muka bumi ini) sudah mengalami 33 kali resesi sejak tahun 1854.
Dan semua tahu bahwa kali terakhir Tanah Air tercinta pernah mengalami resesi pada tahun 1998, bahkan sangat dalam, dan ada risiko akan terjadi lagi di tahun ini. Sebabnya, tentu saja pandemi penyakit virus corona (Covid-19) yang membuat roda perekonomian melambat bahkan nyaris terhenti.
Hal inilah yang menjadi potret sistem hari ini, di mana krisis berulang bahkan sampai resesi yang menyebabkan depresi. Disebabkan sistem saat ini memiliki pondasi ekonomi yang rapuh, sebab dibangun dari struktur ekonomi yang semu, yakni ekonomi sektor nonriil. Bukan ekonomi yang sesungguhnya, yaitu ekonomi sektor riil.

Berbeda dengan sistem ekonomi Islam, sistem ini tahan akan krisis karena berdasarkan pada ekonomi riil. Selain itu, pengaturan ekonomi diawali dengan menata pembagian kepemilikan ekonomi secara benar.
Pembagian kepemilikan ini sangat penting agar tidak terjadi hegemoni ekonomi. Yakni pihak kuat menindas yang lemah. Seperti pencaplokan kepemilikan umum oleh swasta, baik asing maupun lokal.
Jika pembagian kepemilikan ini sudah tegas dan benar, sistem ekonomi Islam akan mengatur bagaimana pembangunan dan pengembangan ekonomi yang benar, yaitu harus bertumpu pada pembangunan sektor ekonomi riil dan bukan sektor ekonomi nonriil. Dengan itu insya Allah krisis ekonomi tidak akan terjadi lagi.
Ekonomi Islam menjamin seluruh rakyat Indonesia terpenuhi semua kebutuhan dasarnya. Sistem Ekonomi Islam juga menjamin seluruh rakyatnya dapat meraih pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersiernya.
Demikianlah solusi tuntas Islam dalam menyelesaikan dan mencegah krisis ekonomi. Tidak saling merugikan dan menguntungkan namun berusaha agar tercipta kesejahteraan. Wallahu ‘alam bisshawab