Karya : Nurul Izzah

Ku tak mampu lafalkan kata rindu, karena setiap detiknya kumerindukan dikau. biarlah kuukir nama mu yang syahdu di antara bebatuan ini, biarkan ia menjadi saksi bisu. Semilir hembusan angin menerbangkan debuan padang sahara yang gersang. Di tengah teriknya mentari langkah pijakan ku masih melangkah disini. Tidak bisa kulukiskan bagaimana ketentraman yang aku rasakan ketika berada Di Jazirah ini.
Begitu syahdu… hingga setiap detiknya butiran tasbih terus terucap. Membasuh jiwa yang kering, tubuh yang lunglai dan ayunan langkah yang hampir sejenak ingin menyerah dan kembali. Namun tidak, aku tetap ingin berada disini ada impian luar biasa yang ingin kutukilkan di sini.

Namaku Ahmad Rasyid. Menjadi seorang tahfiz Al-quran yang diberikan kepercayaan sebagai Imam besar mesjidil haram. Disinilah kubersimpuh, menghapus sejenak penatnya duniawi. keberadaan aku disini dikelilingi banyak kekaguman akan panji-panji Islam. Indahnya suasana setiap ukiran dan pahatan lukisan kaligrafi ayat Al-quran yang terpapar disepanjang pintu Ka’bah membuatku terkagum…. tidak sekedar kagum namun disinilah Surga yang tak bisa kulukiskan.. nikmat sungguh nikmat hingga tak kenal kata lelah untuk terus menjelajahi setiap sudut sirat perjalanan kisah sang Rasul.
Malam Ini, dengan kesejukan hembusan angin, ingin sejenak ku lepaskan penat dari beragam aktivitas. Pasti terbayang dibenak kalian bahwa aku akan beristirahat Di kamar yang empuk beralas kasur dan atap yang nyaman, bukan??? tetapi tidak. Aku ingin beristirahat dibawah tenda. Sengaja mendirikan tenda disini dibalik suasana gersangnya padang tandus sepanjang mata memandang, detik berlalu dan ragaku terlelap.

Kutak mampu lafalkan kata rindu, karena setiap detiknya kumerindukan dikau. Biarlah kuukir namamu yang syahdu diantara bebatuan ini, biarkan ia menjadi saksi bisu. Ketika mataku kembali menyapa fajar menunaikan segala kewajiban. Uluran langkahku kembali mendaki… iyaa aku ingin sejenak menikmati syahdunya suasana mentari terbit. Disini diatas bukit ini. Diantara bebatuan Jabal rahmah dengan sejuta kerinduan kepada sosok Zainab yang sangat aku rindukan.
Bagaimana tidak, jarak antara kami tidak hanya beberapa kota. Namun terbentang jarak dari ufuk timur hingga Ke barat. Namun, dijabal rahmah ini kembali aku mentadabburi… begitu syahdu pertemuan antara Nabi Adam dan siti Hawa… aku percaya dan menyakini diketika Khaliq menciptakan jarak, percayalah dipenghujung jalan kehidupan Dia pasti menyiapkan hal mengagumkan yang membuat kita semakin memupuk rasa cinta dalam penantian yang panjang.
Zainab, apabila suatu saat Allah takdirkan engkau menjadi kekasih yang halal untukku, akan kubawa kau kesini, kebebatuan yang hampir setiap saatnya aku goreskan. Apabila engkau ingin membaca suasana hatiku yang mencintaimu, dipojokan sana pasti tetukil dengan rapi. Nanti akan kuceritakan padamu. Bisikan Ahmad dalam hati.
Suasana padang sahara yang gersang begitu menyanyat setiap sendi. Namun, kerinduan akan Tanah Suci ini membuatku semakin nyaman, damai, dan beragam nikmat… dikelilingi setiap jiwa yang suci melantunkan kalimat tasbih, tahmid, dan tahlil… pekikan takbir membuat hatiku semakin membara. Semangat yang sempat padam karena cuaca, kembali kita bangkitkan karena Lillahita’ala.

Bulan berganti dan tahun berlalu… kebiasaan berada Di Jabal rahmah, menukil kata serta beriringan doa untuk Zainab menjadi kebiasaan bagi Ahmad. Namun, dipagi ini, ketika Ahmad mengukir kerinduan kepada Zainab ada rasa yang mengganjal dilubuk hatinya… seakan ada firasat yang kurang baik untuk Zainab. Seakan Zainab akan pergi untuk selamanya dari kehidupan dan kerinduannya.
Entahlah, Ahmad menepiskan segala kekacauan pikirannya. Hingga selepas turun dari Jabal rahmah, dia bergegas kembali ketempat penginapannya. Menghubungi keluarga Zainab ingin memastikan perihal Zainab. Dan…bummm . Handphone di genggaman Ahmad seketika jatuh. Bukan!! bukan dibanting. Melainkan ada kabar yang memilukan, menyesakkan dada, hingga meninggalkan nestapa yang mendalam.
Kini Zainab bukan menjadi sosok yang diidamkan menjadi kekasih halalnya. Karena… kalian tahu?? Zainab…. Zainab telah menghembuskan nafas terakhirnya. Sebelum Ahmad kembali dari Jazirah ini. Zainab pergi… pergi untuk selamanya. Biarlah bebatuan jabal rahmah ini menjadi saksi bisu bagaimana kerinduan dan kecintaan Ahmad kepada Zainab.
Jika memang bukan dunia ini tempat pertemuan kita, in sya Allah kita akan dipertemukan Di jannahnya kelak… sambil memohon seklumit doa untuk Zainab. Disini, dipuncak Jabal rahmah ini. Dan Ahmad kembali beranjak bergegas Ke Mesjidil haram. Mengambil wudhu dan mengerjakan shalat sunah gaib. Berdoa dan mengkhatamkan seluruh ayat Al-quran, dijadikan sebagai wasilah pahala yang dihadiahkan untuk sosok wanita idamannyayYaitu Zainab.
Waktu berjalan semestinya, meskipun tiada sosok Zainab yang Menjadi inspirasi untuk terus berada dijabal Rahmah, Ahmad tetap berada Di puncak sana, setiap saat ketika kerinduannya membuncah… tak sanggup dia bendung kerinduannya selain lewat doa yang terus dipanjatkan untuk Zainab.

Tiba saatnya jadwal untuk kembali ke kampung halaman. Dan dengan berjuta rasanya berat meninggalkan tanah ini. Sedangkan disisi lain ada kerinduan yang tak kuasa dibendung untuk menziarahi pekuburan Zainab. Dan ayunan langkah Ahmad beranjak dari kota padang pasir ini.
Kembali menyapa kerinduan dan duka teramat dalam kepada sosok gadis Zainab yang sekarang sudah pergi untuk selamanya. Ahmad membacakan surah yasin Di pusara Zainab, sambil bercucuran air mata Ahmad merelakan kepergian Zainab. Karena setiap kita pasti kembali, dan saatnya pulang menghadap Sang Khaliq, meninggalkan kerabat dan orang yang sangat kita cintai, bahkan sebelum ikatan yang halal terjalin Zainab sudah pergi untuk selamanya.
Kutakmampu lafalkan kata rindu, hingga bebatuan jabal rahmah menjadi saksi dan Sang rabbi memberimu syurga tanpa hisab. Teruntuk Zainab terimakasih telah hadir dalam hidupku. Hari terus berlalu beriringan dengan langkah, Ahmad kembali beraktivitas disini Di kampung halamannya.
Sekarang Ahmad sudah meresmikan sebuah rumah tahfiz Al-quran. Disinilah hari-harinya dilewati tanpa sosok Zainab yang dulunya menjadi sosok yang selalu mengingatkan Ahmad untuk cepat kembali. Biarlah sekelumit kisah yang begitu menyanyat kalbu ini menjadi sirat yang tertukil rapi untuk Ahmad.
Zainab … alangkah syahdunya suasana rumah tahfiz ini, apabila engkau masih disini. Ada kehampaan yang terus mengganjal. Kehilangan orang yang begitu dicintainya. Namun tidak mengapa biarkan kita Di pertemukan disana…dijannahnyakKelak. Semoga setiap butiran tasbih dan bacaan kalam Suci ini dapat menghembuskan kesejukan angin Syurga di alam barzahmu Zainab.

Seiring berjalannya detik dengan jalan cerita yang pilu ini, kerinduan Ahmad tiada padamnya kepada sosok Zainab. Hingga detik ini belum ada yang bisa menggantikan sosok Zainab di hati Ahmad. Dengan sejuta kerinduan Ahmad kepada Zainab beriringan dengan langkah Ahmad lebih fokus mengembangkan rumah Tahfiz hingga menjadi sosok yang begitu Di impikan oleh kaum wanita. Namun tidak sedikitpun pandangan Ahmad tertarik kepada selain Zainab. Kalian percaya??? aku percaya dan begitu terharu. Bagaimana bisa Ahmad terus mencintai Zainab dalam relung doa.
Kutak mampu lafalkan kata rindu. karena ketika puncak kerinduan yang begitu dalam. Kuhanya mampu mengagungkan kepada pemilik rindu. Biarlah bebatuan Jabal rahmah menjadi saksi bisu bagaimana setiap saatnya aku menukil kisah kita. Kusebut engkau disetiap butiran tasbih, dan kuhadiahkan setiap khatam surah Al-quran untukmu yang damai Di alam sana.