Karya: Warjianah
(Pemalang, Jawa Tengah)

Penerapan teknis pendidikan kali ini di Indonesia berbeda, semenjak wabah pandemi corona masih menyerang negeri ini. Akhirnya kebijakan pembelajaran daring di terapkan, berbagai tanggapan dari para orang tua mulai bermunculan di media sosial, seperti yang di tulis pada akun facebook seorang guru taman kanak-kanak(TK), dia membuat pertanyaan:”apa yang ada di pikiran anda tentang sekolah daring?.” Hampir 100 komentar merespon pertanyaan itu, jawaban yang muncul adalah emosi jiwa, salto, menguji kesabaran, ribet, ruwet, pengeluaran membengkak, dan bikin darting.

Kebijakan ini akhirnya di pertimbangkan kembali. Memunculkan wacana baru seperti yang di ungkapkan Mendikbud Nadiem Makari, ” Untuk SMK maupun perguruan tinggi di semua tempat boleh melakukan praktik di sekolah, yaitu pembelajaran produktif yang menetapkan protokol”.(7/8/20). Namun kembali pembelajaran tatap muka yang akan di perbolehkan membuat Ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Arist Merdeka Sirait memberikan tanggapan bahwa keputusan dari kemendikbud tersebut belum tepat waktunya, mengingat resiko untuk tertular masih ada, terlebih untuk zona kuning.

Kebijakan ini menggambarkan gagalnya mengurus sistem pendidikan, seharusnya sebuah negara harus memastikan terlebih dahulu kapan berhentinya wabah ini. Membuat kurikulum pembelajaran berkaitan dengan musibah yang sedang terjadi sehingga menambah keimanan, negara juga harus menjamin sarana dan prasarana seperti: fasilitas internet yang mudah di akses non bayar, memberikan gagjet secara gratis, memberikan pengarahan kepada orang tua terkait penyampaian materi, Dan negara juga membantu ekonomi emak-emak sehingga emak-emak terfokuskan mendidik anak tanpa memikirkan kebutuhan dapur.