Oleh: Marvha Mirandha
(Aktìvis Mahasiswi)

Totalitas Pemenuhan Pendidikan Dalam Islam, Solusi Peliknya Pendidikan Kini?
Oleh: Marvha Mirandha
(Aktìvis Mahasiswi)

Sejak akhir Maret lalu, puluhan juta murid di Indonesia menerapkan pembelajaran jarak jauh atau daring demi mengurangi dampak pandemi COVID-19. Namun, riset terbaru dari Inovasi Untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) mendapati bahwa program tersebut tak diwujudkan dengan baik di lapangan. (Asumsi.co)

Beragam kisah kita dapati terjadi dilapangan, sampai kisah yang viral di media sosial, salah satunya adalah kisah dari Dimas Ibnu Elias. Semangat belajar Dimas Ibnu Elias ini layak diacungi jempol. Bagaimana tidak, karena tidak punya HP, setiap hari ia memutuskan tetap berangkat ke sekolah. Setiap hari ia berangkat dari rumahnya di Desa Pantiharjo, Kecamatan Kaliori, Rembang, Jawa Tengah, dengan diantar ibunya. Pulangnya ia diantar seorang guru sampai ke rumahnya. “Barangkali, bagi keluarganya, beras jauh lebih dibutuhkan daripada ponsel pintar dan kuota internet,” kata Kepala SMPN 1 Rembang Isti Chomawati, Kamis 23 Juli 2020.(PortalJember.com)

Tak bisa dipungkiri, pendidikan memang belum bisa merata di negeri tercinta ini, terlebih dalam kondisi saat ini, dimana untuk kebutuhan dasar berupa pangan saja susah dipenuhi, maka kebutuhan akan pendidikan menjadi begitu susah dipenuhi bagi rakyat kurang mampu. Pembangunan infrastruktur yang begitu mengagumkan pun belum dapat berbuat banyak untuk menyumbangkan sumbangsihnya dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyat, baik berupa pangan maupun papan.

Alhasil ketika tiba tiba kondisi pandemi ini terjadi, banyak orang tua yang mengeluhkan keadaan ini. Pembelajaran yang harua terus berlangsung ditengah pandemi dengan jarak yang jauh tentu membutuhkan beberapa sarana seperti telekomunikasi dan penyediaan jaringan, namun hal inipun belum bisa secara mudah didapatkan oleh rakyat. Ditengah banyaknya masyarakat yang masih kebingungan untuk menutupi biaya kebutuhan sehari hari, tak ayal pendidikan menjadi kebutuhan yang akan dinomor sekiankan.

Ibnu Elias hannyalah salah satu contoh anak bangsa yang demi memperoleh pendidikan dan pembelajaran yang mumpuni harus melakukan pengorbanan. Di negeri tercinta ini mungkin masih banyak yang bernasib serupa dengan Ibnu Elias, namun masih belum kita ketahui. Pendidikan adalah salah satu aspek penting bagi manusia, ia merupakan sebuah modal berharga untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah. Maka wajar jika pendidikan ini menjadi hal yang harusnya didapat oleh seluruh rakyat tanpa pengecualian dan dengan pemenuhan fasilitas yang sebaik baiknya.

Pendidikan dalam islam merupakan salah satu kebutuhan rakyat yang harus dipenuhi negara selain dari sandang, pangan, papan, kesehatan dan keamanan yang harus dipenuhi oleh negara tanpa terkecualipun. Maka jika kita berkaca pada sejarah dimana sistem islam diterapkan secara sempurna akan kita dapati pemenuhan pendidikan bagi rakyat dengan kualitas yang sangat baik hingga bidang keilmuan mampu berkembang pesat dan menjadi tolak ukur peradaban dunia. Pada masanya muslim mampu menjadi panutan dunia dalam segala hal. Tujuan utama pendidikan dalam islam adalah menetapkan pendidikan yang bisa membangun kepribadian Islami degan aqliyah dan nafsiyah yang kuat.

Berikutnya, khalifah akan mengembangkan kurikulum dalam bentuk yang bisa mengembangkan metode pemikiran, pemikiran analisis dan hasrat pada pengetahuan untuk meraih pahala dan keridhaan Allah SWT. Maka, dalam islam pendidikan gratis dan segala sarananya bukanlah hal yang tidak mungkin dipenuhi. Pembiayaan untuk pendidikan akan diambil dari baitul mal, jika baitul mal habis maka negara akan meminta sumbangan sukarela pada kaum muslim yang mampu, atau jika ini belum bisa memenuhi maka negara akan menarik pajak itupun hanya pada pihak yang dirasa berkecukupan dan mampu untuk dikenai pajak, bukan hanya itu para pengajar pun akan diberi gaji yang sangat memadai, serta pembangunan fasilitas pendidikan yang dijamin oleh negara. Maka wajarlah jika pada masa keemasan itu muncul banyak ilmuwan sekelas Ibnu Sina, Al Kindi, Al Khawarizmi serta banyak lagi yang lain yang menjadi acuan dalam peradaban dunia.