Oleh: Ummu Huwaida
(Ibu Rumah Tangga dan Pemerhati Pendidikan)

Virus Covid19 memang membuat banyak pihak kewalahan. Pasalnya virus yang muncul di Wuhan ini dengan cepat menyebar hampir keseluruh dunia. Maka, tak ayal banyak pihak mengusahakan yang terbaik untuk menangani virus ini. Pakar kesehatan dan perusahaan obat dari seluruh dunia mencari cara dan upaya untuk menemukan vaksin SARS-CoV-2 secepat mungkin. Salah satunya adalah perusahaan Sinovac asal Beijing, Tiongkok.

Sinovac merupakan salah satu dari empat perusahaan dunia yang melakukan pengembangan tahap akhir vaksin Covid-19. Sinovac sendiri sudah berpengalaman dalam pengembangan vaksin beragam virus yang menjadi epidemi maupun pandemi, seperti SARS, flu domestik, maupun flu yang disebabkan virus H1N1. (Kompas.com)

Pengembangan vaksin virus corona buatan Sinovac tersebut telah memasuki fase uji klinis tahap tiga. Bahkan, Indonesia menjadi salah satu tempat uji klinis vaksin tersebut. Nantinya uji klinis tahap tiga akan dilakukan di Bandung mulai Agustus mendatang selama enam bulan, bekerja sama dengan Universitas Padjadjaran. Uji klinis ini akan melibatkan sebanyak 1.620 relawan yang berusia 18-59 tahun, dan berlokasi di enam titik yang telah ditentukan di Kota Bandung.(viva.co.id)

Anggota Komisi IX DPR, Fraksi PKS, Netty Prasetiyani Aher meminta kepada pemerintah untuk transparan melakukan uji tahap klinis tersebut. Sebab beberapa bulan sebelumnya, ditemukan vaksin yang diproduksi China di bawah standar WHO.(warta ekonomi.co.id)

Tentu bukan tanpa alasan jika pemerintah Indonesia lebih memilih menggandeng China untuk bekerja sama dalam proyek pengadaan vaksin covid19 ini. Mesranya hubungan antara kedua negara tersebut dan gambaran keuntungan yaitu dengan adanya proses transfer ilmu pengetahuan dan pengalihan teknologi yang dilakukan Sinovac kepada Bio Farma akan bisa memperkuat Indonesia untuk menciptakan vaksin sendiri dalam waktu dekat menjadi alasan adanya kerja sama ini. Padahal kalau melihat sejarah, pengembangan vaksin di China memiliki masa lalu yang buruk. Selain itu Indonesia juga seolah-seolah dijadikan sebagai kelinci percobaan dari kepentingan beberapa perusahaan farmasi raksasa. Sebagaimana diketahui perusahaan farmasi ini juga menggandeng salah satu perusahaan asuransi PT Asuransi Umum Bumi Putera Muda 1967 (bumida) untuk mengasuransikan para relawan uji vaksin.

Demi ambisi meraup keuntungan para pengusaha tidak segan segan untuk melakukan berbagai cara termasuk melakukan hal2 berbahaya yang menyangkut nyawa manusia, dengan menjadikannya sebagai kelinci percobaan untuk barang barang produk mereka. Mereka berusaha membuat vaksin karena disana ada kepentingan ekonomi, keuntungan , inilah watak asli kapitalisme , tidak ada sesuatu yang gratis , manfaat materi dijadikan sebagai asas dalam melakukan perbuatan, hasilnya vaksin yang seharusnya untuk kesehatan rakyat pun akan dipolitisasi agar mendapat keuntungan sebesar besarnya

Berbeda dengan Islam, yang akan melakukan penelitian untuk menemukan vaksin demi mencegah dan menyembuhkan agar rakyat tidak sakit , tanpa pertimbangan apapun selain untuk melindungi rakyat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw:
“Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan. (HR. Al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Imam yang mampu memberikan perlindungan kepada umatnya hanyalah Kholifah karena Kholifah akan menjalankan pengaturan urusan rakyat berdasarkan syariat Allah yaitu syariah islam kaaffah. Maka degan diterapkannya hukum Allah ini keberkahan akan tercurah dibumi dan kesehatan ummat akan lebih terjamin sebagai tanggung jawab yang harus dipenuhi sang kholifah untuk setiap rakyat tanpa mementingkan keuntungan materi semata. Wallahu ‘alam bis showwab