Oleh: Yuyun Rumiwati

Allah banggakan hamba-Nya yang saling berkunjung karena-Nya. Bangkan Allah sampaikan salam cinta-Nya lewat makhluk mulya. Dialah Malaikat yang menyampaikan salam bagi mereka yang mengunjungi saudaranya, “salam Allah mencintai karena engkau telah mengunjungi saudaramu karena-Nya semata, bukan karena ada urusan dunia atau perniagaan. Tapi karena niat tulus mencintai karena Allah. Hubbu Fillah. Sebagaimana hadist Rasulullah,
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أنَّ رجلًا زارَ أخًا لَهُ في قريةٍ أخرى ، فأرصدَ اللَّهُ لَهُ على مَدرجَتِهِ ملَكًا فلمَّا أتى عليهِ ، قالَ : أينَ تريدُ ؟ قالَ : أريدُ أخًا لي في هذِهِ القريةِ ، قالَ : هل لَكَ عليهِ من نعمةٍ تربُّها ؟ قالَ : لا ، غيرَ أنِّي أحببتُهُ في اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، قالَ : فإنِّي رسولُ اللَّهِ إليكَ ، بأنَّ اللَّهَ قد أحبَّكَ كما أحببتَهُ فيهِ

_“Pernah ada seseorang pergi mengunjungi saudaranya di daerah yang lain. Lalu Allah pun mengutus Malaikat kepadanya di tengah perjalanannya. Ketika mendatanginya, Malaikat tersebut bertanya: “engkau mau kemana?”. Ia menjawab: “aku ingin mengunjungi saudaraku di daerah ini”. Malaikat bertanya: “apakah ada suatu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?”. Orang tadi mengatakan: “tidak ada, kecuali karena aku mencintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla”. Maka malaikat mengatakan: “sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya“ (HR Muslim no.2567)._

Lalu bagaimana, jika faktanya sambil menyelam minum air. Maksudnya karena berjualan akhirnya mengungi. Atau mengunjungi sambil berjualan. Yang kita kembalikan mana yang lebih mendominasi dan utama yang mendorong kita untuk mengunjungi?. Jualannya atau sunah mengunjungi saudara? Jika ternyata semua terpadu. Berjualan karena Allah. Dan mengunjunginya pun karena Allah. Bukan semata unsur perniagaan. Allah maha tahu dengan segala kemurahan-Nya. Tak kan pernah ada sebiji sawi kebaikan.yang tak tercatat dalam raport kita. Karenanya sungguh rugi andai kita hanya hobbi mengurung diri. Dan enggan saling berkunjung.

Dengan berkunjung kita kita akan belajar:

Pertama: Memahami
Jika tak kenal maka ta’aruf. Jika sudah saling kenal saja tentu tidak cukup bagi kita untuk tahu secara detail kondisi saudara kita. Dengan berkunjung kita akan lebih dekat mengenal bagaimana kondisi saudara kita, karakternya atau bahkan kebutuhannya, yang memungkinkan kita bisa saling membantu.

Dengan pengenalan lebih dekat inilah kita bisa memahami kondisi saudara kita. Sehingga tak mudah menyimpulkan dangkal dari permukaan. Apalagi sampai menyimpulkan dari berita yang tak terpercaya. Padahal kita bekum faham kebenaran berita tersebut.

Sikap saling memahami ini amat diperlukan terlebih untuk menjalin kekuatan ukhuwah di tengah umat. Baik antar individu, terlebih antar gerakan dakwah.

Dengan saling mengunjungi ini upaya pecah belah yang dirancang musuh Islam akan gagal. Mengingat antar umat dan gerakan sudah saling mengenal dengan dekat bagaimana hakikat perjuangan saudaranya. Bahkan bagaimana karakter dan akhlak hakikat saudaranya secara dekat.

Kedua: Saling menguatkan

Sesama muslim ibarat bangunan saling menguatkan. Bukan sebaliknya saking menjatuhkan karena ada sifah hasud dan dengki.

Dengan saling mengunjungi dan memahami sikap saling menguatkan dan mengokohkan akan terbentuk. Segala penyakit hati iri, dengki, hasat, hasut dan su’udzan akan sirna.

Upaya saling mengokohkan ini penting mengingat upaya musuh Islam untuk melemahkan daya juang dan membelokkan dari fokus perjuangan juga kuat. Baik lewat, finansial, jabatan maupun yang lain.

Dan yang harus kita yakini bahwa kekuatan persatuan antar kaum mukmin adalah karunia terbesar Allah. Karena tak layak jika kita sudah merasa mempersatukan dan paling berjasa. Sikap ini haris terus dibersihkan dengan Istighfar dan tetap fokus pada hal yang utama yaitu agenda kebangkitan umat

Ketiga: Saling memudahkan

Barang siapa yang memenuhi kebutuhan orang lain yang akan menolongnya.

Keempat: Saling mendoakan

Minta doa adalah sunah. Bahkan mendoakan tanpa sepengetahuan saudara berbuah doa dari malaikat sesuai doa orang tersebut.

Jika sudah terjalin saling kenal, saling faham, saling menguatkan, saling membantu serta mendoakan. Maka sebenarnya inilah buah cinta karena Allah. Cinta ini akan melembutkan hati pelakunya. Jika hatinya lembut maka mustahil muncul sikap keras mengecam, menuduh bahkan merendahkan saudara.

Demikianlah seharusnya saling mengunjungi ini menjadi budaya di tengah umat. Terlebih pengemban dakwah. Andai saat ini kendala Pandemi sulit berlama-lama ketemu. Setidaknya jika dengan protokol ketat bisa berkunjung. Berkunjung walau singkat tentu lebih baik. Andai belum memungkinkan setidaknya menyapa lewat smartphone bisa dilakukan.

Ikatan hati antar umat inilah yang mempermudah datangnya pertolongan Allah untuk persatuan dan kebangkitan umat. Aamiin