Oleh : Ummu Hafidz ( Anggota Komunitas Setajam Pena )

Cerita ini kutulis tatkala engkau disayang Allah. Coretan-coretan kutuangkan diatas kertas untuk mengenangmu, tapi apa daya mata ini tidak mau diajak kompromi, berderai air mata jatuh tak terbendung lagi. Kini kukuatkan lagi untuk menulis tentangmu yang telah berada dipangkuan Sang Ilahi.

Masih segar dalam ingatanku kala itu. Dalam hati ingin bersilaturahmi ke rumahmu. Kuambil baju jilbab, kerudung dan kaos kaki dan kupakai. Degan menaiki sepeda motor kesayangan, kutelusuri jalan menuju rumahmu.

Sampai tujuan kuparkirkan sepeda motorku dan mengetuk pintu

“Assalamualaikum” kataku. “Waalaikumsalam” jawabmu. “Ayo masuk, tumben, ada angin apa yang membawamu kesini?”

Kami memang sudah lama tidak jumpa karena kesibukan sebagai ibu rumah tangga, pedagang, dan menuntut ilmu

“Tidak ada apa-apa, hanya ingin main-main dan kangen sama bude”

Memang aku panggil kakakku dengan sebutan bude dan suaminya pak puh, untuk megajari anak-anak saya saat memanggil kakakku. Akhirnya lambat laun terbiasa memanggil mereka pak puh dan bude.

” O ya sedang masak apa bude? Sepertinya enak, nih”

Saat itu kami berdua berada di dapur dan bude sedang memasak.

” Ini, sedang masak sayur asam, goreng pindang, dan sambel terasi, kesukaan pak Puh, selesai ini yuk kita makan sama-sama” kata bude.

“Wah,terima kasih atas penawarannya tapi sayangnya aku, sudah kenyang karena sebelum ke sini tadi sudah sarapan” kataku.

Setelah selesai memasak, kita keruang keluarga, kita ngobrol-ngobrol dan bersendau gurau. Aku lihat wajah bude ada rasa tidak enak. Aku bertanya ” kenapa kelihatan murung bude?” bude berkata “ini lho, tetangga kami ada yang sedang sakit parah dan sering tidak sadarkan diri”

“Inalilahi wainnailaihi rojiun, ini menjadi pembelajaran buat kita, suatu saat kita meninggalkan dunia ini. Apa yang kita bawa? Amal soleh, kalau kita tidak punya amal soleh, padahal kelak kita dimintai pertanggungjawaban”

Kulihat bude merenung mendengarkan ucapanku barusan dan ia berkata “ya, bagaimana lagi, aku seperti ini. Namun, aku tidak pernah meninggalkan solat lima waktu juga ikut yasinan.”

“Iya, salat itu kewajiban muslim tapi apa cukup hanya menjalankan salat saja? Coba kita renungkan. Begini bude, saya ibaratkan seperti pedagang. Kalau kita salat sehari semalam lima kali dalam satu kali solat lima menit dikali lima sama dengan dua puluh kita menit. Namun, masih ada kewajiban yang lainnya, misalnya menutup aurat. Jika kita di luar rumah tanpa menutup aurat selama enam jam itu berarti kita kita sudah berbuat dosa selama enam jam itu juga. Nah, kalau dihitung dosa kita enam jam sedang kita solat dua puluh menit, kita akan rugi atau untung? Pastinya jelas kita rugi. Maaf bude, kenapa sampai sekarang bude saat ini belum menutup aurat?”

bude menjawab “kalau berkerudung aku pusing, keluar keringat dingin, masuk angin dan mau muntah. Aku belum siap berkerudung”

“Dicoba dulu bude, Insyaallah lambat laun nanti terbiasa.” kemudian aku pancing dengan kata-kata

“Apa bude sayang suami, anak laki-laki, juga bapak?”

“Ya jelas to sayang, sama keluarga kok tidak sayang” jawabnya sambil menggerutu.

“Taukah bude, muslimah yang tidak menutup auratnya akan menjerumuskan bapak, suami, anak laki-laki masuk kejurang neraka.”

kata bude “sebenarnya ngajimu itu ngaji apa? kok aneh-aneh saja.”

Bude kelihatan penasaran. Dengan pelan-pelan aku mulai menjelaskan. Ngaji saya itu ngaji pemikiran, merubah pemikiran kufur ke pemikiran Islami. Kalau bude penasaran ikut aku ngaji, biar paham dan tidak berpikiran aneh-aneh seperti yang lainnya.

Alhamdulillah, dengan kesabaran dan telaten mengikuti pengajian, lambat laun pemahaman tentang Islam semakin menancap pada diri bude. Dengan kesadaran sendiri tanpa didoktrin sudah menutup auratnya. Selain ngaji seminggu sekali, bila ada kegiatan misalnya ada acara di Surabaya, Jakarta, dan lain-lain ia selalu ikut menghadiri. Pengorbanannya luar biasa, baik tenaga, waktu, harta. Tidak terasa lebih sepuluh tahun aktif ikut pengajian.

Suatu hari Allah menguji dengan sakit. Alhamdulillah keluarga dan teman-teman ngaji seperjuangan memberi motifasi dan dukungan sehingga bude kuat menghadapi ujian. Walaupun tidak bisa mengikuti pengajian, karena kondisi yang tidak memungkinkan, bude berkata “walaupun saya lama tidak ikut ngaji, aku tidak mau keluar dari pengajian dan tidak mau dikeluarkan dari pengajian” itu adalah kata-kata bude dalam kondisi parah, masih mengingat kewajiban menuntut ilmu. Ini yang membuat aku menangis, tidak kuasa meneruskan tulisanku saat itu.

Pada bulan puasa kemarin hari jum’at, minggu terahir bude mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit. Semoga husnul khotimah. Aamiin.

Pesanku untuk saudara-saudara seperjuangan, selagi Allah masih memberi kesempatan menghirup udara, mari tingkatkan amal soleh dan semangat memperjuangkan syariat Islam.