Oleh : Nuri Ratna Sari Siahaan
Kelompok 64 KKN-DR UINSU
(Mahasiswa UINSU)

Adanya pandemi virus covid-19 ini telah berdampak pada semua bidang dan lini kehidupan, terutama pada bidang pendidikan. Kini sistem pendidikan tengah dirubah untuk sementara dikarenakan untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Sistem daring (dalam jaringan) kini menjadi andalan, namun banyak sekali permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran. Nyatanya sistem daring ini membawa kabar buruk bagi mereka yang ekonominya di bawah rata-rata, karena untuk makan saja mereka kesulitan ditambah lagi beban untuk mempunyai hp dan kuota sebagai alat yang dibutuhkan saat belajar daring. Tentu ini akan menambah beban tersendiri bagi orang tua.
Nyatanya sistem daring ini bukanlah solusi tuntas bagi dunia pendidikan. Banyak sekali permasalahan-permasalahan yang kian hari kian bertumpuk dan tak kunjung ada titik terangnya. Belum lagi masalah sinyal. Belajar daring di sekolah yang berada di perkotaan adalah hal yang lumrah dan jaringannya pasti lebih bagus, namun pernahkah kita memikirkan nasib siswa yang rumah atau sekolahnya berada di plosok daerah yang sangat kesulitan memperoleh sinyal.

“Hampir 70% murid mengalami kendala. Adapun permasalahan yang dihadapi berbeda mulai susah sinyal, tidak memiliki gawai atau komputer dan sejumlah permasalah lainnya sehingga untuk mengakses internet jadi sulit,” kata Bahron kepada wartawan, Selasa (28/7/2020). Para siswa di beberapa desa di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur contohnya. Mereka harus berjuang ekstra keras untuk mencari koneksi internet agar bisa belajar secara daring. Setiap pagi, beberapa siswa SD Inpres Lewokoli, di Desa Aransina, Kecamatan Tanjung Bunga harus berjalan kaki lebih dari satu jam untuk mencari satu-satunya titik lokasi yang ada koneksi internetnya.
Seperti yang terlihat pada Kamis (16/4). Gabriel, siswa Kelas 4 SD Inpres Lewokoli, bersama beberapa siswa lainnya berangkat pukul 08.00 WITA. Tidak mudah untuk mencapai titik lokasi tersebut, lebih-lebih jika turun hujan. Butuh perjuangan ekstra dan kehati-hatian karena jalanan licin dan dipenuhi semak belukar. Begitu tiba di lokasi, mereka mulai mencari posisi, lalu menghidupkan telepon seluler dan mulai mengakses internet. Mereka langsung belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan guru secara daring.

Begitulah sebenarnya realita saat belajar daring. Jika tolak ukur keberhasilan belajar daring di sekolah yang berada di perkotaan maka bisa jadi memperoleh hasil yang baik, namun bagaimana dengan mereka yang berada di plosok daerah yang harus berjuang sekuat tenaga hanya untuk memperoleh sinyal saja. Dan itu masih persoalan seputar sinyal, belum lagi persoalan lain.
Kemanusiaan di atas segalanya, tampaknya ungkapan tersebut tercermin dalam sikap penegak hukum Kejaksaan Negeri Garut, yang dipimpin Sugeng Hariadi. Tepat dua hari yang lalu, Sugeng mendengar sebuah laporan pelanggaran hukum yang membuatnya terenyuh. Ketika ada seorang bapak terpaksa mencuri ponsel demi sang anak agar dapat mengikuti sekolah daring. (Liputan6.com, Jakarta). “Saya mendengar hal itu lalu saya perintahkan jajaran saya untuk mencari keberadaan bapak tersebut, benar tidaknya mencuri HP untuk anaknya supaya bisa sekolah online,” kata Sugeng saat berbincang dengan Liputan6.com, Selasa 5 Agustus 2020, malam.

Sungguh sangat menyayat hati ketika mendengar berita bahwa seorang ayah rela mencuri hp agar anaknya bisa belajar daring. Pencurian memanglah sebuah tindak kriminal, namun dalam Islam hal tersebut harus diselidiki terlebih dahulu mengapa bapak tersebut sampai nekat mencuri. Dan setelah ditelusuri bahwa sangat memprihatinkan anak dari bapak tersebut belum pernah ikut belajar daring saat pandemi ini karena berasal dari keluarga kurang mampu.

Beginilah potret pendidikan masa pandemi ini, bukan malah menjadi wadah pencetak generasi malah menjadi carut marut seperti sekarang. Visi dan misi pendidikan pun jauh dari kata keberhasilan. Di sini peran pemerintah sangat dituntut dalam memberikan solusi pendidikan saat ini. Jika memang tidak ada kelanjutannya, maka bisa menciptakan generasi yang jauh dari pendidikan dan ilmu karena untuk belajar saja para siswa sangat kesulitan mulai dari jaringan, kuota internet yang mahal, serta hp yang sangat dituntut harus punya.
Seperi dilansir dari Tribunnews.com, kisah Mpok Ida, pinjam HP dan ngutang ke tetangga beli kuota Internet agar anaknya bisa belajar. “Beliin pulsa untuk internetnya itu juga pinjam uang”, ujar Ida saat dijumpai Wartakotalive di kediamannya, Rabu (15/7/2020). Dalam sehari Ida hanya memperoleh 20.000 dari hasil menjual plastik sampah itu.
Miris sekali ketika mendengarkan keluh kesah masyarakat yang mengeluhkan masalah saat belajar daring bahwa jika memang pemerintah memberlakukan pembelajaran daring maka seharusnya pemerintah juga yang harus memfasilitasi sepenuhnya, bukan lagi menambah beban orang tua yang ekonominya kian hari kian menurun drastis di masa pandemi saat ini. Sebaiknya kebijakan belajar online dari kementrian pendidikan tidak hanya ditelan semuanya alias dipaksakan untuk dikerjakan, harusnya diteliti terlebih dahulu kesanggupan dari orang tua dan anak murid serta keluarganya dari setiap lapisan masyarakat. Ekonomi kian sulit, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari tidaklah mudah, dtambah lagi dibebani dengan memaksakan diri membeli hp dan paket data yang tidaklah murah.

Sungguh miris dunia pendidikan saat ini, sungguh belajar daring memiliki kontroversi tersendiri. Orang tua rela melakukan apapun agar anaknya tetap bisa belajar daring, ada yang rela mencuri, hutang pada tetangga. Seakan orang tua dipaksa dan pemerintah menyapu rata belajar daring ini. Siswa di perkotaan pastinya memperoleh fasilitas yang memadai, namun bagaimana dengan nasib siswa yang di plosok daerah? Mereka ada yang belum pernah belajar daring karena tidak memiliki hp, ada juga yang rela pergi ke suatu tempat demi mendapatkan jaringan. Perjuangan mereka sungguh keras berbeda dengan mereka yang di kota.

Untuk itu, sangat diharapkan pada pemerintah untuk tidak berlepas tangan serta tanggung jawab terhadap sistem pembelajaran daring saat ini. Jika memang sistem daring yang diandalkan maka pemerintah juga harus siap dalam memfasilitasi segala kebutuhan belajar daring ini, yaitu dengan memberikan fasilitas terbaik pada setiap lapiasan masyarakat baik di kota maupun desa pedalaman. Jika memang tidak ada tindakan dari pemerintah yang membantu dalam belajar daring maka dapat dipastikan generasi yang dihasilkan jauh dari harapan bangsa yaitu menjadi penggerak peradaban.
Peran pemerintah sangat dinanti oleh segala lapisan masayarakat. Kebijkan pemerintah sangat ditunggu dalam menuntaskan persoalan pendidikan di masa pandemi saat ini yang sangat carut marut. Negara harusnya memberikan pelayanan pendidikan terbaik pada generasi sebagai tonggak peradaban. Dalam Islam, negara akan menyediakan layanan pendidikan, sarana dan prasarana sebagai pendukung proses pendidikan dengan pelayanan yang terbaik serta melayani kebutuhan pendidikan pada rakyat secara menyeluruh tanpa ada diskriminasi antara si kaya dan tidak dengan memperoleh kualitas yang sama.