Oleh: Neneng Kartika Rini , S.P,.,M.P
IRT, Dosen, Wirausaha

Melihat kasus positif Corona yang bertambah dari hari ke hari, tidak sedikit yang meninggal dunia, tidak sedikit pula yang dinyatakan negatif akhirnya sembuh. Data Jumat (14/8) ada penambahan kasus sebanyak 2298 sehingga total kasus Covid 19 menjadi 135.816, Jumlah pasien sembuh 89.786 dan total kasus meninggal 5.976 orang. Kondisi sejumlah Puskesmas dan Rumah sakit di berbagai daerah terpaksa menutup sementara layanan kesehatan karena tenaga medisnya dinyatakan positif Covid 19. Di sisi lain, kapasitas fasilitas kesehatan yang tersedia tidak bisa mengakomodasi pasien ditengah tren peningkatan kasus yang semakin meningkat. Rumah sakit banyak yang terpaksa harus membatasi layanan, karena petugas medis yang harus diistirahatkan, banyak yang dirawat, dan harus mengurangi jadwal bekerja (BBC News Indonesia 12/08).
Direktur Jenderal Pajak Kementrian Keuangan (Kemenkeu) Suryo Utomo mengungkapkan tiga dampak besar pandemi Covid 19 terhadap Perekonomian Indonesia sehingga masuk masa krisis, yang menghantam indonesia bagaikan sebuah perfect storm. Covid 19 membuat konsumsi rumah tangga atau daya beli yang merupakan penopang 60% terhadap ekonomi jatuh cukup dalam, sesuai dengan data BPS bahwa konsumsi rumah tangga turun dari 5,02% pada kuartal 1 2019 ke 2,84% pada kuartal 1 tahun ini. Pandemi menimbulkan adanya ketidakpastian yang berkepanjangan sehingga investasi ikut melemah dan berimplikasi pada terhentinya usaha. Dunia mengalami pelemahan ekonomi sehingga menyebabkan harga komoditas turun serta ekspor indonesia ke beberapa negara terhenti (Republika.co.id).

Sisi lain sektor ketenagakerjaan yakni meningkatnya jumlah pengangguran dan perubahan landskap pasar tenaga kerja pasca krisis. Banyak pekerja yang dirumahkan atau diberhentikan (PHK) karena terhambatnya aktivitas perekonomian, tercatat 39.977 perusahaan di sektor formal yang merumahkan pekerjanya dengan data lapangan terlihat bahwa tingkat pengangguran terbuka meningkat 4,99% menjadi 6,65% pada maret 2020.(Kompas.com) .
Kembali ke PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan Kembali Ke sosialisasi AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru ), selalu solusi yang diberikan pemerintah seolah habis cara bagaimana untuk bisa mengatasi wabah covid ini. Contoh kasus di Kota Bogor yang masih menerapkan PSBB hingga September 2020, hal ini diputuskan hasil evaluasi terhadap deteksi penyebaran transmisi lokal serta munculnya cluster baru covid 19 di rumah sakit dan rumah tangga.
Resensi teknikal tengah menjadi ancaman di depan mata. Bukan hanya pertumbuhan minus selama 2X berturut-turut. Namun juga karena Fakta di lapangan masyarakat tidak mendapatkanjalan keluar untuk memenuhi kebutuhan bila terus PSBB. Solusi menjaga kesehatan pun harus antisipasi oleh sebelah sisi, jaminan untuk tenaga medis tak kunjung hadir yang pada akhirnya ikut terpapar juga. Keluarga dan perempuan benar-benar kesulitan memenuhi kebutuhan, yang ujung-ujungnya kembali pada pertanian subsiten yang harus memenuhi kebutuhan hasil tani nya sendiri, sulit untuk menjual hasil panen karena daya beli masyarakat yang menurun, sebab kehilangan pekerjaan juga suami mereka dari tempat kerjanya karena dirumahkan. Tak sedikit juga kaum wanita yang mengais rezeki dengan aktivitas ekonomi kreatif apaun dikerjakan demi mendapatkan pemasukan, yang sebetulnya itu solusi tambal sulam. Sehingga nyata sat ini bahwa sanya masyarakat sudah dan harus berdamai dengan Virus Corona, yang kuat akan bertahan, dan yang lemah akan binasa.

Manusia sebagai makhluk sosial tentunya mengalami gagap tradisi dengan adanya kegiatan berkumpul dan berinteraksi, yang biasanya ramai dengan konser, undangan pernikahan yang campur baur, terbatasi dengan adanya Corona. Kebiasaan berjabat tangan antara sesama lawan jenis terbatasi karena adanya Corona, aktivitas ibu rumah tangga yang juga bekerja , kini full dan focus di dalam rumah dengan kegiatan PJJ putra-putrinya. Corona mampu mengubah kebiasaan bebas tanpa batas, menjadi ke keadaan serba terbatas. Yang Kita kenal dengan pola kehidupan New Normal atau AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru)
Sahabat fillah, kita sering mendengar kata hijrah. Seperti hijrah cinta, artis hijrah, preman hijrah, komunitas hijrah, pemuda hijrah. Kata hijrah bukan sesuatu yang asing di telinga kita.

Menarik kondisi yang kita alami di masa Covid ini bahwasanya manusia diuji oleh Allah SWT untuk dapat merenungi dan mengevaluasi diri atas pola kehidupan yang sudah kita lakukan sebelum datang Corona. Hampir semua altivitas yang kita lakukan tidak sesuai dengan hukum yang Allah turunkan , aktivitas yang melampai batas manusia , bermaksiat kepadanya, gaya hidup bebas tanpa batas. Bisa jadi pada Kebiassan baru / New Normal itu kita lebih semakin hidup bersih, menjaga asupan makanan, menjaga jarak, lebih kreativ, lebih sering berkumpul bersama keluarga. Namun demikian perlu kiranya Hijrah total dan tidak setengah-setengah perlu kita mulai saat ini. Hijrah berpindah dari kondisi tidak baik, menjadi kendisi yang lebih baik. Hijrah dari tempat yang tidak baik ketempat yang lebih baik. Hijrah dari gaya hidup seenaknya menjadi lebih teratur. Bukan kah Corona sudah banyak memberikan pelajaran kepada kita semua? Hijrah yang dibantu dengan kekuatan sistem yang mengarahkan masyarakat pada kehidupan yang lebih baik, lebih berkah akan lebih efektif dibandingkan dengan solusi prefentif yang dilakukan secara mandiri/ individu per individu.

Melihat permasalahan yang karut-marut diatas sebab upaya mengatasi Corona yang menimpa bangsa ini, perlu kiranya kita berbenah hijrah dari aturan yang digunakan dengan aturan kapitalis sekuler untuk kembali kepada aturan sesuai dengan Islam. Sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT bagi orang-orang yang berani hijrah dalam : “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang mujairin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni’mat) yang mulia. (Qs. Al-An’fal, 8:74) . Adanya Jaminan dari Allah SWT berupa ampunan dan Nikmat yang mulai (berlipat dan Besar, tidak pernah terputus, dan berbagaimacam). Juga dalam Q.S At-taubah ayat 20 , sebagai berikut : “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan “(Qs. At-Taubah, 9:20), yakni jaminan Allah SWT berupa ketinggian derajat dan keselamatan bagi orang-orang yang berani hijrah secara Total. Sebagaiman Rosulullah dan para Sahabatnya dengan petunjuk Allah SWT siap melakukan hijrah dari Mekah ke Yastrib/ Madinah untuk semakin menyebarluaskan agama Islam dan meninggikan kalimat Laa Illahailallah.Dengan segala keberanian meninggalkan harta merka, mengorbankan jiwa mereka Untuk hijrah dan bejuang menegakkan kalimat Lillah. Di awal tahun Hijriah 1 Muharam yang sebentar lagi akan kita songsong, mari berbenah dan lakukan hijrah totalitas tidak setengah-setengah untuk kebaikan dan keselamatan bangsa dengan kembali kepada Kehidupan baru yang berdasar pada Perdaban Islam yang insyaallah membawa kita pda keselamatan baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Wallahualam Bishawab