Oleh: Desi Wulan Sari

Kondisi ekonomi saat pandemi sedang morat-marit. Seakan terhentak dari tidur panjangnya yang dibuai oleh kemegahan dunia euforia kapitalis, tiba-tiba mereka dihantam badai resesi akibat pandemi membuat kondisi perekonomian kian terpuruk. Ekonomi yang tidak nberjalan karena pembatasan gerak masyarakat, serta merosostnya pemasukan para korporasi besar dunia tidak mampu lagi mengatasi kondisi ini. Akibatnya banyak PHK dimana-mana, pengangguran bertambah, kemiskinan semakin merajalela, bahkan tingkat kematian akibat tidak terpenuhinya kebutuhan makan sehari-hari juga terjadi.

Akibat kondisi ekonomi yang semakin terpuruk, maka bukan saja laki-laki yang bekerja mencari nafkah, tetapi para perempuan pun terpaksa keluar untuk bekerja dalam membantu mencari nafkah keluarganya. Lihatlah pekerjaan yang mereka lakukan sudah tidak lagi melihat hukum syara. Karena pemerintah tidak membuka lapangan kerja bagi rakyatnya, sehingga para perempuan bekerja dengan apa pun yang mereka bisa lakukan, seperti tukang ojek, parkir, supir angkot, berdagang di pasar atau pinggir-pinggir jalan tanpa melihat bahaya yang mengincar. Sedihnya lagi terkadang para ibu yang memiliki bayi atau anak kecil harus ikut dibawa dengan terpaksa sambil bekerja (liputan6.com, 28/7/2020).

Dengan dalih penguasa kapitalis, bahwa perempuan harus berperan sebagai penggerak ekonomi harus diberdayakan dengan maksimal. Mereka harus keluar rumah, bekerja di pabrik-pabrik, industri tekstil, otomotif, fashion, advertising, hingga ke lini terkecil seperti pedagang, ojol, parkir dan penjaja makanan di tepi jalan. Bagi para kapitalis semua itu harus berjalan agar roda ekonomi yang mereka atur juga mampu menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya tanpa memikirkan aspek pekerja perempuan penting lainnya.

Jangan sampai salah kaprah, bahwa perempuan bukanlah “bamper” ekonomi bangsa. Bahwa perempuan bekerja dikarenakan keterpaksaan, tidak ada lagi yang mampu membiayai hidup dari sang suami yang sulit mencari kerja, sakit ataupun lumpuh. Atau jika dia seorang orangtua tunggal maka jika sang ayah atau paman atau kakak laki-lakinya tidak mampu membiayainya barulah ia bekerja. Semestinya negara melindungi kehidupan para perempuan dengan mencukupi kebutuhannya tanpa harus banting tulang menjadi bamper ekonomi kapitalis akibat sulitnya ekonomi, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Islam memandang seorang perempuan bekerja bukanlah satu hal yang tabu. Mereka dibolehkan bekerja dengan syarat-syarat yang telah diatur oleh syariat. Bagaimana mereka keluar rumah memenuhi syarat seorang muslimah, bagaimana ketika ditempat kerja lingkungan yang tidak membahayakan, dan bagaimana caraberpakaian dan berdandan saat keluar rumah harus benar-benar diperhatikan jangan sampai menebar fitnah karenanya. Ada hak sebesar kewajiban yang dibebankan kepadanya. Pendapatnya diharfai serta kelemahannya dilindungi. Bahkan Allah telah meneguhkan kedudukan itu, tercantum dalam surat an Nissa (wanita) dalam Alquran. Perempuan dipandang sebagai bagian penting demi tegaknya agama. Maka, tidak ada yang lebih diharapkan selain tampilnya sosok perempuan yang solihah dan sanggup menjaga kodrat maupun martabatnya dalam kehidupan shari-hari, walaupun ia bekerja diluar rumah demi membantu mencari nafkah.

Bagi seorang perempuan muslimah yang bekerja, kondisi fisik menjadi catatan terendiri yang perlu diingat. Fisik perempuan tidak sekuat kaum laki=laki. Karena itu mereka dianjurkan tidak melakukan pekerjaan berat maupun beersiko. Mengapa demikian? Sebab, hal tersebut bukan untuk menghalangi tau membatasi gerak seorang perempuan, tetapi perlu menjadi perhatian bahwa terkait dengan tugas dan kodrat alamiah perempuan untuk melhirkan, menyusui, dan menjaga keluarga. Perlu ada sinergi dan keseimbangan antara aktifitas yang dilakukan dengan peran utamanya.

Maka jelaslah bahwa perempuan bukanlah “bamper” ekonomi suatu bangsa. Hanya sistem ekonomi kapitalis yang mengatur kedudukan perempuan menjadi tenaga-tenaga penggerak ekonomi negara. Berbeda dengan sistem ekonomi Islam, perempuan dipososokan bukanlah posisi pencari nafkah utama. Tetapi suami, ayah, paman, kakek, dan kakak laki-laki lah yang harus memenuhi kebutuhan mereka. Bahkan negara menjamin dan melindungi hak para perempuan jika memang harus bekerja, selain dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari juga terlindungi keamanan dan kehormatannya sebagai muslimah.

Walaupun tidak dilarang oleh Islam perempuan untuk bekerja, namun sebaik-baik seorang wanita muslimah lebih baik tinggal di rumah dan mengurus keluarga, rumah tangga, mendidik anak-anaknya karena Allah ta’ala (QS. Al Ahzab, 33). Sejatinya hanya Islam yang mempu mewujudkan kesejahteraan umat manusia, yang mampu melindungi dan menjamin kedudukan serta kemuliaan perempuan dalam keluarga dan negaranya. Wallahu a’lam bishawab.