Oleh : Arum Mujahidah (Lingkar Studi Pena Perempuan dan Peradaban)

Jas Merah, jangan lupakan sejarah. Sepertinya filosofi ini memang harus dijadikan pegangan bagi anak bangsa. Karena dari sejarah mereka akan mengetahui perjuangan bangsanya. Dari sejarah mereka akan mengetahui sepak terjang para pahlawan yang telah mendahuluinya. Sehingga dari sini munculah sikap kesatria, rela berkorban dan gigih dalam perjuangan. Begitupun dari sejarah, masyarakat akan mengetahui jati diri yang sesungguhnya. Karena bisa jadi, identitas rakyat bisa saja terkubur karena ketidaktahuannya tentang sejarah mereka.

Memahami sejarah tidak cukup mengkaji beberapa buku ataupun merujuk pada satu guru. Karena memang sejarah sifaknya subjektif. Dimungkinkan dalam penulisan sejarah diarahkan sesuai dengan subjektivitas penulisnya. Hal ini dipengaruhi oleh latar belakang, ideologi dan kepentingan. Maka dari itu, dalam membacca sejarah perlu puluhan bahkan ribuaan dan jutaan referensi, agar benar-benar fakta sejarah itu terkuak ke permukaan. Tidak hanya itu, berbagai bukti juga harus valid agar informasi yang disampaikan bisa dipertanggungjawabkan. Sehingga nilai-nilai luhur yang sebenarnya memang terpatri dalam sejarah bisa diambil oleh generasi dimasa datang.

Saat ini, masyarakat sangat mudah mendapatkan berbagai informasi. Hadirnya teknologi yang mumpuni menjadi faktor utama penyebab hal tersebut terjadi. Seseorang bisa mengakses informasi apapaun. Mulai dari yang hoax sampai valid. Mulai informasi yang sifatnya propaganda negatif ataupun positif. Hal ini membuka ruang pikiran masyarakat bagaimana kemudian mereka harus bersikap. Termasuk dalam mendapatkan informasi tentang sejarah.

Jika saat ini informasi yang berkembang memalui berbagai media cetak ataupun elektronik begitu berpengaruh besar dalam mencerdaskan masyarakat. Apa salahnya memahamkan umat tentang sejarah juga melalui platform ini. Jika masyarakat tidak hanya kalangan remaja bahkan dewasa-tua begitu gandrung dengan yang namanya sinetron ataupun drama korea, bagaimana jika jejak sejarah disuguhkan memalui model begini. Pasalnya, melalui penayangan sebuah film, masyarakat merekam informasi lewat alur cerita yang dibungkus oleh audio dan visual. Tentu kesan dan pesan dari film itu akan lebih mudah tersampaikan dan terpahamkan. Cerita yang disajikan lebih hidup sehingga masyarakat akan mudah memahami sejarah bangsa dan identitasnya.

Selanjutnya, film sejarah mana yang dimaksudkan? Ya, film Jejak Khilafah di Nusantara. Inilah film sejarah pertama yang membahas tentang awal mula masuknya Islam ke Nusantara. Tentang hubungan masyarakat dan kesultanan Islam di Nusantara dengan Khilafah Islamiyah. Serta sumbangsih Islam terhadap peninggalan dan peradaban di Nusantara. Sebuah film yang akan membuka cakrawala sejarah umat ketika menontonnya.
Film yang diangkat dari skripsi Nicko Pandawa, seorang sejarawan sebanyak lima ratus lembar ini akan menyuguhkan hubungan khilafah dengan nusantara secara apik. Hal ini karena film ini dikemas berdasarkan data primer yang valid dan wawancara dengan sejarahwan yang kredibel.
Jika belakangan kata “khilafah” menjadi perbincangan hangat dimasyarakat terkait pro dan kontranya. Inilah film yang akan membukakan cakrawala pengetahuan tentang khilafah Islamiyah yang memang pernah terekam dalam sejarah kurang lebih 13 abad lamanya. Film yang akan menjawab kegamangan dan keraguan umat terhadap khilafah sebagai bagian dari ajaran Islam.

Jika selama ini berbagai informasi negatif tentang khilafah yang ditelan mentah-mentah oleh masyarakat, inilah film yang akan menunjukkan bagaimana luhurnya sistem khilafah dalam menyumbang ruh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Khilafah yang memang merupakan bagian dari ajaran Islam ini harus dikenal oleh masyarakat. Agar umat menjadi melek sejarah.
Maka dari itu, agar umat paham sejarah identitasnya jangan lewatkan, mari simak film Jejak Khilafah di Nusantara dengan penayangan perdana Kamis, 1 Muharram 1442 Hijriah atau 20 Agutsus 2020 dikanal You Tube Khilafah Channel. Segera daftar https://bit/ly/tiket-jkdn. Selanjutnya, Anda dapat bersikap harus bagaimana ke depannya.