Oleh: Maman El Hakiem

Ratusan ribu,bahkan jutaan pasang mata menjadi saksi pemutaran perdana film dokumenter sejarah Jejak Khilafah di Nusantara(JKdN). Sejarah umat Islam di negeri ini yang selalu dikaburkan,bahkan mencoba dikubur. Melalui media dalam jaringan(daring),para pecinta tontonan yang mencerahkan tersebut,rela antri daftar untuk mendapatkan tiket jauh jauh hari, karena tayangan tersebut diputar secara premiere, artinya spesial tidak ditayangkan pada media mainstream.

Meskipun begitu, animo yang besar dari kaum muslimin tersebut tidak bergayung sambut dengan pihak-pihak yang merasa terusik dengan tayangan tersebut. Beberapa link tidak bisa dibuka, dan penayanganpun sempat tertunda. Namun, atas kehendak Allah SWT dan doa yang tulus dari pemirsa, film sejarah fenomenal di awal tahun baru 1442 Hijriyah sukses tayang.

Ada yang menarik bagaimana melihat animo masyarakat yang begitu besar. Meskipun, film tersebut sifatnya dokumenter audio visual, bukan dialog yang melibatkan adegan atau seni peran,tetapi mampu mengubah tren dunia perfilman di masa depan. Masyarakat sudah jenuh dengan cerita fiksi dalam adegan rekaan sebagaimana umumnya film yang booming selama ini.

Rupanya pandemi yang terjadi saat ini telah menyadarkan naluri manusia untuk mencari jati diri yang sejati, dalam ruang spiritualitasnya rindu akan pencerahan sejarah yang sebenarnya. Ruang hampa hati yang tercerahkan inilah yang mampu meluangkan waktunya, bahkan bersabar menunggu penayangan JKdN meskipun beberapa kali penguasa mencoba membaned nya, sampai ada tagar #rezimtakutfilm.

Jika kita mau bersikap jujur menilai isi atau muatan film tersebut sangat jauh dari unsur propaganda, apalagi provokator radikalisme. Sebagai sebuah karya kreatif yang berdasarkan fakta ilmiah,patut diacungi jempol karya sineas Nicko Pandawa tersebut. Penuturan sejarah masuknya Islam di Nusantara secara runut dengan visualisasi bukti sejarah yang masih ada.

Kelebihan film tersebut selain menampilkan visual obyek yang rekreatif, tentu pendapat para tokoh yang ilmiah dan bersumber pada nukilan bukti yang akurat. Tokoh ulama seperti KH. Hafidz Abdurrahman mampu mencerahkan umat melalui penyampaian dalil syarinya, sehingga pantas jika JKdN di tempatkan sebagai tayangan yang penuh dengan wawasan yang mencerahkan.

Sungguh sangat aneh, jika tontonan yang mampu menuntun masyarakat untuk bercermin pada sejarahnya di masa lalu disikapi secara “kejam” oleh penguasa jagad digital. Beberapa rekan yang mengadakan acara nonton bareng dengan keluarganya, memberikan komentar, nonton film serasa “berjihad”. Karena seolah dihadapkan dengan hadangan musuh yang tidak menyukai umat Islam bersatu dan hidup dalam naungan daulah yang menerapkan syariah secara kaffah.

Jika dia tahu, dia bisa penguasa atau siapa saja yang mudah berburuk sangka kepada para pengemban dakwah, pasti akan dibuat malu semalu malunya, karena di film tersebut tidak ada adegan dar der dor apalagi tumpahan darah. Yang ada gambaran dakwah yang sejuk dan gigihnya para ulama menyampaikan Islam yang rahmatan lil alamiin. Islam di Nusantara ini ternyata punya jejak yang tidak bisa dipisahkan dari kekuasaan dunia yang berlangsung ribuan tahun, itulah Khilafah ala minhaj Nubuwah Rasulullah saw.

Wallahu’alam bish Shawwab.***