Oleh : Hafsah Aiza

Bulan Agustus ini khususnya tanggal 17 Indonesia merayakan hari kemerdekaan yang ke-75. Saat ini katanya Indonesia telah merdeka bahkan hampir satu abad. Untuk itu mari kita telisik kembali, sebenarnya apa makna merdeka itu? Merdeka adalah terbebas dari penjajahan, tidak hanya itu saja, negara disebut merdeka apabila rakyatnya bisa hidup berkecukupan dan hukum ditegakkan dengan adil.

Dengan melihat fakta di masyarakat Indonesia saat ini, masih banyak orang-orang yang kekurangan sandang, pangan dan papan. Bahkan kemiskinan kian menjerat seperti benang kusut yang enggan terurai.

Menelisik lebih jauh kondisi bangsa ini banyak para pengemis, pedagang kaki lima yang setiap harinya harus rela dikejar satuan polisi pamong praja hanya untuk mencari sesuap nasi, miris sekali bukan? Padahal mereka seharusnya mendapatkan penanganan yang serius oleh pemerintah, serta jaminan kebutuhan hidup di negeri yang merdeka ini.

Kemiskinan dan pengangguran adalah bukti bahwa Indonesia belum merdeka. Kita banyak menjumpai pengemis di pinggir jalan, dan bahkan pengemis sekarang tidak identik dengan orang tua saja, melainkan paling banyak anak-anak kecil yang harusnya mereka masih belajar di bangku sekolah, tetapi harus membantu orang tuanya mencari uang. Bahkan kini kondisi pejabat di negeri ini sudah tebal muka, lupa terhadap janji-janjinya saat kampanye. Mereka menguras uang rakyat demi kepentingan pribadinya dengan korupsi, kolusi dan nepotisme. Ironisnya para koruptor justru bisa keluar negeri kabur tanpa ada hambatan sedikitpun.

Seperti kabar terbaru dikutip dari okezone.com, Rabu tanggal 12 Agustus 2020, seorang Jaksa diduga menerima USD 500 Ribu dari Djoko Tjandra, apakah itu yang dinamakan kemerdekaan untuk semua rakyat Indonesia? Tentu tidak, karena merdeka sendiri pun tidak bergantung pada orang lain, keadilan bisa dirasakan oleh semua rakyat tanpa ada pandang bulu. Merdeka itu mendapatkan harta secara halal bukan dengan mendapatkan dari hasil suap. Tidak hanya mengandalkan uang dari penyuap bahkan 500.000 US dollar tidak sedikit, jika di Indonesia saja senilai Rp.7.458.700.000,00 Bayangkan jika kita memberikan uang untuk orang yang lebih membutuhkan, tentunya sangat berguna sekali.

Yang disuap tentu saja mendapat gaji ditambahkan dengan uang korupsi, sedangkan pedagang kaki lima harus berjuang untuk kehidupan di setiap harinya. Bahkan kasus yang serupa pun terus mengemuka. Kasus Irzal Rinaldi yang merugikan negara hingga 330 Milyar Rupiah. Sebagai kasus tersangka dugaan korupsi penjualan dan pemasaran PT DI pada tahun 2007-2017, dan baru tertangkap jumat, 26 Juni 2020 bulan lalu (detiknews. Jum’at 26 Juni 2020).

Dari fakta di atas sesungguhnya karena negeri ini sebenarnya belum merdeka karena masih dalam kungkungan sistem kapitalis sekuler. Hal ini bisa terjadi karena lambatnya pemerintah dalam menangani kasus seperti ini.

Berbanding terbalik dengan sistem Islam bagaimana Islam menuntun hambaNya untuk senantiasa berpegang teguh terhadap aturan Allah dan Rasulnya. Merdeka dari belenggu kungkungan nafsu manusia lewat aturannya.
Makanya peristiwa kekhalifahan yang runtuh pada tahun 1924 telah menggoreskan kesedihan yang luar biasa. Serta kerinduan adanya para pemimpin yang adil dan amanah. Seperti manakala Rasulullah dan kekhalifahan Abu Bakar As-Sidiq sampai Khalifah selanjutnya lainnya saat mampu menaklukkan Konstantinopel oleh Muhammad Al Fatih pada Tahun 1453. Mereka adalah pemimpin Islam yang luar biasa.

Dalam agama Islam sudah diajarkan untuk bersikap adil dan menjaga amanah dalam membangun sebuah negara. Allah berfirman dalam Surat An-Nisa’ Ayat 58:

“ Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkan dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha mendengar, Maha melihat.” (TQS: An-Nisa’ : 58)

Namun sekarang banyak dilalaikan oleh para penguasa yang telah dipengaruhi penjajah yaitu antek asing dan aseng. Merekalah yang merampas kekayaan Indonesia untuk kepentingannya sendiri hingga rakyatnya yang selalu jadi korban.

Oleh karena itu, sudah saat kita berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan yang hakiki dengan cara dakwah supaya bisa kembali menegakkan dan menjalankan syariat Islam sesuai dengan anjuran Allah dan Rasulnya secara kafah.

Wallahu a’lam bishshawab.