Oleh: Damisri (Anggota Komunitas Setajam Pena)

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) lama-lama semakin membosankan. Itulah fakta yang akhir-akhir ini banyak dikeluhkan oleh para pelajar dan para orang tua. Selain rasa bosan, juga masih banyak faktor lainnya, terutama bagi para orang tua. Begitu mendengar kabar bahwa segera diberlakukan sekolah tatap muka, berarti anak-anak akan belajar seperti biasa yakni masuk sekolah. Bagi yang berada di wilayah home industri mereka menyambut dengan hati gembira. Karena orang tua kebanyakan sibuk dengan usaha mereka demi dapur tetap mengebul. Itulah mereka yang pro dan mendukung sepenuhnya tanpa berpikir panjang tentang akibatnya ke depan.

Akan berbeda dengan pihak yang kontra. Karena mereka akan selalu was-was dan khawatir. Karena sebenarnya wabah Corona belum sirna. Jika diizinkan oleh pemerintah sekolah tatap muka untuk bisa praktik secara langsung maka seharusnya juga diimbangi dengan penyediaan sarana prasarana yang memadai. Jika tidak, maka akan lebih berbahaya.

Seperti yang dilansir Tribunnews.com, ketua Komnas perlindungan anak Indonesia (KPAI), Arist Merdeka Sirait menanggapi adanya rencana sekolah tatap muka. Begitu pula pemerintah melalui Kemendikbud sebelumnya telah mewacanakan untuk bisa menggelar pembelajaran secara langsung. Namun kebijakan itu tidak berlaku untuk semua sekolah, melainkan dengan beberapa syarat-syarat khusus. Diantaranya adalah sekolah yang berada di daerah zona hijau dan kuning covid -19.

Meskipun demikian, bapak Sirait menilai bahwa keputusan Kemendikbud belum tepat waktu. Karena risiko tertular masih ada lebih-lebih untuk daerah zona kuning. Beliau menegaskan bukan karena tidak percaya dengan protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah dan pihak sekolah,akan tetapi menurut beliau lebih melihat pada sudut pandang siswa terutama siswa SD yang sifatnya masih kekanak-kanakan.

Sekali lagi pertimbangannya adalah dunia anak masih dunia bermain. “Siapa yang menjamin ini? Nantinya bisa mereka tidak tahu apa yang akan terjadi.Karena ada teman yang maskernya lebih bagus, lebih baru, terus pinjam-pinjaman, itulah dunia anak”, jelas beliau.

Terjadinya sikap jenuh bosan terhadap sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ), adalah karena beberapa faktor. Yakni faktor ekonomi bagi orang tua untuk memenuhi kebutuhan anak. Selain HP yang bagus kuota juga boros. Walaupun pemerintah mengizinkan dana BOS untuk biaya internet tetapi bagi siswa yang lokasinya jauh dari sinyal dan mengalami kesulitan tetap tidak ada solusi.

Maka yang akan muncul adalah kesenjangan di bidang pendidikan. Itulah bukti bahwa lemahnya pemerintah sekuler dalam mengatasi problem pendidikan. Dikarenakan demi kepentingan ekonomi yang kemudian tidak menjamin pendidikan sebagai kebutuhan publik bagi rakyat yang seharusnya dijamin secara penuh oleh negara dalam pelaksanaannya.

Di dalam Islam tugas dan tanggung jawab pendidikan ada di pundak para orang tua dan dibantu oleh pihak pemerintah dalam bentuk sekolah-sekolah secara gratis. Negara wajib menyediakan sarana prasarana pembelajaran yang merata. Mulai dari kota hingga ke pelosok desa. Agar seluruh rakyat merasakan pendidikan yang dibutuhkan sesuai usia dan tempat mereka.

Maka dari itu, kita sangat membutuhkan seorang pemimpin yang menerapkannya. Seorang imam atau pemimpin akan bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya. Termasuk bertanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan yang berkualitas bagi seluruh warga negara. Itu semua bisa terlaksana apabila diterapkan peraturan Islam secara kaffah.
Wallahua’lam bishowab.