Oleh : NS. Rahayu

Keresahan luar biasa yang kurasakan. Di antara dua pilihan yang berat sementara tempat pijakan masih labil menjadi penopang badan, hati dan pikiran. Seperti orang mabuk kendaraan saat bepergian, maunya berhenti, rebahan sehingga mabuk segera reda. Di sisi lain juga berfikir perjalanan sudah di mulai, sementera tujuan akhir belum tiba.

Selembar sajadah tempat bersimpuh menemani hari-hariku. Setiap kegundahan yang merasuki pikiran dan hati selalu berakhir di situ. Desiran angin yang menembus ruang sempit 3 x 4 tempat sholat di rumah itu sering membuat tersadar, sudah waktunya istirahat. Saat beranjak ke kamar dan merebahkan punggung ada kenikmatan badaniyahnya tapi pikirannya berlarian kemana-mana. “Ya Allah, aku ingin bersamaMU.” Di ambil bantal beranjak perlahan ke ruang sholat, di atas sajadah baru mata sayup terkatup hingga adzan subuh berkumandang. Waktunya beraktifitas.

***
Malam minggu. Sudah menunggu Irfan, lelaki yang secara lahiriyah dan batiniyah mempunyai kesempurnaan dalam pandanganku. Dia sahabatku sejak 3 tahun terakhir ini. Orangnya pendiam tapi care, darinya saya juga belajar baca tulis Al Qur’an baru-bari ini. Tapi bukan pacar bukan pula TTM (Teman Tapi Mesra). Hanya nyaman bicara dengannya.

Irfan bukan geng kakakku, kenal saat sama-sama cari makan di warung termurah dekat tempat kerja, pertemuan yang sering akhirnya membuat pembicaraan ngalir dan cocok menjadi teman ngobrol l bahkan teman diskusi hal-hal yang serius, kadang bertengkar karena perbedaan pandangan, ujungnya saya yang menang karena dia memilih ngalah.

Pertemuan dengannya semakin intensif se intensif bertemu dengan mbak Erni. Aku sering membutuhkannya untuk teman bicara di saat aku mulai meninggalkan dunia lamaku, yang lebih nyaman dekat dengan lelaki daripada wanita. Sudah mulai risih dekat-dekat lelaki, perlahan mulai menyingkir dari komunitas mereka.

“Dari rumah fan?” Tanyaku. Dia tersenyum sambil menggangguk. Diberikannya sekotak onde kesukaanku. Lansung saja ku terima dan buka.
“Makasih ya. Yuk makan bareng.” Tanpa tunggu lama langsung saya ambil satu persatu ondenya hingga habis lima, sudah kenyang. Irfan hanya menatap tingkahku yang rahap makan.
“Keluar cari angin yuk pik,” ajakan. Namun kata itu membuat saya seperti berhenti bernafas. Kalau biasanya dengan mudah saya mengiyakan untuk pergi keluar rumah meski hanya cari wedang ronde, kali ini terasa berat sekali. Saya diam tak mampu menjawab. Ada rasa gak enak karena aku benar-benar sudah tidak ingin keluar berduaan dengannya.

“Sudah aku duga akan seperti ini. Pakaianmu itu akan membatasimu beraktifitas seperti dulu.” Ucapnya. Entah mengapa onde yang tadi terasa nikmat kini terasa berhenti di tenggorokan, segera saya ambil air agar segera masuk ke dalam perut secara sempurna. Tapi ternyata sulit, hanya airnya yang tertelan. Gak enak banget rasanya dan saya hanya bisa menunduk.

“Bukan seperti itu, aku takut fitnah Fan. Kamu tahu benar, berat sekali aku mempertahankan keyakinanku ini, aku tidak ingin mengotorinya dengan tingkah yang tidak sesuai agama, cukuplah masa laluku saja yang memalukan, tidak untuk kedepannya.” Akhirnya keluar juga kalimat yang sudah lama kusimpan untuknya, tapi jujur aku takut akan membuatnya kecewa dan masih takut melepas ketergantunganku padanya.

Apakah itu namanya cinta? Tapi saya tidak pernah merasakan debaran yang membuat tak bisa mengendalikan diri. Diriku hanya butuh teman melepas penat dan sakit menjalani kehidupan. Entah dengan Irfan, jangan-jangan saya salah mengerti kebaikannya. Ada udang di balik batu. Itu yang saya baru memikirkannya setelah membaca berulangkali buku pinjaman mbak Erni.

Kehidupan laki-laki dan wanita itu terpisah, saya sudah maksimal berusaha melepasnya meski dengan segala hujat dari teman-teman, masih bisa saya tanggung karena ada Irfan yang selalu memberi dukungan sepenuhnya.

“Jangan bikin aku gak enak deh Fan …,” saya merajuk untuk mengurai keheningan.
“Upik, kamu berubah drastis. Sadar gak?” ucapnya dengan keras.
“Kamu kan sudah tahu dari awal dan kamu yang selalu mendukungku hingga saat ini,” jawabku.
“Iya, tapi kamu juga mulai menjauh dariku pik. Aku belum siap dan tidak mau.” Duuuar. Pecahlan apa yang saya takutkan akhir-akhir ini. Tampaklah isi hati dan kepala Irfan, saya tahu itu tulus dan saya gak mungkin tidak menghargainya. Dia menatap saya penuh keseriusan dan tanpa kusangka Irfan beranjak dari kursi dan duduk bersipuh merapat didepan kakiku.

Duuh. Mau apaan dia, kayak sinetron aja. “Ya Allah lindungi dan kuatkan hambaMu ini.” Batinku dalam hati.
“Upik sudah lama kita mengenal, maukah kamu menikah denganku.” Tanpa basa-basi kata-kata itu meluncur begitu saja. Seperti ada petir yang menyambarku, badanku menggigil.

Ngawi, 14 Agustus 2020

Ikuti sambungannya ya …