Oleh: Maman El Hakiiem

Ada yang menarik saat membaca lagi sejarah kehadiran Islam di tanah Jawa, para sunan atau wali yang merupakan pengemban dakwah syariah, menggunakan syair yang sarat dengan makna. Seperti lirik Lir Ilir yang disampaikan Sunan Kalijaga untuk mendakwahi penguasanya. Dengan kata lain para wali juga melakukan koreksi terhadap kekuasaan (muhasabah al hukam).

Seorang pemimpin itu seperti cah angon(sang gembala), mampu mengarahkan dan mengayomi rakyatnya. Tidak harus duduk di singgasana, bisa jadi seorang pemimpin itu biasa melepas lelah di tengah padang gembalaan. Seorang Amirul Mukmin bahkan saat ditemui rakyatnya sedang berteduh di bawah pohon kurma. Memikul beban pangan untuk rakyat dan berjalan di tengah pasar memeriksa aktifitas perniagaan supaya tidak ada kecurangan.

Cah angon sangat bersahaja,namun mulia saat berada di tengah rakyatnya. Memimpin itu ibarat “tandure wus sumilir”, menanam benih(tandur) yang akan sumilir(panen) saat tanaman itu dirawat dengan baik. Tentu, aturan hukum syariah itulah yang akan merawat rakyat merasakan keadilan seorang pemimpin. Ketika aturan yang diterapkannya menyalahi fitrah manusia, maka pertanda buruk kehidupannya.

Meskipun terasa berat menjalaninya,namun seorang pemimpin harus lunyu lunyu penekno(mendakinya meskipun licin). Karena ada yang harus dicapai, yaitu terlaksananya aturan yang dapat membuat masyarakat hidup dalam penuh ketakwaan, berupa ketaatan kepada pencipta aturan hukum itu sendiri, yaitu Allah SWT. Inilah makna kepemimpinan yang sebenarnya, yaitu penerapan hukum Allah SWT dalam kehidupan masyarakatnya secara umum.

Dalam konteks saat ini, kepemimpinan yang ada sifatnya masih sekuler. Yaitu sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Tidak heran jjika pemimpin(sang pengembala) hanya menjadikan agama sekedar keshalihan individualnya, itupun cenderung sekedar pencitraan. Beragama sekedar di hari raya atau terekpose media. Tampak shalih secara ritual, tetapi dzalim dalam pengamalan aturan agama perihal pengurusan umat. Menampakan bantuan sosial,tetapi merampas harta kekayaan alam milik umum.

Sungguh seorang cah angon yang sebenarnya tidak seperti itu, pemimpin sejati akan menuai apa yang ditanamnya,berupa amaliah yang benar untuk membasuh dodot iro(mencuci pakaian) dalam rangka kanggo seba mengko sore, bisa ditafsirkan taqarub Ilallah atau menghadap Allah SWT.

Mumpung padhang rembulane(terang bulan), selagi masih ada waktu hidup atau lapang (jembar kalangane), tidak akan menggunakan jabatannya untuk mendzalimi rakyatnya. Begitu bermakna syair para Wali Songo dalam lirik Lir Ilir, seperti mengingatkan bahwa pemimpin itu wajib menerapkan hukum syariat yang diungkapkan dalam lirik kumithir blimbing kuwi (buah blimbing dengan lima sudut), maknanya “ahkamu khamsa” , yaitu lima hukum perbuatan manusia berupa perkara yang wajib, haram, sunah,makruh,dan mubah.

Wallahu’alam bish Shawwab.