Oleh: Linda Khadeeja

“Dunia akan pergi meninggalkan, sedangkan akherat akan datang, dan masing-masing dari keduanya punya anak-anak, maka jadilah anak-anak akherat, dan janganlah menjadi anak-anak dunia, karena sesungguhnya hari ini adalah hari amal dan bukan hari hisab, sedangkan esok adalah hari hisab dan bukan hari amal” (HR. Bukhari)

Mentari muncul di ufuk timur menghiasi langit kota Cikarang. Ya, sebuah kota industri yang padat penduduk yang masuk dalam wilayah kabupaten Bekasi.

Sehingga menjadi sebuah pemandangan yang biasa setiap harinya arus kendaraan yang tumpah di setiap protokol jalan utama.

Bersama itu pula puluhan, ratusan bahkan ribuan manusia berpacu dengan dengan waktu untuk mempercepat laju kendaraannya. Menuju tempat kerja mereka. Untuk mengais sejumlah rizki yang telah dijanjikan oleh Allah.

Ya, begitulah rata-rata rutinitas sebagian besar penduduknya.

Aku mencoba menelisik dan mencoba melihat apa yang sesungguhnya yang melatarbelakangi mereka untuk berangkat pagi-pagi dan seolah-olah tergesa-gesa menuju tempat kerjanya.

Debu, kemacetan, bahkan air selokan yang sangat hitam menjadi sebuah hiasan perjalanan mereka.

Dan tumpukan sampah yang berserakan yang terlihat di sudut pojok-pojok kota. Seolah kota Cikarang adalah kota yang berantakan. Kecuali hanya di beberapa kawasan elit saja yang memang sengaja telah diatur sedemikian rupa.

Apapun kondisi wilyahnya, mereka berjuang untuk satu kata yaitu ”rupiah”. Mereka mengejar habis-habisan. Pergi pagi pulang malam. Hingga Cikarang adalah Kota yang aktif hingga 24 jam penuh. Tak pernah sepi.

Tapi, dibalik itu semua semoga kita tidak pernah lupa untuk mempersiapkan akhir dari setiap rutinitas kita setiap harinya. Di mana suatu saat kita pasti berhenti di titik tertentu. Yaitu titik KEMATIAN. Titik di mana kita semua harus kembali kepada Allah.

Semoga kita tidak lupa bahwa tujuan akhir kehidupan kita bukan dunia. Tapi adalah akherat. Sebagaimana doa Umar bin Khattab:

” Ya Allah, jadikanlah dunia ini ada dalam genggaman kami dan janganlah jadikan dunia ini ada di hati kami”

Maka, ingatlah wahai saudaraku ketika kita diizinkan oleh Allah memiliki harta dunia maka janganlah untuk bermegah-megahan.

Dan menjauhkan kita dari Allah. Karena bermegah-megahan merupakan salah satu sifat tercela yang bisa menyeret pelakunya ke azab panas neraka. Di sebabkan mereka bermegah-megahan hingga akhir hidupnya.

Tidakkah kita selalu ingat bahwa semua perbuatan yang kita lakukan akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah.

Tidak ada yang luput semua dari Allah. Baik yang kecil maupun yang besar. Yang baik maupun yang buruk semua pasti di hisab.

Maka jadikanlah dunia ini tempat kita beramal semaksimal mungkin untuk bekal berjumpa dengan Allah di akherat. Jangan sampai kita menyesal.

Sebagaimana Ust.Budi Ashari beliau pernah mengatakan bahwa

“kita ini adalah kumpulan hari-hari, jika hari ini berlalu, maka berlalulah sebagian diri kita”.

Tidakkah kita ingin, ketika kita dipanggil oleh Allah saat kita berada di puncak amal terbaik. Dan kita meraih khusnul khotimah.

Maka, isilah hari-hari dengan niat ibadah kepada Allah. Jangan hanya sekedar mengejar kenikmatan dunia semata. Baik itu harta, tahta atapun wanita. Karena sesungguhnya kehidupan dunia itu adalah senda gurau dan fatamorgana.

Maka, jadilah engkau di dunia ini sebagaimana musafir yang sedang menempuh perjalanan. Dan di sini kita hanya sebentar untuk beristirahat. Dan kita segera melanjutkan perjalanan kita. Karena tujuan kita bukan di sini, tapi di akherat. Berjumpa dengan wajah Allah yang mulia.

Semoga Allah senantiasa membimbing hari-hari kita pada jalan kebaikan dan kebenaran. Dan kita ingat selalu akan datangnya kematian. Yang merupakan pemutus segala kenikmatan.
Dan kita berharap kepada Allah semoga kita diizinkan untuk khusnul khotimah dalam perjalanan hidup kita. Aamiin.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk liang kubur. Sekali-kali tidak, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Kemudian, sekali-kali tidak!Kelak kamu akan mengetahui.” (QS. At Takatsur: 1-4)

Wallahu’alam bish-shawwab. ***