Oleh : Dewi Humairah (Aktifis Muslimah Milenial)

Kemerdekaan yang slalu di peringati setiap 17 Agustus nyatanya tak sesuai keadaan. Saat ini, bahkan dari awal kita lahir ternyata kemerdekaan itu hanyalah semu belaka. Salah satu parameter kemerdekaan adalah terwujudnya kesejahteraan bagi segenap rakyat indonesia. Kesejahteraan yang bisa di maknai sebagai tercukupinya seluruh kebutuhan setiap individu rakyat atas sandang, pangan dan papan serta negara menyediakan sarana dan usaha yang mampu memberikan peluang pada siapapun yang memiliki produktivitas untuk mengembangkan diri demi tercapainya kebutuhan baik sekunder dan tersier.

Merujuk data sensus dari Badan Statistik Sosial yang dikeluarkan 15 Juli 2020, dijelaskan bahwa Persentase penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 9,78 persen, meningkat 0,56 persen poin terhadap September 2019 dan meningkat 0,37 persen poin terhadap Maret 2019. Jumlah penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 26,42 juta orang, meningkat 1,63 juta orang terhadap September 2019 dan meningkat 1,28 juta orang terhadap Maret 2019. Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2019 sebesar 6,56 persen, naik menjadi 7,38 persen pada Maret 2020.

Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2019 sebesar 12,60 persen, naik menjadi 12,82 persen pada Maret 2020. Dibanding September 2019, jumlah penduduk miskin Maret 2020 di daerah perkotaan naik sebanyak 1,3 juta orang (dari 9,86 juta orang pada September 2019 menjadi 11,16 juta orang pada Maret 2020). Adapun data dari daerah perdesaan naik sebanyak 333,9 ribu orang (dari 14,93 juta orang pada September 2019 menjadi 15,26 juta orang pada Maret 2020).

Garis Kemiskinan pada Maret 2020 tercatat sebesar Rp454.652,-/ kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp335.793,- (73,86 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp118.859,- (26,14 persen). Pada Maret 2020, secara rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,66 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp2.118.678,-/rumah tangga miskin/bulan. (https://www.bps.go.id).

Hari ini 75 tahun yang lalu sebuah bangsa baru lahir ke dunia. Bangsa yang awal nya di kenal sebagai Hindia Timur Belanda (Dutch East Indies) mendeklarasikan kemerdekaan. Pada 17 Agustus 19450 bangsa dan negara Indonesia menyeruak di penghujung Perang Dunia II. (Jakarta, CNBC Indonesia). Para pendiri bangsa ingin agar tujuan pendirian Negara Republik Indonesia adalah untuk mengantar rakyat menuju kedaulatan, keadilan dan kemakmuran. Kemerdekaan ibarat jembatan emas kata Ir. Soekarno sang proklamator kemerdekaan sekaligus presiden pertama kala itu. Jembatan emas menuju kejayaan dan kegemilangan bagi rakyat Indonesia.

75 Tahun setelah momentum bersejarah itu, sudahlah terwujud cita-cita bangsa ini? Apakah rakyat sudah berdaulat adil dan makmur?. Bagaimana dengan utang yang bertriliunan?. Bagaimana nasib pendidikan saat ini? Apakah sudah cukup sandang, pangan dan papan seluruh rakyatnya?

Sungguh jika di renungi kita ini belumlah merdeka. Kita merdeka secara fisik saja. Tapi di semua lini kita di serang mulai dari pergaulan, makanan, pendidikan, ekonomi dan lainnya. Masalah demi masalah selalu ada dan tak pernah menemukan solusi yang tuntas. Rakyat selalu jadi korban penguasa yang tak peduli pada rakyatnya karna hanya mementingkan diri sendiri.

Islam adalah agama yang sempurna. Islam punya solusi atas semua problematika manusia. Ketika aturan di terapkan akan membawa sebuah keberkahan bagi penduduk bumi karna Islam adalah rahmatan lil alamin. Islam akan memberikan keamanan pada umat nya baik muslim maupun non muslim. Pendidikan akan di berikan secara gratis untuk anak-anak sehingga orangtua tak terbebani karna harus membayar spp tiap bulannya. Sandang, pangan dan papan akan di berikan layak pada rakyat. Di bukakan lapangan pekerjaan pada

laki-laki. Karna seorang laki-laki wajib untuk mencari nafkah. Kesehatan juga akan di berikan secara gratis sehingga rakyat tak harus memikirkan biaya bpjs yang tak jelas arahnya.

Begitu sempurna nya Islam dalam mengatur urusan manusia. Lalu masihkan berharap pada demokrasi yang selalu menyengsarakan rakyat. Saatnya kembali pada fitrahnya yakni kembali pada Islam secara kaffah. Mengikuti pedoman yang sudah Allah berikan pada umatnya yakni Al-Qur’an dan Al Hadits. Wallahu A’lam Bishowab