Oleh: Marvha Mirandha
(Aktivis Mahasiswi)

Tak terasa 75 tahun sudah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Rasa bangga dan haru, serta syukur sungguh patut kita lakukan. Namun sayang sungguh sayang, sekalipun sudah menjadi bangsa yang merdeka, tetapi ternyata tidak semua rakyat telah benar-benar merasakan kemerdekaan itu. Sebagai akibat dari keterbatasan dan kelemahannya, bisa saja sebagian masih terjajah oleh berbagai hal negatif di dalam dirinya. Banyak muda mudi sekarang ini, yang tak mampu menghadapi permasalahan yang dihadapi dengan melampiaskan penggunaan narkoba sampai gantung diri.(Republika.co.id)

Selain berbagai masalah diatas, rakyat juga belum mampu mentas dari jurang kemiskinan. Merujuk data sensus dari Badan Statistik Sosial yang dikeluarkan 15 Juli 2020, dijelaskan bahwa Persentase penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 9,78 persen, meningkat 0,56 persen poin terhadap September 2019 dan meningkat 0,37 persen poin terhadap Maret 2019.(TrenOpini.com)

Sejatinya makna penjajahan ini tak saja membawahi penjajahan secara fisik, namun juga penjajahan dalam pengertian non fisik yang pada intinya terjadi eksploitasi secara ekonomi, memanfaatkan kekuatan sistem politik, sosial budaya, sejumlah pranata nilai yang diadopsi oleh negara penjajah kepada negara jajahannya.(TrenOpini.com)

Maka jika dilihat dari kacamata lainnya, mungkin masih banyak rakyat yang belum mampu menikmati kemerdekaan dengan makna yang hakiki. Ketika kepentingan rakyat masih sering menjadi kepentingan nomer dua dibanding dengan kepentingan pemilik modal.

Jika kita tahu negeri kita dianugerahi kekayaan sumber daya alam yang berlimpah, namun sayang rakyat sepertinya belum mampu menikmatinya. Sumber daya alam masih dikuasi oleh pihak asing. Bahkan hal mengerikan bisa terjadi apabila sumber daya alam ini habis tak tersisa di negeri tercinta ini.

Diperkirakan, pada tahun 2045, hasil alam Indonesia akan habis dijarah asing dan generasi bangsa Indonesia akan gigit jari. Hal ini disampaikan mantan ketua MPR Amien Rais saat memberikan orasi dalam acara Sarasehan 20 Mei yang digelar di Gedung Joeang 45, Jakarta membahas persoalan penjajahan. Menurut Amien, pada 2036, minyak di Blok Cepu yang saat ini dikelola ExxonMobil akan habis. Sedangkan, pada tahun 2045, SDA di Pegunungan Papua yang kini dikuasai Freeport juga akan habis. “Sedangkan, pada saat itu, kita telah menjadi santapan cacing tanah dan anak keturunan kita tengah kesulitan mencari rezeki, karena hasil alam telah habis dijarah asing,”(SumbarToday.net 8 Juni 2020).

Hal ini tentu saja tak boleh dibiarkan begitu saja. Kemerdekaan tak boleh sebatas kemerdekaan fisik semata, kemerdekaan yang hakiki adalah jika kita mampu terhindar dari terjadinya eksploitasi secara ekonomi, memanfaatkan kekuatan sistem politik, sosial budaya, sejumlah pranata nilai yang diadopsi oleh negara penjajah kepada negara jajahannya. Maka jika negeri tercinta ini sudah merdeka secara fisik sudah tentu kita harus mewujudkan kemerdekaan yang hakiki, tak mencukupkan dengan kemerdekaan fisik saja.

Salah satu solusi yang dapat kita ambil adalah dengan kembali pada islam. Islam jelas bisa menghentikan eksploitasi kekayaan alam oleh asing dan swasta serta mengembalikan kekayaan alam itu kepada rakyat sebagai pemiliknya. Dalam pandangan Islam, kemerdekaan hakiki terwujud saat manusia terbebas dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia. Dengan kata lain Islam menghendaki agar manusia benar-benar merdeka dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman, perbudakan dan penghambaan oleh manusia lainnya. Karnanya kembalikan pada islam jika segera ingin mewujudkan kemerdekaan yang hakiki. Wallahu ‘alam bis showwab.