Oleh : NS. Rahayu

“Upik sudah lama kita mengenal, maukah kamu menikah denganku.” Tanpa basa-basi kata-kata itu meluncur begitu saja. Seperti ada petir yang menyambarku, badanku menggigil.

Gemerisik daun yang tertepa angin pun sampai terdengar dalam keheningan. Sunyi, meski dada rasa bergemuruh dalam keterkejutan namun akupun juga belum mampu menjawab langsung permintaan Irfan. Aku beranikan diri menatap bola matanya yang meminta jawab kepastian sementara diriku masih berada dalam persimpangan.

Aku tak pernah mengira demikian cepat dia melamarku tanpa menungguku mampu berdiri tegak setelah banyak kejadian berat yang ku lalui. Setenang dan cuek apa pun aku, tetap saja merubah kebiasaan lama menuju jalan yang Islami memerlukan tenaga dan pikiran yang ekstra. Kadang terhempas hingga hampir berhenti, mengambil nafas dan jeda memulihkan tenaga.

Bukan hal yang mudah menghadapi perubahan dan hijrah menggapai jalan yang benar-benar akan menentukan jalan hidupku ke depan. Bisa tetap tersenyum dan terlihat kuat ketika menjalani aral dan rintangan tersebut. Namun perasaan tetap saja terusik.

Dan orang yang ku anggap netral dan masih bisa kujadikan tempat curhat ketika ragam perasaan berkecamuk, sekarang sedang menunggu jawabku. “Aah… memang ini mungkin yang harus terjadi dan aku lalui untuk mendapat hidayah-Mu.” Batinku.

“Duduklah di atas dulu Fan,” pintaku dengan berat. Irfanpun menurut dan memilih kursi tepat di sampingku. Sudah terlanjur tahu ya sudah biar tahu sekaliyan. Sehingga aku pun berpindah posisi duduk di depannya. Ada meja yang menjadi penghalang. Dia menghela nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Apa aku seperti virus yang menularkan penyakit Pik, sebegitunya kamu takut,” ujarnya. Saya pun tersenyum mendengarnya dan akhirnya tertawa. Di suasana hatiku yang ketar-ketir dia bisa saja mencairkan suasana. Saya sedikikit bernafas lega.
“Fan kamu tahu posisiku saat ini kan?” Dia mengangguk tapi diam menunggu jawaban.
“Aku belum siap di lamar dan belum memikirkan menikah!”
“Lantas apa ini berarti penolakanmu untuk hidup bersama denganku. Aku ngak ngajak kamu pacaran loh, aku ngajak menikah?” Tangkisnya dengan argumentasi yang pas. Deg! Seperti kena tamparan. Jujur ini keinginanku ketika ingin menikah, saya ingin orang yang serius mengajak menikah. Dan sekarang benar-benar ada di hadapanku. Apa kurangnya coba?

Tapi entahlah hati dan pikiran berasa adem saja, gak ada suasana riuh yang menggetarkan hati atau suasana bahagia seperti cerita teman-teman yang menerima lamaran. Saya masih bergulat dengan kegamangan akan jalan yang hendak aku lalui ke depan.

Tapi aku harus tetap menjawab pinangan Irfan yang tak ku sangka-sangka ini, juga ada rasa takut melukai hatinya setelah persahabatan yang terjalin cukup lama. Takut melukai perasaannya ketika aku belum mampu menerima keseriusannya.

“Aku tidak bisa menolakmu tapi juga tidak bisa menerimaku, saat ini aku belum bisa berfikir tentang menikah. Aku ingin menata kehidupanku terlebih dulu. Banyak kemaksiatan yang telah aku lakukan karena tidak tahu ilmunya. Aku ingin fokus menata kembali dari nol,” jawabku.
“Aku mau menunggumu,” pintanya. Saya gelengkan kepala dan menjawab.
“Jangan ….”
“Kenapa? Beri aku alasan Pik, hingga aku bisa menerimanya.” Benang kusut akan hubunganku dengannya memang harus di urai sekarang kejelasannya. “Ya Allah, beri aku keberaniaan.” Doaku dalam hati. Ku coba setenang mungkin menjawabnya.

“Fan dirimu lebih paham Islam sebelum aku, aku berterima kasih sekali pernah bertemu denganmu, mengajariku baca tulis Al Qur’an dan memberi dorongan saat yang lain tidak ada yang menopangku. Kalau di pikir memang kamulah yang paling pantas menjadi pendamping hidupku,” jawabku jujur dari lubuk hati yang paling dalam.
“Terus kenapa tidak memberiku kesempatan? Padahal aku mau menunggumu,” tanyanya dengan nada sedih. Aku juga ikut merasakan kesedihan yang dirasakannya. Karena selama menjadi teman akulah yang sering di bantu dan di topangnya, mengatakan hal seperti itu sebenarnya juga sedang menyakiti hatiku sendiri.
“Aku ingin memulai hidup ini dari nol. Belajar dari nol. Aku perlu waktu untuk benar-benar menyakinkan pilihanku. Bukan sekedar pakaianku yang berganti tapi juga seluruh hidupku. Aku ingin Allah ridlo dan memaafkan kesalahanku,” jelasku.
“Termasuk melepas ketergantunganku padamu, ini hubungan yang salah, kita harus mengakhirinya. Biarlah Allah yang menentukannya apa yang terjadi esok. Kalau berjodoh akan mudah pula cara Allah untuk mempertemukan kita kembali.” Irfan mendesis perlahan.
“Kata-katamu menakutkanku … jangan-jangan ini terakhir aku bisa bertemu kamu.” Sergah Irfan. Saya hanya tersenyum, tapi saya juga ingin tahu alasan dia tiba-tiba melamarku, karena selama ini tidak nampak darinya rasa suka padaku, hanya teman ngobrol yang nyaman dan sehat menurutku kemarin. Saya harus tahu juga alasannya meminang secara mendadak.

“Boleh aku tanya satu hal padamu?.” Irfan menggangguk. “Mengapa aku?.” Kali ini dia tersenyum manis sekali. “Hijrahmu telah memikat hatiku dan ingat aku akan kembali lagi.” Tegas sekali kalimatnya. Kemudian dia meninggalkan aku sendiri tanpa bisa menjawab salamnya ketika dia berpamitan pulang.

Ngawi, 23 Agustus 2020

Ikuti sambungannya ya …