Oleh: dr. Dana Farah (Co-founder Dokter Kembar)

Menjadi orang tua adalah anugerah. Akan tetapi kemampuan mengasuh anak tidak akan didapat secara otomatis saat anak lahir ke dunia.

Gaya pengasuhan yang dipakai oleh orang tua kepada anak biasanya dari memori dan pengalaman bagaimana mereka dulu dibesarkan atau dari komentar orang sekitar.

Bukankah membangun misi besar – mencetak generasi masa depan – selayaknya dibarengi dengan usaha maksimal? Usaha maksimal mustahil tanpa dibarengi oleh ilmu.

Ilmu ibarat lampu. Penerang perjalanan. Ketika ada cahaya maka rintangan yang ada di depan mata akan nampak. Kecelakaan dapat dihindari. Kesulitan akan teratasi. Tujuan akan lebih mudah teraih.

Untuk bisa membersamai anak secara optimal maka selayaknya orang tua belajar ilmunya. Ibarat ingin memasak rendang, apa saja bahannya, bagaimana tekniknya, berapa lama prosesnya dan seperti apa penyajiannya adalah hal mutlak sehingga masakan itu bisa dinikmati.

Dalam ilmu parenting, ada empat model pengasuhan yang dikenalkan oleh Maccoby & Martin. Kesimpulan ini sebenarnya berdasar pada penelitian pendahulunya yakni Diana Baumrind.

Pengelompokan gaya pengasuhan itu didasarkan pada dua komponen. Komponen pertama terkait dengan #sehangat apa sikap orang tua kepada anaknya. Dan komponen kedua tentang sebesar apa #kontrol orang tua kepada anak.

Gaya pengasuhan yang pertama adalah acuh (#uninvolve).

Orang tua yang dingin. Jarang mengungkapkan rasa sayangnya kepada buah hati mereka. Tak ditemui satupun bahasa cinta dari lima bahasa cinta yang ada.

Di rumah tidak ada aturan sama sekali. Anak tidak mendapat bimbingan dan perhatian dari orang tuanya. Seolah olah mereka tidak berayah dan beribu. Dibesarkan oleh alam, tanpa arah dan petunjuk.

Orang tua tidak pernah bertanya kepada anak tentang sekolah atau PR-nya. Mereka tidak tahu dimana dan dengan siapa sang anak di luar sana. Mereka jarang menghabiskan waktu bersama anak.

Gaya pengasuhan yang kedua adalah permisif (#permissive).

Orang tua model ini sangat hangat kepada anaknya. Sering memberikan sentuhan sayang ataupun melayani anak penuh cinta.

Ada sedikit aturan di rumah. Akan tetapi ketika aturan dilanggar orang tua tidak memberikan konsekuensi. Aturan hanya sebatas tulisan atau kata kata tak bermakna.

Orang tua yang permisif biasanya lebih berperan sebagai teman daripada sebagai orang tua. Mereka memang mendorong anak-anak mereka untuk berbicara tentang masalahnya, tetapi hanya sekedar tahu tanpa ada usaha mengarahkan dan membimbing.

Contohnya, anak diijinkan main gadget kapan saja dan sepuasnya asal tidak menganggu aktivitas bunda atau ayahnya.

Gaya pengasuhan yang ketiga adalah otoriter (#authoritarian).

Orang tua yang dingin. Jarang mengungkapkan rasa sayangnya dengan kata kata ataupun sentuhan lembut. Apalagi memberi pelayanan dan merenda waktu bersama anak. Tak akan pernah terjadi.

Di lain pihak mereka memiliki aturan yang sangat ketat. Jika ada pelanggaran maka tak ada kata ampun. Hukuman dan cemooh adalah makanan sehari hari bagi telinga anak.

Mereka percaya bahwa anak-anak harus diawasi. Tidak perlu mendengar keluhan ataupun mempertimbangkan perasaan anak.

Mereka tidak tertarik untuk bernegosiasi. Fokusnya adalah kepatuhan. Alih -alih mengajari anak untuk belajar membuat keputusan, mereka lebih tertarik membuat anak menyesali kesalahannya dengan hukuman yang setimpal.

Gaya pengasuhan yang keempat adalah berwibawa (#authoritative).

Ayah bunda begitu hangat. Mereka menunjukkan bahasa cinta mereka baik di dalam maupun di luar rumah.

Mereka adalah orang tua yang mengerahkan segala daya dan upaya untuk menciptakan dan memelihara hubungan positif dengan anak.

Sangat mengontrol tapi selalu menjelaskan alasan dibalik aturan yang diberikan. Jika ada pelanggaran maka akan ada konsekuensi, tetapi tetap mempertimbangkan perasaan dan kondisi anak. Mereka memvalidasi perasaan anak sembari menjelaskan tanggung jawab.

Orang tua model keempat ini lebih banyak menginvestasikan waktu dan energinya untuk mencegah munculnya permasalahan dengan menggunakan pujian dan penghargaan dari pada kata kata cemoohan ataupun hukuman.

Dari keempat gaya pengasuhan diatas, gaya pengasuhan berwibawa #authoritative adalah model terbaik.

Para peneliti telah menemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang berwibawa, mereka tumbuh menjadi orang yang dewasa dan bertanggung jawab. Mereka cenderung bahagia, sukses dan merasa nyaman untuk mengungkapkan pendapatnya. Mereka pandai membuat keputusan dan mengevaluasi risiko baik dan buruknya.

Bagaimana jika kita adalah orang tua yang bergaya acuh? Maka sudah saatnya mengganti dengan model berwibawa. Berdamai lah dulu dengan semua persoalan yang menghimpit. Ungkapkan cinta dengan lima bahasa cinta yang ada dan mulailah menetapkan aturan di rumah.

Bagaimana jika kita adalah orang tua yang bergaya permisif? Maka sudah saatnya mengganti dengan model berwibawa. Awali dengan menetapkan aturan, kemudian beri konsekuensi jika ada pelanggaran. Puji dan hargai ketika anak mengikuti aturan itu.

Bagaimana jika kita adalah orang tua yang bergaya otoriter? Maka sudah saatnya mengganti dengan model berwibawa. Sudah selayaknya anak melihat kehangatan serta kasih sayang dari kita untuk mereka. Turunkan standar dan renggangkan aturan.

Selamat belajar, semangat berubah!
Semoga kita dimudahkan untuk menjadi orang tua yang membersamai anak penuh dengan kehangatan dan kontrol yang beralasan, sehingga anak bisa meraih kesuksesan dunia dan akhirat!

‎امين يا ربّ العالمين

Riyadh, 24 Agustus 2020

👩‍🏫👩🏻‍⚕️👩‍🏫👩🏻‍⚕️👩‍🏫👩🏻‍⚕️👩‍🏫👩🏻‍⚕️👩‍🏫👩🏻‍⚕️👩‍🏫👩🏻‍⚕️👩‍🏫👩🏻‍⚕️👩‍🏫👩🏻‍⚕️

Saya menantang mbak Estu Handayani sebagai seorang staff pengajar untuk menuliskan tema terkait tipe tipe pelajar. Semoga berkenan untuk menuliskannya, dan setelah itu tag temanmu untuk menuliskan tema serupa ya. Terima kasih.

RevowriterWritingChallenge

BeraniMenulisBeraniBerbagi

RWCDay22

RWC2020

Gemesda