Oleh : Piyantun Ndeso

Ketika membaca judul berita viral video, “Antrian panjang di pengadilan agama bandung, warga ingin ajukan gugat cerai.”

Aku sebagai jomblo bertanya-tanya. Kira- kiara, apa yang melatar belakangi pasangan suami istri mengajukan gugat cerai? Kenapa begitu mudah memutuskan bercerai setelah sekian lama hidup berumah tangga? Bukankah menikah itu membuat hidup sepasang manusia menjadi sempurna? Bukankah mereka memutuskan menikah karena dasar cinta dan ridho? Dan segudang tanya lainnya yang masih kucari jawabnya.

Sebagai jomblo, jika aku melihat pasangan suami istri, yang terpikir di benakku adalah kehidupan penuh damai sentaosa karena dikelilingi anak anak yang lucu penyejuk jiwa dan suami/istri yang tulus mencinta.

Tapi ternyata tidak.
Kehidupan rumah tangga itu kompleks. Rumah tangga tak seindah drama korea atau cerita klasik ala Cinderella yang ketika aktor utama sudah menikah, maka mereka akan bahagia selama lamanya.

Banyaknya cerita seram dan mengerikan yang kudengar dari mereka yang sudah terjun dalam dunia pernikahan, memberiku banyak pelajaran bahwa pernikahan tidak hanya bermodal cinta, harta dan kesempurnaan rupa. Pondasi Berumah tangga tak sedangkal itu. Butuh banyak keahlian dan ilmu.

Ada seorang teman yang bercerita, mengantar saudaranya datang ke pengadilan agama untuk mengambil blangko perceraian. Taukah kalian apa yang dia saksikan di pengadilan agama? Dia menyaksikan pemandangan yang sama persis seperti apa yang ada di berita ini. Antrian mengular. Temanku yang datang jam 9 pagi, mendapat nomer antrian ke 50 lebih. Dan dia bercerita, si teman menggungat suaminya karena si suami tidak bertanggung jawab terhadap anak Istri. Malas bekerja dan menggantungkan hidup pada istrinya.

Belum lagi jika aku membaca curhatan mamak-mamak di KBM yang horor dan menyeramkan, semakin bertambah ngeri saja aku dibuatnya. Ada yang suami/istrinya selingkuh, ada yang suami/istrinya berzina, ada yang suami/istrinya melakukan KDRT, dan beragam kasus lainnya.

Hidup diera kapitalistik dimana agama tak lagi menjadi pertimbangan utama dalam memilih pasangan hidup memang mengundang banyak masalah. Menikah hanya karena rupa yang menawan, menikah karena harta kekayaan, menikah karena status sosial memang sesuatu yang menggiurkan. Tapi, nyatanya, tampan rupawan saja tak cukup. Bergelimang harta dan status sosial yang mentereng juga tak bisa menjamin langgengnya sebuah pernikahan. Buktinya banyak yang bercerai padahal jika dilihat dr cantik/gantengnya, kayanya, statusnya, semua serba sempurna.

Ironis memang, sebuah ikatan suci, harus terputus karena suami/istri tidak saling memahami hak dan kewajibannya masing masing. Sekian tahun berumah tangga, ilmunya itu itu saja. Punya anak tapi gak tau cara mendidik anak. Sebagai kepala rumah tangga, tapi tak tau apa hak dan kewajibannya. Maka wajar jika perceraian menjadi jalan keluar jika masalah sudah tak lagi bisa terselesaikan.

Bercerai memang dibolehkan dalam Islam. Bahkan, seorang suami boleh menceraikan istrinya meski tanpa alasan.

Ya, seorang suami boleh menceraikan istrinya meski tanpa alasan apapun. Suka tidak suka, memang seperti itu aturan dalam Islam. Tapi meskipun demikian apakah lantas suami bisa dengan mudah mengikrar kata talak pada istrinya?
Lalu, meskipun istri boleh menuntut cerai kepada suaminya (khulu’), apakah lantas si istri bisa dengan mudah menuntut cerai?
Tidak semudah itu teman.
Seorang istri boleh menuntut cerai suaminya ketika :
– suaminya sudah tidak memberi nafkah
– suami gila
– suami zina
– suami murtad
– suami mengidap penyakit yang penyakit itu menghalangi suami memenuhi nafkah batin sedang si istri tidak bisa bersabar.

Sekali lagi, meskipun bercerai itu dibolehkan. Tapi konsekuensinya berat. Akan ada anak anak yang kehilangan kasih sayang utuh dari orangtuanya, anak anak terlantar tanpa pengasuhan, anak anak yang terjebak pergaulan bebas karena hilangnya peran ayah dalam membesarkan mereka. Akan ada janda janda yang terpaksa harus memeras keringat untuk mencukupi kebutuhan anak anaknya.

Ngeri bukan?
Makanya sebelum menikah, siapkan bekal. Ilmu yang mumpuni soal pernikahan dan pengasuhan. Siapkan finansial karena kita hidup di jaman semua butuh uang. Krn kita hidup dijaman yang tidak ada jaminan dr negara untuk mensejahterakan rakyatnya. Siapkan kedewasaan pemikiran agar bisa bersikap selayaknya orang dewasa yang berakal sempurna. Dan yang lebih penting, pertebal iman. Karena imanlah yg akan menjaga kita semua dari godaan setan baik dari golongan jin dan manusia.

Apaan sih tun! Kamu masih single sok sokan kasih nasehat pernikahan!!
Nooo..
Ini bukan cuma nasehat untuk mereka yang sudah menikah. Tapi ini juga nasehat untuk diriku sendiri agak kelak ketika Allah berkehendak mempertemukanku dengan jodohku, aku tak mengulangi kesalahan orang orang itu. Agar aku bisa lulus menghadapi badai ujian rumah tangga hingga kaki kami menapaki jannah.