Oase Iman Bersama Ust. Budi Ashari, Lc

Oleh: Linda_Khadeeja

“Allah, Dialah yang menciptakan (kamu) dari keadaan lemah, kemudian menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu)sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa” (Ar Rum 54)

Saudaraku, jika kita perhatikan saat ini generasi muda kita ini -“kosong”. Ya, kalau generasi muda kita kosong, maka ia akan di isi oleh apa saja. Yang kemudian menjadikan mereka tidak berkwalitas. Sementara orang berkwalitas itu bisa dimiliki oleh siapa saja. Entah mereka yang masih muda ataupun sudah tua.

Kuncinya asal dia bertekad belajar dan terus mengembangkan potensi yang dimiliki.

Kita perhatikan bersama bahwa generasi muda kita saat ini mereka jauh dari Al-Qur’an. Dan tidak memiliki keyakinan yang kokoh terhadap agamanya.

Sehingga mereka lebih menyukai hal-hal yang sia-sia dan remeh temeh. Akhlaq mereka jauh dari yang Rasul contohkan. Dan bahkan orang tua terkadang sudah berlepas tangan dengan menyerahkan kepada sekolah.

Dr. Tareq As Suwaidan seorang ulama dan ahli pendidikan beliau menyampaikan:

“Tidaklah redup bintang peradapan Islam saat ini, kecuali ketika bintang para artis itu bersinar”

Artinya peradapan Islam itu tidak sejalan dengan dunia artis atau hiburan saat ini.

Zaman Rasulullah konsep pendidikan diajarkan dengan sederhana. Dimulai dari Al-Qur’an, dasar-dasar agama, akidah dan iman. Hasilnya yang lainnya pasti mengikuti.

Dimana ciri khasnya dalam Islam adalah efektif dalam usia. Sehingga saat Rasulullah wafat, dunia butuh apa, di Madinah sudah tersedia. Ahli penegak hukum, negarawan, ekonomi ada semuanya.

Permulaannya dimulai dari Qur’an, karakter imannya kita bangun. Terus dengan dasar-dasar ilmu Islam. Ternyata hasilnya sangat luar biasa.

Umur adalah anugrah terbesar dari Allah. Sehingga kita bisa menikmati kehidupan di dunia ini.

Di zaman sahabat orang sudah berhasil dan berkarya di usia yang sangat awal. Kenapa? Karena Rasulullah mendidik mereka dengan tuntunan wahyu yang dipandu langsung oleh Allah.

Misalnya: Ibnu Abbas usia 15 tahun sudah menjadi staff ahli negara, Usamah bin Zaid 18 tahun sudah menjadi panglima. Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstatinopel usia 24 tahun.Ibnu sina belajar ilmu hanya 17 tahun, terus negerinya konflik.

Setelah itu beliau berhenti belajar. Akan tetapi bisa menganngkat namanya menjadi dokter di kekhalifan. Dan bahkan sampai saat ini ilmu-ilmu dari Ibnu Sina menjadi rujukan ilmu kedokteran saat ini.

Dalam Islam memiliki konsep yang sangat sederhana dalam p mengevaluasi perkembangan usia. Dan ada halte-halte (pemberhentian) untuk kita evaluasi dan instrospeksi diri.

Sehingga usia yang telah Allah titipkan buat kita ataupun anak kita tidak mubazir.

Berikut halte-halte usia:

1. Usia Rodhoah (0-2 tahun)

Usia menyusui bagi seorang anak yang baru lahir sampai kurang lebih 2 tahun (30 bulan).

Membangun kedekatan emosi dan fisik dengan ibunya. Dan waktu ini adalah waktu anak bersama ibunya. Dan tidak bisa digantikan dan terwakilkan.

Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah: 233:

”Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama 2 tahun penuh yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya..”

2. Usia Hadhonah(>3 tahun)

Usia Pengasuhan 3,4,5,6 tahun. Dimana titik tekannya adalah keteladanan dari orang tua dan pendidik.

Memasukkan muatan-muatan yang bermanfaat dan menjauhi yang sia-sia. Mulai dikenalkan dengan shalat.

Penanaman karakter iman dengan dialog-dialog ringan melalui alam. Juga tentang Allah, Nabi & Rasul surga, neraka.Serta adab keseharian dari bangun tidur sampai tidur kembali.

Di sini harus sabar dan telaten. Karena biasanya di usia ini mereka banyak bertanya. Maka kita perlu memberikan jawaban yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.

Usia 5 dan 6 tahun adalah usia meniru. Guru dan orang tua harus menjadi teladan yang terbaik buat mereka.

3. Usia Tamyiz (>7 tahun)

Ini adalah masa usia kanak-kanak yang tenang. Mereka sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Sudah mulai di suruh menjalankan perintah shalat. Dan biasanya mereka mulai masuk ke sekolah pendidikan dasar. Muatan yang perlu diberikan adalah pembeljaran dasar-dasar ilmu Al-Qur’an, pengokohan karakter iman mereka. Dan dasar-dasar calistung (baca, tulis & hitung).

Setelah sebelumnya mereka mendapatkan pelajaran iman di rumah melalui orang tua mereka.

Pada usia ini mereka belajar bersosialisasi. Dan kemudian mulai mensejajarkan orang tua dengan gurunya.

Dan masa kanank-kanak yang tenang ini akan berakhir pada usia baligh.Target utamanya adalah mengkondiskan adab agar mereka siap untuk menerima ilmu di fase selanjutnya.

4. Usia Balligh (12-15 tahun)

Mereka sudah siap menerima beban syariat dan juga telah siap untuk bermuamalah secara social.

Dan fase baligh ini mereka lebih mendengarkan /condong kepada temannya daripada orang tua dan guru.

Maka, perlunya memilihkan lingkungan dan pertemanan yang terbaik untuk mereka.

Jangan sampai salah dalam memilihkan teman buat anak-anak kita. Karena akan berpengaruh besar terhadap perkembangan mereka.

Dan ini sebuah batas atau garis tebal bagi orang tua bahwa anaknya sudah harus bisa menerima beban syariat Islam.

Hari ini rata-rata baligh untuk seorang anak laki-laki usia 12-15 tahun. Kalau anak perempuan lebih cepat yaitu sekitar 9-10 tahun.

5. Usia Murohaqoh/Rusyda (>16 tahun).

Tidak terlalu jauh dari usia baligh. Dimana fase ini mereka telah mampu mandiri dan bermuamalah dengan harta secara baik.

Bertanggung jawab terhadap dari mana harta di dapatkan dan mengelolanya secara benar sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

6. Usia Syabab (

Usia syabab adalah usia kekuatan diantara dua kelemahan.

Kelemahan usia kanak- kanak dan kelemahan kita di usia senja.

Kelemahan di usia kanak-kanak adalah kelemahan ilmu, pengalaman juga fisik.

Sehingga usia syabab atau pemuda ini identik dengan kekuatan prinsip, semangat hingga kekuatan fisiknya.

Ketika belajar siroh nabawiyah ada yang menarik bahwa Islam diterima oleh mereka-mereka yang usia nya rata-rata relatif muda.

Sehingga sudah menjadi sunnahtullah bahwa perjuangan da’wah ini di topang oleh anak-anak muda. Yang kuat dan masih segar pemikirannya. Sedangkan generasi tua Quraisy tidak sedikit yang mati dalam keadaan kafir.

Ibnu Abbas pernah berkata; ”Barang siapa ketika sampai di usia 40, kemaksiatannya masih lebih banyak dari pada amal sholehnya, hendaklah ia siap-siap menyiapkan tempatnya di neraka”.

Karena bertaubat di usia tua adalah tak mudah. Sebab usia tua adalah usia menuai benih dan pupuk yang saat kita tanam sewaktu masih muda.

Maka, janganlah sia-siakan waktu muda. Karena tak akan bangkit peradaban Islam kecuali ada ditangan para pemuda. Dan pemuda itu adalah KITA.