Oleh: Maman El Hakiem

Miris melihatnya. Ribuan istri gugat cerai suami di saat pandemi. Sebuah surat kabar pagi menampilkan foto di salah satu pengadilan agama di Kota Bandung. Data potensi perceraian pun hampir merata di tiap daerah. Menurut psikolog dari Universitas Padjajaran, Aulia Iskandarsyah penyebab utamanya faktor ekonomi dampak dari pandemi.(Tribun Jabar, 25/8/2020).

Hal yang sangat disayangkan, karena keluarga adalah benteng pertahanan terakhir untuk selamat dari ujian wabah ini. Ketika benteng itu roboh,maka betapa pandemi yang harusnya membawa keluarga semakin sakinah karena lebih banyak aktifitas di rumah. Malah, menjadi musibah dengan retaknya hubungan suami istri. Pemicunya tidak lain, kebutuhan hidup yang tidak terjamin oleh negara, rakyat harus pontang panting mencarinya sendiri.

Negara yang seharusnya menjadi benteng pertama melawan pandemi covid-19 , telah rontok di saat grafik wabah semakin memuncak. Yang lebih ironis,rakyat sudah tidak percaya dengan data yang disampaikan pemerintah. Protokol kesehatan pun sudah tidak diindahkan, terlebih dalam situasi sulit ini amarah rakyat masih saja disulut oleh adanya arogansi kekuasaan terhadap para pengemban dakwah.

Beginilah nasib umat Islam dalam sistem kapitalisme yang dipaksa”bersahabat” dengan wabah, namun mereka yang selalu istiqomah dalam berdakwah malah banyak yang dipersekusi. Secara umum kehidupan rakyat kecil terabaikan, biaya hidup meningkat dengan adanya pola pembelajaran jarak jauh(daring). Mereka sebagian besar masih gagap teknologi, dan miskin daya beli untuk beradaftasi dengan kebiasaan online.

Adanya fenomena kesenjangan sosial,beban pengeluaran yang meningkat,sementara pendapatan sangat minim, keluhan beban hidup telah memaksa orangtua menghalalkan segala cara, membuat pasangan suami istri kurang harmonis. Mereka yang tidak bisa bertahan dengan tekanan hidup, banyak mengambil jalan pintas untuk bercerai. Dan itu menimpa keluarga Muslim yang mayoritas di negeri ini. Sungguh sangat memprihatinkan.

Masalah mendasar sebenarnya karena di tengah wabah seperti sekarang, negara yang harusnya menjadi benteng yang kokoh bagi rakyatnya, telah hilang kepercayaan. Bertekuk kepada kepentingan kapitalisme, menyerahkan urusan rakyatnya pada “hukum alam” untuk bertahan hidup. Anggaran covid-19 yang begitu besar disinyalir telah disalahgunakan bagi penyelamatan para pelaku bisnis besar yang menggurita di negeri ini. Harusnya rakyat semakin sadar,lebih baik bercerai dengan kapitalisme, daripada ikatan keluarga yang justru jadi korban karena istri menggugat suami untuk bercerai.

Wallahu’alam bish Shawwab.***