Oleh: Citra Ningrum
(Anggota Revowriter dan Writing Class With Hass)

Film merupakan suatu hiburan yang diperlukan untuk semua kalangan. Beberapa film akan sangat disenangi penonton jika bermanfaat, tetapi jika tidak maka penonton akan sedikit. Namun untuk film India hingga saat ini masih digandrungi oleh banyak kalangan, mulai dari remaja, dewasa, dan lansia. Maka, tak heran jika sutradara film India akan mencari ide untuk terus membuat karya yang diminati banyak penonton.
Ini pula yang menjadikan aktor India, Sameer Sheik hadir di Acara Puncak Pasanggiri Moka 2020 yang dihelat di Sangkan Resort Aqua Park. Selain itu, ada Ismail Sofyan Sani dan produser beserta co-produser ikut hadir. Kehadirannya di Kuningan ternyata sedang merencanakan pembuatan layar lebar. (kuninganmass.com/03Agustus2020)
Film yang berjudul ‘Tapak’ akan bekerja sama dengan Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kuningan. Namun, belum ada yang mengetahui alur ceritanya akan seperti apa. Diambilnya wilayah Kuningan menjadi latar film dikarenakan banyak tempat wisata yang menarik. Sehingga Bupati Kuningan, Bapak H. Acep Purnama menyetujui pembuatan film India ini. Menurutnya film akan mendongkrak nama baik Kuningan (inilahkuningan.com/12Agustus2020).
Pencapaian yang luar biasa bagi daerah Kuningan untuk mengangkat citra baik wilayahnya. Pemerintah daerah tentu akan mendukung penuh hal tersebut. Namun menurut Budi Sumarno selaku Produser Film bahwasannya pembuatan film ‘Tapak’ akan didanai APBD dengan syarat tidak ditayangkan di bioskop. Hal ini dikarenakan dana APBD tidak boleh dikomersilkan, sehingga akan mengundang investor asing.

Lagi-lagi investor asing diundang kembali ke negeri Indonesia. Artinya skenario diduga harus disesuaikan dengan kebutuhan investor. Para pemain dan drama di dalamnya mengikuti yang diinginkan investor, walaupun sutradara telah memiliki scrip. Dikarenakan untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya saat pemutaran film nantinya.
Film semacam ini tentu harus diperhatikan oleh pemerintah daerah. Dilihat apakah kontennya akan merusak akhlak masyarakat atau tidak? Jangan hanya untuk mengangkat citra baik daerah, tetapi perlu memerhatikan hal tersebut. Ini terlihat masih banyaknya tontonan yang kurang berkualitas bagi masyarakat.

Masih banyaknya film yang hanya cerita drama berisikan konflik, lalu berakhir dengan bahagia, sehingga hanya diajadikan ‘ajang’ hiburan saja. Padahal jika ditelaah dalam Islam, menurut Syekh Yusuf al-Qaradhawi dalam bukunya “Tuntas Memahami Halal dan Haram”, ada beberapa persyaratan berkenaan dengan pembahasan tentang film yang baik dan pertunjukkan, yaitu:
Pertama, konten di dalam film harus bersih. Artinya jauh dari ajaran yang menyimpang akidah, syariat, dan etika dalam Islam. Adapun cerita yang mengajarkan keburukan, membangkitkan naluri keduniaan, ataupun mengajak penonton untuk berbuat dosa, maka itu dihindari. Untuk hal itu, seorang Muslim harus bisa memilih film yang baik. Jangan menonton film yang buruk, menyebarkannya, ataupun terlibat dalam proses pembuatannya.
Kedua, sebagai seorang Muslim, tidak boleh melalaikan kewajiban. Maksudnya boleh menonton film yang baik, tetapi tidak mengabaikan kewajiban agama maupun kewajiban dunia, seperti salat lima waktu, bekerja bagi para laki-laki, dan sebagainya.
Ketiga, terhindar dari ikhtilat, yaitu percampuran antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. Mengapa demikian? Hal ini bertujuan agar tidak menimbulkan fitnah.

Menurut hadis riwayat al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, “Kepala salah seorang di antara kalian ditusuk dengan jarum besi lebih baik daripada menyentuh perempuan yang tidak halal bagi dirinya.”
Faktanya, masih banyak film yang ada saat ini seringkali berisi tentang hal yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Efeknya bagi penonton sangat mudah terpengaruh untu menirunya. Misalnya film yang menceritakan tentang kehidupan pacaran. Padahal jelas bahwa pacaran dilarang dalam Islam, maka ini diharamkan untuk ditonton.
Pada dasarnya pembuatan film tidak lepas dari dua kondisi. Pertama, bersifat fiktif atau khayalan belaka. Kedua, berkisah tentang peristiwa nyata yang telah terjadi dengan melibatkan sejumlah orang. Aktualisasi dua jenis cerita ini hukumnya haram dan tidak diperbolehkan oleh syari’at, karena mengandung kedustaan, diantaranya:

1. Menamakan pemainnya dengan nama yang lain. Artinya memainkan sosok lain yang bukan jati dirinya. Misalnya sebagai hakim, penjual, pemabuk, atau lainnya. Ungkapan-ungkapan yang diketahui kebohongan dan khayalannya.

2. Memperlihatkan diri sebagai penderita cacat, orang dungu atau lainnya, padahal tidak demikian.

3. Memerankan sebagai tokoh yang sangat shalih, misalnya sebagai seorang ulama atau ustad. Bisa juga memerankan tokoh jahat, yang selalu berbuat kerusakan atau kezhaliman, dan sebagainya. Untuk peran pertama, bila memang tokohnya benar-benar orang-orang shalih, akan menunjukkan tazkiyah (mensucikan diri). Sedangkan peran yang kedua (sebagai orang jahat), apabila memang orangnya begitu, berarti telah membuka aibnya sendiri sebagai pelaku maksiat di hadapan orang banyak. Jenis-jenis kedustaan sebagaimana tersebut di atas sulit dilepaskan dari pembuatan film, baik yang bernuansa religi, ataupun lainnya.

4. Mengubah ciptaan Allah Swt. Perbuatan ini terlihat ketika para aktornya memerankan sebagai orang pincang, buta, atau tua renta. Selain itu adanya menyambung rambutnya dengan rambut lain, meletakkan rambut di dagunya untuk jenggot yang belum tumbuh, menyemir rambut hitamnya, dan seterusnya.

Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha menyatakan, yang dimaksud mengubah ciptaan Allah Swt. dan bertindak buruk denganya adalah bersifat umum. Bermakna mencakup mengubah secara fisik dan seluruh perbuatan yang membuat bentuk menjadi jelek (tasywih), dan meniru-niru secara maknawi. (Lihat al Manar, 5/428).
5. Menasabkan diri (pemain film) kepada selain ayahnya. Aspek ini sangat jelas dalam pembuatan film. Dikarenakan seorang pemeran akan memanggil pemeran lainnya dengan kata “ayah, anakku, istriku, dan lain-lain”.
Maka, menurut Syaikh ‘Abdus Salam bin Barjas rahimahullah mengatakan termasuk dalam keumuman larangan. Artinya terdapat penisbatan bahwa si Fulan putra si Fulan secara hakiki, yang akan memerintah dan melarang serta memaksanya, layaknya ayah kandungnya sendiri. Inilah yang dilarang. Allah Swt. berfirman dalam al-Qur`an surat al Ahzab ayat 5 yang artinya, “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

6. Ridha dengan kemungkaran. Ini diketahui bahwasannya tayangan film yang dianggap agamis ternyata menyimpan pelanggaran syari’at. Misalnya, mendiamkan kemungkaran-kemungkaran yang terjadi dalam proses penayangan, menunjukkan keridhaan seseorang terhadap kemungkaran tersebut. Dalam sebuah hadits, dari Abu Sa’id al Khudri berkata, Rasulullah Saw. bersabda yang artinya, “Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, hendaknya mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah menggunakan lisannya. Bila tidak mampu, maka menggunakan hatinya. Dan itu merupakan keimanan yang paling lemah”.

7. Tujuan kebaikan yang masih mengambang, sementara kerusakan jelas, maka tidak boleh dikembangkan. Maka jika pembuatan film merusak akhlak penonton nantinya, maka janganlah dilanjutkan. Karena seyogianya film itu perlu menampilkan akhlak luhur, sebagai pesan sosial bagi masyarakat terhadap bahaya maksiat, untuk menyadarkan umat meraih hidayah Allah Swt., dan maksud kebaikan lainnya.
Maka sangat diperlukan peran Negara yang aktif dan kritis dalam memilah film terbaik bagi rakyatnya. Jika terdapat perbuatan yang menyimpang ajaran Islam, selayaknya tidak ditayangkan. Namun, jika berkualitas dan sesuai dengan tuntunan Islam, maka silahkan untuk ditayangkan. Wallahu’alam bi shawab.