Oleh: Indri Ngesti R.
(Founder Komsata Nganjuk)

Kapitalisme telah membuat penderitaan yang sangat parah, bisa kita lihat dengan mata telanjang kemiskinan yg mengerikan, jurang antara si kaya dengan si miskin menganga begitu lebar. Akibat kemiskinan inilah perempuan yang fitrahnya sebagai seorang Ibu terpaksa harus berkerja membanting tulang, banyak diantara mereka menjadi TKW di negri seberang demi sesuap nasi meninggalkan peran utamanya sebagai Ibu pendidik generasi.

Himpitan ekonomi memaksa mereka untuk mengeksploitasi dirinya, lebih parahnya banyak diantara mereka stres dan kehilangan naluri keibuan, sudah bisa dibayangkan bagaimana nasib generasi?

Namun tak sedikit pula dari mereka berkerja keras membanting tulang bukan karena himpitan ekonomi namun atas nama kesetaraan gender. Peran ibu pun sama goyahnya, menganggap perempuan tak selamanya harus menjadi seorang pendidik dan pengatur rumah tangga. Sekali lagi, nasib generasi pun dipertaruhkan.

Penting bagi kita untuk meluruskan cara pandang bahwa kemuliaan perempuan tidak boleh distandarisasi dengan akal manusia. Keterbatasan akal manusia akan menyebabkan standar yang dibanguan hanya bersifat materi yang bisa mereka indera. Alhasil, manusia yang tanpa bimbingan wahyu akan menetapkan kehormatan dan kemuliaan perempuan pada pendapatan ekonominya, jabatan publik, kecantikan, dan standar material lainnya. Dari cara pandang yang salah ini melahirkan kesalahan fatal dalam memperlakukan perempuan.

Islam mempunyai cara pandang dan standar yang benar serta jelas dalam masalah perempuan. Perempuan adalah hamba Allah, sebagaimana halnya pria. Masing-masing tidak berbeda dari lainnya dari aspek kemanusiaannya. Yang satu tidak melebihi yang lainnya pada aspek ini. Allah menciptakan padanya masing-masing potensi kehidupan dan kebutuhan jasmani. Dari sekumpulan ayat al Qur’an dan Hadis Nabi saw, Islam memposisikan perempuan sebagai kehormatan yang harus dijaga.

Islam memberi perhatian kepada perempuan sedari mereka kecil, Rasulullah saw pernah bersabda “Janganlah kalian membenci anak-anak perempuan karena mereka adalah penghibur (hati) yang amat berharga” (HR Ahmad dan ath-Thabarani). Saat perempuan dewasa, ia diberi posisi terhormat dengan menjadi Ibu, istri dan saudara perempuan. Ia dijamin kehormatan dan kemuliannya dengan seperangkat aturan hukum syara’yang diterapkan oleh Khilafah.

Khilafah Mensejahterakan Perempuan

Khilfah wajib menjamin pemenuhan kebutuhan hidup setiap penduduk laki-laki atau perempuan, Muslim dan non-Muslim agar semua mencapai kehidupan yang sejahtera. Khilafah akan menjamin distribusi kekayaan secara adil dan efektif. Dilarang menimbun kekayaan dan melakukan riba sehingga harta hanya beredar disegelintir orang. Khilafah juga akan melarang privatisasi sumber daya alam. SDA yang ada dikelola oleh negara yang kemudian keuntungannya akan kembali ke rakyat. Selain itu, Khilafah juga akan berusaha keras menciptakan iklim bisnis yang kondusif dan sehat, memberikan bantuan pelatihan teknis, penyediaan lahan, peralatan bahkan modal untuk mereka yang tidak mampu.

Khilafah juga menyiapkan para ahli atau sarana lain agar laki-laki mendapatkan nafkah. Perempuan yang tidak mendapatkan cukup nafkah dari suami atau saudara laki-lakinya dapat meminta kompensasi dari pengadilan. Selanjutnya, Khilafah harus menyediakan bantuan keuangan dari Baitul Mal bagi perempuan yang tidak ada penanggungnya.

Oleh karena itu, aturan Islam telah menjamin kebutuhan finansial bagi kaum perempuan dan memastikan bahwa mereka tidak akan dibiarkan mengalami kesulitan keuangan untuk menghidupi dirinya dan anak-anak mereka.

Khilafah Menjamin Hak Politik Perempuan

Di dalam Khilafah perempuan memiliki hak dan kewajiban politik yang sama dengan laki-laki. Hal ini berdasarkan dalil-dalil syara’ yang memerintahkan Muslim dan Muslimah untuk memiliki peran politik aktif di tengah masyarakat. Misal, memperhatikan urusan rakyat, berdakwah menentang kedzaliman. Karena itu dalam Khilafah Perempuan dapat menjadi anggota partai politik. Mereka memiliki hak untuk dipilih di Majelis Umat, lembaga yang memberi saran dan mengkritik penguasa dalam berbagai urusan negara.
Khilafah Juga memberikan hak islami bagi perempuan untuk memilih wakil-wakil mereka, hak memilih khalifah, serta hak untuk menyampaikan koreksi terhadap penguasa dan pejabat di hadapan Mahkamah Mazhalim. Perempuan diperbolehkan mengkritik penguasa secara terbuka tanpa rasa takut. Dengan demikian Khilafahlah model terbaik dalam mewujudkan hak-hak politik perempuan.

Khatimah

Dengan melihat gambaran diatas maka dapat kita ketahui bahwa hanya Khilafahlah yang dapat membawa berkah bagi perempuan.. Sulit rasanya membayangkan ada jaminan kemuliaan terhadap perempuan pada sistem selain Islam. Ideologi sekuler tidak akan pernah memberi kemuliaan hakiki pada perempuan. Ia hanya membawa harapan palsu dengan kebahagian materi dan fisik yang hanya sesaat. Khilafahlah negara yang kita harapkan, karena dengannya dapat terbentang jalan menerapkan hukum Islam yang meninggikan derajat dan kedudukan kaum perempuan serta memberikan hak-hak yang telah Allah SWT tentukan.