Oleh : Ummu Irul

Kita, bangsa Indonesia sudah lama hidup dalam sistem ini (demokrasi). Konon, kata demokrasi itu berasal dari bahasa Yunani. Yakni dari kata demos dan kratos. Demos artinya rakyat, sedang kratos artinya kekuatan atau kekuasaan. Itu sih pelajaran Sekolah Dasar dulu.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, kata demokrasi (kb) bermakna pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, bentuk pemerintahan yang segenap rakyat turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya. Hal ini berarti bahwa dalam sebuah negara yang berdemokrasi, kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat dan pemerintahan dijalankan langsung oleh wakil yang dipilih oleh rakyat di dalam sebuah Pemilihan Umum.

Konon katanya, di dalam demokrasi itu ada empat kebebasan individu rakyatnya yang dijamin yakni kebebasan dalam berpendapat, beragama, bersikap dan berkepemilikan.

Maka berbahagialah jika engkau hidup dalam sistem demokrasi. Sebab jika anda Muslim, maka anda bebas untuk menjalankan syari’at Islam. Jika engkau seorang seniman, engkau bebas mengekspresikan diri atas nama seni, baik dengan pakaian yang sopan ataupun terbuka, menutup aurat ataupun mengumbarnya. Demikian juga, tak satu orangpun yang mampu melarang jika engkau menginginkan sebuah mata air jernih dari pegunungan yang asri, asal engkau punya duit. Karena setiap warga negara dijamin hak asasinya. Itu katanya!

Bila engkau penyuka sejarah, engkaupun bebas untuk menulis sejarah apapun yang memikat hatimu. Pun jika akhirnya tulisan itu dijadikan sebuah film, agar semakin banyak penikmatnya monggo, silakan saja! Apakah kontennya menyesatkan ataupun mencerahkan, tidak jadi soal. Pokoknya semuanya boleh alias bebas, itu semua sah-sah saja dalam prinsip demokrasi!

Namun cobalah renungi, wahai saudara-saudara, wahai kaum Muslim! Sadarlah, bahwa demokrasi yang katanya membebaskan manusia untuk bertindak dan berpikir itu, mitos belaka! Faktanya, dalam sistem ini (demokrasi), kaum Muslim dibelenggu, jangankan berekspresi, mau menonton sebuah film dokumenter saja dibatasi, bahkan dihalang-halangi. Apabila konten film mengajak kepada kebaikan, dalam hal ini meluruskan sejarah yang sejak lama dikaburkan, bahkan sampai ada yang dikuburkan, maka hal itu tidak boleh lolos, atau melenggang tanpa dihadang. Lain ceritanya apabila konten filmnya mengajak maksiat, agar generasinya menjadi generasi yang suka pesta pora, mabuk- mabuk, berpacaran, berperilaku menyimpang dan berbagai macam perilaku rusak lainnya, pasti deh didukung 100%, betulkah?

Mau bukti yang masih hangat?
Begini ceritanya, kemarin pada hari kamis, 20 Agustus 2020 bertepatan dengan 1 Muharrom 1442 H itu, kita-kita (kaum Muslim) sebanyak 250.000 itu baru yang terdaftar, berminat untuk menonton sebuah film dokumenter yang langka, dengan judul Jejak Khilafah di Nusantara.

Waktu yang direncanakan mulai filmnya telah datang yakni jam 09.00, namun hal itu terpaksa harus diundur setengah jam lagi, karena ada halangan, dan penyelenggara berusaha mencari jalan lain (link lain).

Hingga berlalulah waktu setengah jam, alhamdulillah film dokumenter JKdN dimulai, betapa deg-degannya hati seluruh kaum Muslim yang bisa menyaksikan film tersebut, sebab diawali oleh pemaparan beberapa ahli. Yakni sang penggagas/ penulis sekaligus sutradara, Nicko Pandhawa, Ustadz Ismail Yusanto dan Ustadz Rohkmat S. Labib, yang memberikan wejangan yang sangat berharga, sehingga kaum Muslim semakin antusias untuk menonton film tersebut hingga akhir.

Waktu berjalan tak terasa karena hanyut dalam film yang langka tersebut, bahkan mungkin seumur hidup (bagi penulis), begitu apik tersaji, membuat pemikiran umat terbuka dengan gamblangnya terkait sejarah bagaimana Khilafah dulu, mendakwahkan Islam di negeri ini hingga kita sekarang bisa merasakan nikmatnya memeluk Islam. Juga bisa membedakan kebaikan maupun kebatilan. Itu semua ternyata memang diatur dengan serius oleh Sang Kholifah agar Islam menyebar di seluruh penjuru alam termasuk negeri ini.

Namun keasyikan dalam menjiwai film tersebut, tiba-tiba harus terhenti karena di layar HP tertulis ” Vidio tidak tersedia konten ini tidak tersedia di domain negara ini karena ada keluhan hukum dari pemerintah.”
Why? Mengapa tetiba ada tulisan seperti itu?
Bukankah ini semakin mempertegas bahwa kebebasan dalam demokrasi hanya mitos belaka, bagi kaum Muslim?

So bagaimana sodara-sodara, apakah slogan bebas dalam berpendapat, beragama, bertingkahlaku dan juga berpemilikan benar-benar real dalam alam demokrasi? Atau hanya sekedar mitos di tengah-tengah umat?

Atau dua-duanya, artinya bebas iya tapi dengan catatan, tidak untuk kepentingan kaum Muslim? Kemudian tinggal mitos juga betul, jika berkaitan dengan ajaran Islam?

Tidak perlu dijawab, sodara/ sodari cukup direnungi saja! Jika demikian adanya, layakkah kita kaum Muslim bangga dengan sistem demokrasi ini, meski sudah lama bercokol di negeri ini? Buat apa kaum Muslim mempertahankan sesuatu, jika tidak menguntungkan di dunia, apalagi di akherat?

Segeralah move on, menuju sebuah sistem yang sudah jelas menguntungkan, baik di dunia maupun akherat. Karena ia berasal dari Sang Kholiq, Allah SWT. Karena Allah berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaffah/ menyeluruh.”

Itu artinya dalam memilih sistem pemerintahan juga harus memilih sistem Islam, karena kita orang beriman.

Wallahu A’lam bis showab.