Oleh: Pramudya Andita, S.Pd.

Eks juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ustadz Ismail Yusanto kerap hadir di dalam berbagai diskusi daring via sosial media maupun melalui media nasional menyikapi persoalan di negeri ini, keberadan Ustad Ismail sebagai pembicara ternyata tenyata dipermasalahkan oleh pihak lain.

Sebagaimana dikabarkan, Ayik Heriansyah didampingi Muanas Alaidid melaporkan Ust Ismail Yusanto ke Kepolisian Metro Jaya dengan Laporan Polisi Nomor : LP/5137/VIII/YAN 25/2020/SPKT/PMJ tanggal 28 Agustus 2020. Ihwal yang mendasari laporan adalah status Ust Ismail Yusanto sebagai Jubir HTI dan dakwah Khilafah yang diembannya ditengah Umat.

Dalam banyak kasus kriminalisasi Ulama dan aktivis Islam, sebab utama berprosesnya kasus bukan semata adanya laporan tetapi sikap penerima laporan yang begitu responsif menindaklanjuti laporan jika aduan berasal dari kubu rezim. Tudingan dan tuduhan tersebut lantas menjadi legitimasi dibenarkannya perbuatan persekusi kepadanya.
Para ulama yang teguh dalam berdakwah secara ahsan, mengkritisi kebijakan penguasa, hingga istiqomah mengingatkan umat agar mengamalkan Al Qur’an secara totalitas dalam seluruh aspek kehidupan saat ini akan dianggap sebagai kaum radikal yang mengancam keutuhan negara.

Sedangkan merajalelanya korupsi, suap-menyuap di Dewan Perwakilan Rakyat, penipuan, narkoba, tontonan tak senonoh (film porno), free sex hingga ketimpangan hukum di negeri ini, sudah menjadi hal yang biasa terjadi.

Dalam sistem demokrasi, atas nama Hak Asasi Manusia, kebebasan menyampaikan pendapat adalah salah satu hak yang dilindungi. Dalam pasal 28E ayat (1) UUD 1945 berbunyi:
“Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.

Ide feminisme bahkan ide eLGeBeTe yang diberi ruang dan fasilitas untuk tetap eksis sedangkan para aktivis dakwah Islam dikriminalisasikan, sedangkan gaya kehidupan kapitalis-sekuler dibebaskan sebebas bebasnya.
Hal ini telah menunjukkan wajah demokrasi yang hipokrit yaitu tidak konsisten terhadap aturan. Di satu sisi melindungi dan memiliki sikap menerima terhadap ide-ide apapun dengan alasan kebebasan, tetapi di sisi lain memiliki sikap atau tingkah laku yang menentang kebebasan khususnya bagi ide dan ajaran Islam.

Menurut Prof. Dr. Suteki, SH, M.Hum, “HTI secara historis tidak terlihat pernah melakukan perbuatan kekacauan terhadap kehidupan NKRI. Penyerangan fisik, kudeta atau apa pun namanya sangat sulit disematkan telah dilakukan oleh ormas HTI yang sejak 2017 telah dicabut Badan Hukum (BH)-nya.” Artinya, HTI dan FPI statusnya sama menjadi ormas tidak terdaftar dan tidak berbadan hukum. Bedanya, FPI tidak diperpanjang SKT-nya oleh Kemendagri, sedangkan HTI BHP-nya yang dicabut Kemenkumham.

Kedua Ormas ini tidak berbadan hukum, tidak memiliki SKT, dan tidak terdaftar
Sementara itu, berdasarkan pertimbangan putusan MK Nomor: 82 PUU-IX/2013, terhadap tafsir pasal 10 mengenai Ormas tidak terdaftar, MK menegaskan bahwa:
“Suatu Ormas dapat mendaftarkan diri di setiap tingkat instansi pemerintah yang berwenang untuk itu. Sebaliknya berdasarkan prinsip kebebasan berkumpul dan berserikat, suatu Ormas yang tidak mendaftarkan diri pada instansi pemerintah yang berwenang tidak mendapat pelayanan dari pemerintah (negara), tetapi negara tidak dapat menetapkan Ormas tersebut sebagai Ormas terlarang, atau negara juga tidak dapat melarang kegiatan Ormas tersebut sepanjang tidak melakukan kegiatan yang mengganggu keamanan, ketertiban umum, atau melakukan pelanggaran hukum.

Namun bercermin pada upaya sistematis terhadap pencabutan BH HTI hingga persekusi lanjutan terhadap orang-orang yang terlibat dakwah khilafah, kasus persekusi Ustadz Zainullah dan Abdul Halim oleh Ormas Banser di Pasuruan hingga penyematan HTI sebagai Laskar Pengacau Negara hingga persekusi dua kalinya Ustadz Ismail Yusanto, bisa kita simpulkan bahwa hak berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat di negeri ini terkesan diberangus. Prinsip pembinaan yang seharusnya dilakukan oleh negara melalui pemerintah juga tidak diutamakan. Bahkan terkesan menggebuk para aktivis dakwah yang kritis terhadap pemerintah. Inikah demokrasi selama ini yang diunggul-unggulkan?

Namun apakah seorang pengemban dakwah akan diam ataukah berjuang? memilih jadi penentang syariat atau menganggap khilafah ajaran islam sebagai janji Allah yang harus diperjuangkan? Coba fikirkan dan renungkan

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” Surat Tha-Ha, Ayat 124

Wahai sadaraku pengemban kebenaran, pejuang syariah Allah ingatlah Imam al Ghazali pernah berkata: “Ketahuilah bahwa siapa yang mengukur kebenaran dengan tokoh, ia akan tersesat dalam lembah kebingungan.

Maka kenalilah kebenaran, pasti kamu akan tahu siapa pemiliknya, jika kamu benar-benar ingin meniti jalan kebenaran. Tapi jika kamu hanya puas dengan ikut-ikutan dan melihat tren ketokohan manusia, maka jangan lupa tentang sahabat dan ketinggian derajat mereka yang tidak tertandingi.

Semua itu diperoleh bukan melalui jalur kalam atau fikih, melainkan melalui jalur ilmu akhirat dan meniti jalannya.” [Ihya Ulumiddin, 1/173].

Contoh ulama yang mencerminkan kebahagiaan dunia-akhirat adalah syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Muridnya yaitu Ibnul Qayyim menceritakan kebahagiaan gurunya, “Allah Ta’ala pasti tahu bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Ta’ala, yaitu berupa siksaan dalam penjara, ancaman dan penindasan dari musuh-musuh beliau.

Namun bersamaan dengan itu semua, aku dapati bahwa beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya dan paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar kenikmatan hidup yang beliau rasakan. Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup, kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat, maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”.

Bahkan ketika beliau di penjara beliau Ibnu Taimiyah berkata, “Seandainya benteng ini dipenuhi dengan emas, tidak ada yang bisa menandingi kenikmatanku berada di sini”. Beliau juga berkata, “Orang yang dipenjara adalah orang yang hatinya dibelenggu dari Rabb-nya Ta’ala.”

Beliau juga berkata, “Apa yang dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya surgaku dan tamannya ada di hatiku, jika, ke mana aku pergi ia selalu bersamaku, jika mereka memenjarakanku maka penjara adalah khalwat bagiku, jika mereka membunuhku maka kematianku adalah syahid, jika mereka mengusirku maka kepergianku adalah rekreasi.

Dan pesan itulah yang sering diucapkan oleh Ustadz Muhammad Ismail Yusanto, MM. Ketika beliau memotivasi para pengemban dakwah lainnya.

Wahai para pembenci Islam, pembenci dakwah Islam, dan pembenci dakwah Syariah dan khilafah. Ingatlah : “Tidakkah kamu tahu bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan tidak ada bagimu pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 107).

Mereka berkehendak memadamkan cahaya agama Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka dan Allah tidak meghendaki selain menyempurnakan cahayaNya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai (QS. At-Taubah [9] : 32)

Semoga Allah subhanallahu wa ta’ala menjaganya,
memberikan kesehatan, kekuatan dalam membimbing ummat,
menuju kembalinya kehidupan Islam yang tidak lama lagi dengan izin Allah. Azza wa Jalla

Sejatinya perjuangan, dan pengorbanan disini, untuk kemulyaan disana yang abadi
Istiqomah jalan dakwahnya

Sejatinya ujian disini, untuk kemuliaan disana yang abadi
Sabar dan ikhlas kuncinya

Sejatinya keimanan disini, untuk kebaikan disana yang abadi
Ridho dan rela rahasianya

Sabarlah, Ujian perjuangan memang berat
Tapi kemuliaannya luar biasa dunia akirat
In Syaa Allah