Oleh. Ir. H. Izzah Istiqamah (Praktisi Pendidikan)

Pandemi yang menyerang hampir diseluruh dunia, ternyata tak hanya berdampak pada aspek kesehatan dan pendidikan saja, bahkan berdampak besar pada perceraian yang marak terjadi. Tak terkecuali di kota Ponorogo, angka perceraian di saat pandemi Covid-19 di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur ternyata cukup tinggi. Ketua Pengadilan Agama Ponorogo Abdurahman, kepada TIMES Indonesia Rabu (26/8/2020) mengatakan, ada 3000 kasus di Ponorogo, yang 2500 merupakan kasus yang diajukan istri atau cerai gugat dan kasus yang diajukan suami atau cerai talak.(Times.Indonesia)

Salah satu efek perceraian ditengarai karna perekonomian yang memburuk menyerang masyarakat. Gelombang pemutusan hubungan kerja atau PHK di sejumlah perusahaan diperkirakan akan semakin sering terdengar pada masa pandemi Corona Covid-19 ini.( Liputan6.com)

Pengamat Kebijakan Publik dan Ekonomi UI Harriyadin Mahardika mengatakan, rasionalisasi sumber daya manusia atau SDM yang terjadi di berbagai perusahaan adalah hal lumrah terjadi, lantaran banyak sektor yang mengalami penurunan permintaan akibat meluasnya pandemi Covid-19.

Mengapa Hal iini terjadi?

Ternyata akar masalahnya adalah rapuhnya ketahanan keluarga. Semua keluarga termasuk keluarga muslim pasti berharap keluarganya bisa menjadi keluarga yang kuat, kokoh dan tidak gampang tergoyahkan. Sayangnya, untuk mewujudkan hal yang semacam itu bukan sesuatu yang mudah di tengah kondisi yang carut marut seperti saat ini.

Penerapan sistem sekuler kapitalisme telah memunculkan berbagai krisis multidemensi yang akhirnya mengganggu pola relasi antar anggota keluarga dan menggoyang bangunan keluarga hingga rentan perpecahan, bahkan tak hanya struktur keluarga yang goyah tapi masyarakat pun ikut goyah karena keduanya saling berpengaruh. Karena budaya liberalisme dan aturan-aturan sekuler Kapitalis barat menyebabkan terjadinya perselingkuhan, perzinaan yang mengarah kepada kerusakan.

Ketahanan keluarga akan terjamin dalam islam. Karena mekanisme Islam Mewujudkan Ketahanan Keluarga. Sudah menjadi karakter yang melekat pada masyarakat Islam adalah keluarganya harmonis dan kuat. Pengakuan tersebut pernah di sampaikan oleh prof. Gesten Jess seorang ahli hukum keluarga dari Swiss. yang ketika itu mengunjungi Republik Turki Utsmani pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah.

Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna memiliki konsep dalam membangun masyarakat dan negaranya termasuk menjaga ketahanan keluarganya dengan penerapan Syariat Islam secara Kaffah dalam institusi politik Khilafah Islamiyyah.

Dengan takwa sebagai modal dan benteng utama dalam membangun sebuah keluarga, maka individu keluarga tidak akan mengejar hasrat individu saja dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya, akan tetapi dia akan melandasinya dengan nilai ibadah, pahala dan mencari ridha Allah dalam beraktivitas. Suami, istri, anak-anak akan ikhlas menjalankan tugas dan perannya masing-masing karena memandang itu sebagai ibadah. Sehingga bangunan masyarakat yang terlahirpun menjadi masyarakat yang bertakwa.

Selanjutnya adalah dengan membangun relasi yang benar antara laki-laki dan perempuan. Negara berkewajiban memastikan setiap individu, keluarga, dan masyarakat bisa sejahtera. Negara harus memastikan terpenuhinya kewajiban setiap kepala keluarga (suami) atau para wali untuk mencari nafkah dengan menyediakan lapangan kerja bagi laki-laki agar dapat memberi nafkah pada keluarga mereka, memberikan pendidikan dan pelatihan kerja, bahkan jika dibutuhkan akan memberikan bantuan modal. Islam akan menindak suami yang tidak memenuhi kebutuhan keluarganya dengan baik melalui negara.

Islam menetapkan bahwa pergaulan suami-istri adalah pergaulan persahabatan. Satu sama lain berhak mendapatkan ketenteraman dan ketenangan. Kewajiban nafkah ada di pundak suami, yang bila dipenuhi akan menumbuhkan ketaatan pada diri istri. Pelaksanaan hak dan kewajiban suami-istri inilah yang menciptakan mawaddah wa rahmah dalam keluarga.

Pelaksanaan aturan Islam secara kâffah oleh negara akan menjamin kesejahteraan ibu dan anak-anaknya, baik dari aspek keamanan, ketenteraman, kebahagiaan hidup, dan kemakmuran. Dengan penerapan hukum Islam kemuliaan para ibu sebagai pilar keluarga dan masyarakat akan terjaga. Peran politis dan strategis mereka pun berjalan dengan begitu mulus, hingga mereka mampu melahirkan generasi yang unggul dan berperadaban mulia.