Oleh: Sri Wahyuni S.Pd

Jejak Khilafah di Nusantara sebuah film yang membuat perbincangan Khilafah kembali mencuat. Film dokumenter besutan sutradara Niko Pandawa ini sukses mengguncang jagad medsos. Betapa tidak, film yang menceritakan keterkaitan antara Nusantara dengan Kekhilafahan timur tengah serta turki utsmani ini membeberkan banyak fakta sejarah yang selama ini jarang diketahui publik. Di antara fakta yang dibeberkan tersebut adalah fakta bahwa Nusantara pernah menjadi bagian dari Daulah Islam. Hal inilah yang membuat pembahasan Khilafah kembali menjadi topik hangat yang diperbincangkan di tengah masyarakat. Bahkan statement “Khilafah tak bisa diterapkan di Indonesia sebab Indonesia sudah final, sehingga Khilafah tertolak” pun kembali mencuat.

Membahas Khilafah tentu akan lebih adil jika melihat apa yang ditawarkannya bagi negeri atau mampukah Islam dan Khilafahnya menuntaskan problematika negeri. Jika kita mengamati, 75 tahun negeri ini berdiri justru ada banyak aspek kehidupan yang belum merdeka, salah satunya adalah pendidikan. Bukan rahasia lagi jika tak semua rakyat dapat menikmati pendidikan secara utuh dari jenjang SD hingga Perguruan Tinggi. Hal ini disebabkan biaya pendidikan yang tak bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Bagi mereka yang beruntung bisa masuk ke sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi pun tak lantas bisa bernafas lega. Pasalnya, orientasi pendidikan yang mengukur kecerdasan dari deretan nilai tinggi justru menimbulkan sejumlah masalah. Mulai dari siswa yang nekad berbuat curang untuk meraih nilai tinggi hingga sekolah yang tak lagi menjadi tempat menyenangkan sebab banyaknya beban tugas. Selain itu, minimnya pendidikan agama di sekolah pada akhirnya tak mampu memberi bekal yang cukup bagi siswa sehingga sering didapati banyaknya lulusan yang lemah sisi ruhiyahnya maupun moral yang amat buruk.
Menanggapi dekadansi moral generasi yang kian memprihatinkan tersebutlah Khilafah hadir menawarkan solusi terbaik. Dimana Islam memandang pentingnya negara untuk memperhatikan secara serius masalah pendidikan.

Perhatian yang mencakup soal penyelenggarannya baik penyediaan sarana dan prasarana, menghadirkan guru terbaik, hingga kurikulum pendidikan yang di design sedemikian rupa untuk mendukung terwujudnya tujuan pendidikan yakni melahirkan generasi yang berkepribadian Islam, menguasai tsaqafah Islam, hingga menguasai ilmu kehidupan (sains teknologi dan keahlian). Dengan demikian jelas bahwa pendidikan Islam berorientasikan akherat. Bahkan penguasaan ilmu kehidupan adalah dalam rangka mewujudkan kemaslahatan umat. Dengan didikan yang demikian, output yang dihasilkan adalah lulusan yang memiliki kompetensi lengkap baik secara intelektual, moral maupun spiritual.

Menariknya di dalam Islam, pendidikan dengan kualitas terbaik tersebut dapat dinikmati secara Cuma-Cuma oleh rakyat tanpa terkecuali. Dengan demikian apa yang sesungguhnya ditakuti dari Khilafah. Bukankah keberadaannya justru dapat mencetak generasi-generasi unggul yang dibutuhkan negeri ini untuk membangun negara. Bahkan jika hendak membenci, maka Kapitalisme-Demokrasi layak untuk itu. Penerapannya di berbagai bidang kehidupan telah menimbulkan banyak masalah dan kekacauan termasuk dalam dunia pendidikan. Maka jika kebencian hari ini ditujukan kepada Khilafah adalah aneh sementara yang jelas-jelas merusak negeri ini melalui generasinya justru dibiarkan bahkan banyak dari kita merasa aman-aman saja akan hal itu.