Oleh : Ida Yani

Sosiolog Prof Musni Umar menyesalkan respons Menteri Agama Fachrul Razi terhadap aksi penggerudukan Banser terhadap ulama yang dituduh HTI, di Rembang, Pasuruan, Jawa Timur (fajar.co.id).

Diketahui, Banser berupaya melakukan tabayyun atau klarifikasi atas dugaan penghinaan terhadap tokoh NU Habib Luthfi oleh akun media sosial salah seorang guru di sebuah yayasan lembaga pendidikan keagamaan di Rembang.

Yayasan tersebut juga diduga menjadi tempat penyebaran ideologi khilafah dan tempat pertemuan anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang keberadaannya sudah dilarang pemerintah. Upaya tabayun itu dipimpin Ketua PC Ansor Bangil Saad Muafi beserta 150 anggota Banser.

Dua pernyataan yang berbeda dari satu fakta yang sama. Pak Mentri menyatakan bahwa Banser hanya mengklarifikasi secara damai dan memberikan penghargaan.

Sedangkan Prof Musni Umar berselisih pendapat atasnya.
Memang video kejadian itu sudah tersebar di medsos.
Membuat emak – emak yang suka iseng mantengi video tersebut, jadi kasak- kusuk di sana-sini. Sebenarnya klarifikasi apa persekusi? Kok seperti itu?

Masak Menag kasih jempol sih sama Bapak- Bapak bersuara keras yang membuat mak- mak jadi ilfil. Namanya klarifikasi itu kan duduk bersama, ngobrol enak, tanya- tanya, lha kalau seperti itu masak klarifikasi?
Apalagi ini berkaitan dengan masalah keagamaan.
Seputar ilmu Islam dilakukan oleh Ulama.

Coba kita dalami tabayun itu apa. Ingat dengan Pak Bayan? Pak Bayan itu mengabarkan tiap ada maklumat yang perlu disampaikan pada warga. Pak Bayan itu datang dengan uluk salam, menyampaikan dengan baik, pergi uluk salam lagi, bukan dengan ancaman. Maka yang dilakukan Pak Banser itu adalah persekusi, bukan klarifikasi.

Terlebih Bapak- Bapak di Pasuruan itu kan hanya halaqoh, masak dikatakan merongrong negara?
Di medsos lho banyak dijelaskan Khilafah itu pelajaran fiqih Islam.
Rosulullah juga mendirikan Daulah Khilafah, iya kan?
Masak Khilafah disamakan dengan Partai Komunis?
Aneh kan? Khilafah itu lho Islam kaffah. Bukan atheis. Berlawanan kan?

Seharus Pak Mentri ganti klarifikasi kepada Bapak Banser dan Bapak Ulama, diajak duduk bareng sambil ngopi, lalu halaqoh bareng kan enak. Tidak sama- sama emosi dan jadi paham fiqih Islam semua, indah kan ? Subhanallah.