Oleh : Tyas Ummu Amira

Akhir – akhir ini jumlah perceraian merangkak naik, seiring dengan bertambahnya pasien positif covid 19 pun ikut melejit. Tidak tangung – tangung angka kejadian per hari tembus 150 kasus, semua ini mayoritas dilatarbelakangi karena faktor ekonomi yang mendera akibat dampak pandemi.

Replubika.co.id — Bupati Bandung, Jawa Barat, Dadang Naser mengajak para ulama berperan memberikan nilai-nilai religi kepada pasangan suami istri guna menekan angka perceraian yang tinggi hingga 1.102 kasus pada Juli 2020.

Oleh karena itu, peran ulama sangat diperlukan agar para suami istri tidak memilih jalan pintas, bercerai saat menghadapi dan menyelesaikan persoalan rumah tangga,” kata Dadang dalam keterangannya di Bandung,

Dia menjelaskan mayoritas perceraiandi Kabupaten Bandung dilatarbelakangi faktor ekonomi. Hal tersebut terjadi lantaran banyaknya kepala keluarga yang terpaksa dirumahkan karena adanya wabah Covid-19. Ahad (30/8/2020).

Dengan melihat fakta diatas dampak akibat pandemi covid19 ini sangat luar biasa efeknya. Sebab semua lini kehidupan pun lumpuh akibat hantamanya, mulai dari sektor kesehatan, sosial, politik, hingga industri pun harus gulung tikar sejak di berlakukanya PSBB. Pendapatan serta omzet penjualan mereka menurun lantaran masyarakat dilanda krisis baik kesehatan maupun ekonomi yang mengakibatkan semua sendi perputaran sektor riil dan non riil mengalami kelesuhan. Sehingga banyak perushaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan, lantaran tak sanggup untuk membayar gaji karyawan karena bea produksi yang terus meninggi tetapi income rendah.

Semua itu berimbas kepada sekup terkecil yaitu keluarga, dimana gelombang krisis ini mengabrasi ketahanan pangan serta kebutuhan pokok lainya. Dimana harga bahan dasar merangkak naik, belum lagi tagihan iruran bpjs serta listrik yang mengahatui setiap bulanya. Seakan hidup terasa sempit dan tertekan dalam kukungan sistem kapitalis ini, dimana yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.

Sistem kapitalis ini berhasil menggerus ketahan keluarga masyarakat khususnya rakyat kecil dalam masalah ekonomi, mereka harus membanting tulang sekeras – kerasnya untuk menghidupi keluarganya. Disaat musim pandemi seperti sekarang ini banyak kepala keluarga yang kehilangan matapencaharian utamanya, tak sedikit akhirnya para istri rela turun tangan untuk ikut keluar mencari pekerjaan.
Alhasil ditengah hiruk pikuk kehidupan yang serba sulit banyak keluarga yang tak kuat dengan situasi yang tak lazim membuat emosi anggota keluarga karena kebutuhan sehari – hari yang tak tercukupi. Dari beberapa kasus perceraian yang terjadi kebanyaknya pihak istri melakukan gugat cerai, tidak lain alasanya tidak jauh – jauh masalah ekonomi. Semua ini berdampak luas dan secara sistemik, hingga mengabaikan anak – anaknya tidak heran jika mereka menjadi generasi yang terpuruk sebab pertahanan utamanya sudah rapuh bahkan hancur.

Carut – marut kehidupan ini bersumber pada sistem yang dianut negeri ini bermental matrealistik, berkedok kapitalis. Dimana kebijakan yang dikeluarkan tak hayal ilusi belaka, bantuan sosial serta subsidi tak merata. Dengan di ribetkan masalah syarat – syarat adminitrasi semata, hingga yang seharusnya dapat bantuan teryata tak tersentuh. Inilah potret buram sistem kapitalis yang tak mampu mengurusi problematika umat, kebijakanya hanya menyesakkan hati rakyatnya sebab lebih memilih para penyokong modal.

Islam Mengkokohkan Ketahanan Keluarga

Pernikahan sejatinya untuk membentuk keluarga dan sekaligus mewujudkan ketenangan didalamnya yakni sakinah wamadah warahmah. Pilar penting bagi ketahanan keluarga ialah menerapkan sistem Islam yang didalamnya mengemban ide Ilahi yang shahih. Pernikahan adalah salah satu sunnah yang dianjurkan dan diperintahkan dalam Islam sebagaimana hadist Rasulullah saw. Menikah adalah sunnahku, barangsiapa yang tidak mengamalkan sunnahku, bukan bagian dariku. Maka menikahlah kalian, karena aku bangga dengan banyaknya umatku (di hari kiamat) (HR. Ibnu Majah no. 1846, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 2383).

Dalam Islam hubungan pasutri bukan meluluh untuk memperutukkan hawa nafsu saja, jauh dari itu banyak aspek yang terkandung didalamnya. Mulai dari membentuk akidah kokoh dalam membangun rumah tangga, adanya keterbukaan satu sama lain serta belajar lebih qonaah dalam mengahadapi semua persoalan yang muncul di tengah perjalanan bahterah rumah tangga. Hingga pada saat terjadi cek cok serta permaslahan yang pelik tidak gampang untuk memutuskan kata cerai atau talak sebab Rasululllah swa mengingatkan. “Perbuatan halal yang paling dibenci Allah adalah cerai.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud (2178), Baihaqi, dan Ibnu adi, dari jalan Mu’arrof bin Washil, dari Muharib bin Ditsar, dari Ibnu Umar secara marfu’.

Senada, dengan hadist diatas. Shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, “Wanita mana saja yang minta cerai pada suaminya tanpa sebab, maka haram baginya bau surga.” (HR. Abu Dawud: 2226, Darimi: 2270, Ibnu Majah 2055, Amad: 5/283, dengan sanad hasan)

Dalam Islam perceraian adalah tindakan halal namum dibenci Allah Swt, oleh karena itu dengan berbagai masalah yang timbul seyogjanya dapat ditemukan jalan alternatif lain. Misalnya dalam masalah ekonomi dimana sering menjadi prahara api perceraian sebab tidak kuat sang istri menghadapi kenyataan serba kurang. Dalam masalah ini semua harus ada peran negara, dimana negara wajib menjamin semua kewajiban warganya agar tidak sampai terjadi kelaparan serta kekurangan kebutuhan pokok. Di lain sisi dalam kondisi pandemi seperti ini seharusnya pemangku kebijakan ini serius menangani krisis ekonomi yang menghantam rakyat kecil, dengan memberikan bantuan sosial serta lapangan pekerjaan agar bisa menghidupi keluarganya.

Dengan demikian hanya dengan soslusi Islamlah semua problem kehidupan terselesaikan. Semua itu terwujud dalam bingkai negara khilafah, yang telah berhasil dicontohkan oleh para khuafaturasyidhin.

Waallahu’ alam bishowab.