Oleh: dr. Dana Farah (Co-founder Dokter Kembar)

Hidup penuh #pilihan. Mendidik anak dengan cara seperti apa, itu adalah pilihan. Ketika ada persoalan atau tuntutan dari anak, mau menyelesaikan dengan model reaktif atau responsif, semua itu juga pilihan.

Saat anak melempar mainannya, orang tua bisa langsung #bereaksi dengan teriakan dan nada menyalahkan, “Eh, kok gitu sih de! Rusak mainannya nanti, bunda nggak akan pernah belikan mainan lagi kalau Ade kayak gini!”.

Atau #merespon dengan nada kalem tanpa menghakimi dan bertanya alasan mereka berbuat. “Ade, kenapa dilempar mainannya? Ade marah? Marah boleh, tapi melempar mainan bukan hal yang baik untuk dilakukan. Coba sini, bilang ke mama baik baik, kenapa kok marah?”

Apa itu orang tua yang #reaktif? Model orang tua yang lebih sering menggunakan refleksnya (baca: Lymbic system) dari pada logika atau nalarnya (baca: Frontal Lobe).

Ketika orang tua “muak” dengan perilaku anak, mereka akan berteriak, menjerit, bahkan sampai memukul. Alih-alih #menikmati kebersamaan dengan anak, yang ada justru selalu mencari salahnya anak.

Pola asuh reaktif mengajarkan #manipulasi perilaku. Orang tua merasa dimanipulasi oleh anak dan anak merasa dimanipulasi oleh orang tua. Jika ini terus berlanjut, anak akan kesulitan untuk mengenali mana hal yang benar dan mana yang salah; karena motivasi mereka berperilaku hanya untuk menyenangkan orang tuanya. Anak takut dengan reaksi orang tua.

Jika perilakunya didasarkan pada kesenangan orang tua, apa yang terjadi saat orang tua tidak ada? Belajar #prinsip benar dan salah membutuhkan keterampilan penalaran dan logika yang hanya didapat dari frontal lobe. Jika orang tua lebih sering bereaksi menggunakan #lymbic system mereka maka anak tidak akan belajar bagaimana menggunakan #frontal lobe mereka.

Apa itu pola responsif (proaktif)? Responsif sama dengan sensitif. Model pengasuhan yang sangat sederhana. Ada dua komponen yang terlibat. Pertama, paham #emosi negatif dan kebutuhan anak. Kedua, beri dukungan kepada anak sesuai kebutuhan.

Orang tua yang responsif membuat anak merasa aman dan cenderung lebih santai. Mereka mengajari anak mengatur emosi. Hal ini membantu mengembangkan mekanisme menenangkan diri yang efektif. Anak belajar bagaimana mengatasi emosi negatif mereka bahkan ketika jauh dari orang tua. Jarang terjadi lonjakan kortisol (baca: stres) karena mereka bisa mengatasi emosi negatifnya dengan cepat.

Model pengasuhan responsif akan memberikan hasil kognitif yang lebih baik untuk anak-anak. Misalnya, anak akan belajar bahasa lebih cepat, memiliki ketrampilan untuk memecahkan masalah, fokus, dan mandiri. Bahkan secara kesehatan, anak memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik karena terhindar dari racun akibat stres.

Dari penelitian dibuktikan bahwa anak yang dibesarkan oleh orang tua responsif, memiliki #hipocampus yang lebih besar. Hipocampus adalah bagian otak yang dipakai untuk belajar, mengingat, dan merespon stres.

Tips untuk menjadi orang tua yang responsif.

  1. Tanamkan kuat “#versi terbaik” anak dalam benak.
  2. Biasakan berbicara #positif kepada anak.
  3. Sering beri #pilihan kepada anak meski hanya hal yang sepele. Contoh, mau mandi sekarang atau lima menit lagi?
  4. Saat anak bertingkah, cari #penyebabnya terlebih dahulu sebelum menghukumnya. Mungkin anak ngantuk, lapar, cemburu, bosen, atau hanya sekedar cari perhatian orang tuanya.
  5. Saat anak bertingkah, #berhentilah sejenak sebelum merespon. Kadang tidak butuh untuk direspon dengan teriakan dan kemarahan. Jika ternyata anak hanya menginginkan perhatian dari kita, maka jangan terjebak dengan “permainan” mereka.
  6. Selalu cari cara untuk membuat anak #menikmati proses belajar mereka tentang kehidupan.
  7. Penuhi #tangki cintanya

Sampai umur kurang lebih 25 tahun, anak masih akan terus membutuhkan bantuan dari orang tuanya untuk menjadi frontal lobe mereka. Membersamai mereka memahami kehidupan harus tetap dilakukan.

Marilah jadi orang tua yang lebih sering responsif daripada reaktif demi kebaikan masa depan anak.

Riyadh, 30 Agustus 2020

🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃

Saya menantang mbak Desi Wulan Sari
untuk menuliskan teme bebas diakhir #RWCDay31. Terima kasih.

BeraniMenulisBeraniBerbagi

RWCDay30

RWC2020

GerakanMedsosUntukDakwah