Oleh: Desi wulan Sari

Seorang ulama hanif adalah guru yang patut digugu, sebagai suri tauladan bagi muridnya dalam menyampaikan kebenaran. Dialah yang membimbing dan membina umat Islam untuk kembali kepada syariat. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah saw kepada umatnya. Perlunya mengkaji ilmu Islam untuk membentuk pribadi seorang muslim yang taat dan baik. Seorang muslim juga manusia yang butuh pendidikan, sosialisasi dalam masyarakat. Maka melalui ulamalah seorang muslim belajar, tetap dalam koridor rpedoman pada Al-Quran dan As-Sunah.

Sejak masa Rasulullah hingga masa kekhilafahan Turki Utsmani, ulama sangat dimuliakan, dihormati dan dihargai kontribusinya bagi umat. Seoang ulama yang memahami hukum Islam dengan kaffah, juga sebagai cendekiawan muslim, peneliti dan mujtahid dalam melaksanakan perannya. Tak ayal saat masa kegemilangan Islam, teknologi dan ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat. Masyarakat muslim tidak pernah meninggalkan syariat Islam demi hawa nafsu dan dunia fana.

Namun, hari ini peran ulama dijadikan lelucon. Tak ada tempat baginya untuk mendakwahkan Islam kaffah kepada umat muslim sendiri. Persekusi, kriminalisasi sedang marak dilakukan. Tidak bisa membayangkan di negeri yang penduduknya muslim terbesar bisa melakukan hal yang di luar nalar umat. Umat Islam sedang di adu domba satu sama lain. Rezim berkuasa seakan mendiamkan dan membiarkan rakyatnya di pecah belah. Sehingga pantaslah, jika masyaraktnya sendiri mempertanyakan kredibilitas penguasa hari ini. Apakah sistem kufur ala barat membuat pemikiran manusia menjadi lemah. Material dan kekuasaan seakan menjadi fokus dan prioritas dalam menjalankan negeri ini. Alangkah sedihnya, hanya untuk sebuah nafsu dunia mengorbankan kemuliaan agama dan pengemban dakwahnya sendiri.

Saatnya umat muslim bangkit, kembali kepada syariat. Kembali kepada karakter seorang muslim sejati. Yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan mencintai ulama dan salaful shalih sebagai pewaris Baginda Nabi saw. Hentikan kezaliman kepada para ulama hanif, persekusi, bahkan kriminalisasi yang tidak beralasan sma sekali. Janganlah umat terpedaya oleh musuh-musuh Islam, yang senantiasa mencari kelemahan dan berupaya menghancurkan Islam demi melancarkan tujuan manusia yang hanya sebatas dunia.

Mencintai ulama dan orang shalih adalah adab/akhlak mulia. Bahkan termasuk akhlak para ulama dan orang-orang shalih terdahulu. Karena Allah Ta’ãlã telah mengangkat derajat dan memuliakan para ulama pengemban ilmu, maka orang-orang beriman juga harus memuliakan orang yang telah dimuliakan Allah. Allah Ta’ãlã berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan (ulama) beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Q.S. Al Mujãdilah/58: 11).

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amrû bin Al ‘Ãsh, ia menuturkan, saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba-Nya. Namun Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, hingga apabila tidak tersisa lagi seorang ulama, orang-orang akan mengangkat orang bodoh menjadi pemimpin. Mereka ditanya, mereka tepaksa berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.” (H.R. Bukhãrî dan Muslim). Wallahu a’lam bishawab.