Oleh : Habsah (Mahasiswa UINSU)

Lagi dan lagi setiap harinya negeri ini dirundung masalah, kasus kriminal yang panas ditelinga menjadi berita yang terus ditayangkan. Seperti kejadian di kota medan, malang sungguh nasib seorang pria tua renta berinisial AP (65) di kota medan, nyawanya melayang akibat perbuatan anak kandungnya sendiri. Anaknya tega menghabisi nyawa sang ayah hanya gara-gara sang ayah menolak memenuhi permintaan anaknya untuk memberikan ban becak motor milik ayahnya. Warga yang mengetahui kejadian ini langsung membawa AP ke klinik terdekat, namun nyawanya sudah tidak tertolong lagi.

Sampai saat ini belum diketahui motif pelaku menginginkan ban betor tersebut, namun yang jelas permasalahan sosial seperti ini bukanlah hal sepele, kanit reskim polsek medan Helvetia mengatakan bahwa hal ini dikenakan pasal 351 ayat 3 KUHP, tentang penganiayaan “Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun”.
Keadaan seperti ini sungguh sangat miris, betapa teganya seorang anak membunuh ayah kandungnya hanya gara-gara perkara sepele. Hal ini terbukti bahwa sistem kehidupan sekuler-kapitalis telah menciptakan kehidupan tanpa nurani, tanpa peduli dosa dan tanpa takut mati. Akhirnya masalah seperti ini hanya berujung kepada lepas tangannya Negara dalam mengurusi rakyatnya akan persoalan semacam ini. Karena sistem ini menjadikan individu untuk mengurusi persoalannya masing-masing terlebih jika tidak menguntungkan negara.

Sistem sekuler-kapitalis juga ladang penyubur kemaksiatan. Dilihat dari segi sanksi hukum, keberhasilan dalam menangani kasus kejahatan masih sangat kurang. Melihat Indonesia yang mengaku sebagai Negara hukum, hukum yang diterapkan masih sangatlah lemah. Bukan hanya perkara atas kesadaran masyarakat saja namun juga berlaku bagi penegak hukumnya serta peran Negara.
Bahkan negeri kita tak mampu memberikan efek jera bagi para pelaku kejahatan. Wajar saja, Indonesia disinyalir telah menjadi surga bagi para pelaku kemaksiatan. Karena tidak mampu mencegah arus kemaksiatan yang setiap hari kian melonjak. Maka tidak heran akan terus kita dapati kejahatan yang sama dan tindak pelanggaran aturan masih saja terulang setiap tahunnya, bahkan menunjukan angka peningkatan yang signifikan.
Berbeda dengan kapitalisme yang telah terbukti gagal memberikan ketenteraman dan keamanan bagi manusia.

Islam memuaskan akal dan sesuai dengan fitrah manusia sehingga dapat memberikan ketenteraman bagi manusia, karena Islam berasal dari Allah SWT, Sang Pencipta, yang Maha Mengetahui apa yang tepat dan tidak tepat untuk ciptaannya. Islam telah memberikan aturan yang sangat lengkap yang menjaga manusia dari kerusakan, baik untuk individu, masyarakat, maupun bangsa.

Syari’at berfungsi untuk menjaga aqidah, harta, akal, keturunan bahkan nyawa manusia. Islam dengan syari’atnya berfungsi menjaga nyawa manusia dengan sanksi qishosh sendiri dapat membuat pelaku pembunuhan jera dan membuat si pelaku tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari. Sehingga permasalahan seperti ini pasti akan dituntaskan sampai ke akar-akarnya agar hal serupa tidak berulang.
Bila penyebabnya masalah ekonomi maka islam sudah punya solusi dengan sistem ekonomi Islam. Bila penyebabnya masalah pendidikan/akhlak maka islam pun juga sudah punya solusinya dengan sistem pendidikan Islam. Bahkan solusi itu sudah ada sebelum sebuah masalah lahir.
Jadi, masih mau kah umat berharap pada sistem yang tak berhasil memberantas masalah ini? Sudah saatnya umat sadar dan bangkit, agar segera terbebas dari sistem rusak saat ini. Hanya orang bodoh yang ingin berlama-lama dan mempertahankan sistem yang sangat bobrok dan sekarat ini. Demokrasi yang digadang-gadang memperbaiki negeri, justru malah mengasilkan hal yang sebaliknya. Maka jangan heran, negeri kita ini masih dibayangi oleh krisis dari berbagai lini. Maka dari itu sudah saatnya kita kembali kepada Islam.