Oleh: Kholila Ulin Ni’ma, M.Pd.I

Tertegun. Begitulah refleks banyak orang tatkala Menteri Agama Fachrul Razi justru mengapresiasi persekusi yang dilakukan oleh Banser PC Ansor Bangil. Ya, telah jamak diketahui bahwa gerakan pemuda ini telah menggeruduk warga Pasuruan yang disebut pengikut Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Bahkan, seorang oknum Banser tersebut tampak membentak-bentak seorang Kyai. Videonya telah viral. Kecaman datang dari berbagai kalangan, pasalnya persekusi yang disebut-sebut sebagai langkah ‘tabayyun’ itu lebih seperti tindakan seseorang yang kalap hingga lupa keutamaan adab.

Sikap Menag yang mengapresiasi tindakan persekusi pun mendapat perhatian salah satunya dari Prof. Musni Umar. Beliau melihat proses yang dikatakan tabayun oleh Banser itu dilakukan dengan cara membentak dan mengintimidasi. Rektor Universitas Ibnu Chaldun itu berpandangan bahwa upaya tabayyun seharusnya dilakukan dengan cara-cara yang baik. Jika ada perbedaan, beliau menandaskan untuk mujadalah (berdebat) dengan cara yang baik.

“Kalau pernyataan Menag ini benar, amat disayangkan, karena Islam tidak mengajarkan untuk membuat kekerasan, membentak, dan melakukan intimidasi kepada ulama atau kepada siapa pun,” ucap Prof Musni sebagaimana dikutip di akun twitternya. (fajar.co.id, 23/8/2020)

*Apa Makna Tabayyun?*

Setiap muslim harusnya bisa membedakan tabayyun dengan persekusi. Tabayyun berasal dari kata kerja lampau (fi’il madhi) “tabayyana”. Ia mengikuti kaidah sharaf dengan wazan تَفَعَّلَ sehingga menjadi tabayyana, yatabayyanu, tabayyunan yang berarti meminta kejelasan.

Allah ta’ala juga berfirman terkait tabayyun ini.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (TQS Al Hujurat: 6)

Ayat ini turun merespon peristiwa penugasan Rasulullah pada al-Walid Ibn Uqbah Ibn Abi Mu’ith untuk memungut zakat di kalangan Bani al-Musthalaq. Ketika warga Bani al-Musthalaq mendengar kedatangan utusan Rasulullah tersebut, mereka keluar dari perkampungan untuk menyambutnya sambil membawa zakat mereka, namun al-Walid justru mengira mereka hendak menyerangnya. Maka, spontan al-Walid kembali sambil melaporkan kepada Rasulullah bahwa Bani al-Musthalaq enggan membayar zakat dan bermaksud menyerang Rasulullah. Rasulullah tidak yakin dan mengutus Khalid Ibn Walid menyelidiki keadaan sebenarnya sambil berpesan agar tidak balas menyerang mereka sebelum pokok persoalannya jelas. Khalid mengutus seorang informannya menyelidiki perkampungan Bani al-Musthalaq, di sana didapati warga masih mengumandangkan azan dan melaksanakan salat berjamaah. Itu artinya mereka masih setia pada Allah dan Rasul-Nya. Tak lama kemudian Khalid mendatangi mereka dan menerima zakat yang telah mereka kumpulkan.

Jadi ayat ini memerintahkan kaum muslim untuk melakukan tabayyun atau memvalidasi atau mengonfirmasi sebuah informasi yang datang, sebelum menyimpulkan. Ayat tersebut menegaskan pada kita فتبينوا (maka telitilah dulu!). Bicara baik-baik. Berdebat dengan wibawa. Bukan dengan cekcok atau menyerang personal tanpa membawa bukti nyata. Jika yang dilakukan ialah menyerang dan mengintimidasi personal, layaknya lebih tepat disebut persekusi. Bukan tabayyun yang dicontohkan Nabi.

Dalam wikipedia.org persekusi diartikan perlakuan buruk atau penganiyaan secara sistematis oleh individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain, khususnya karena suku, agama, atau pandangan politik. Maka kejadian yang dialami oleh tokoh agama Pasuruan baru-baru ini lebih tepat disebut persekusi ketimbang tabayyun.

Seharusnya Menag memahami hal ini dan menjadi penengah terkait insiden yang dialami oleh ulama Pasuruan tadi. Bukan malah mengapresiasi tindakan yang akal sehat jelas menilainya sebagai persekusi.

*Fajar Khilafah Segera Tiba, Percuma Menghalanginya*

Persekusi yang dialami oleh pejuang syariah-khilafah terus terjadi. Musuh-musuh Islam tak hentinya menghadang upaya kebangkitan Islam. Dan mereka menggunakan tangan dan mulut saudara sesama muslim untuk menghalangi perjuangan penegakkan syariah secara _kaffaah_ (menyeluruh).

Namun upaya mereka pasti akan sia-sia. Allah ta’ala berfirman: “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (TQS At-Taubah: 32)

Tegaknya syariah Allah dalam naungan Khilafah telah dijanjikan oleh Allah dalam Al Qur’an Surah an Nuur ayat 55. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun telah memberikan kabar gembira akan datangnya Kekhilafah kedua ini. Yakni setelah runtuhnya Kekhilafahan Islam pertama di tangan Musthafa Kemal Attaturk. Semakin banyak tekanan yang dilakukan terhadap perjuangan ini, makin memberikan optimisme bahwa fajar khilafah itu telah di depan mata. Maka, percuma para penentang berusaha menghalanginya. Semoga mereka menyadarinya.