Oleh: Titik Musrifatun

Kementrian Pertanian memasukkan ganja ke dalam kategori tanaman obat komoditas binaan dalam Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 104 Tahun 2020 tentang Komoditas binaan Kementrian Pertanian. Ditandatangani oleh Syahrul Yasin Limpo pada tanggal 3 Februari 2020. Sebenarnya masalah ini masih menjadi kontroversi namun nyatanya pemerintah tetap mengesahkannya dengan syarat pengaturan tersebut hanya untuk tanaman ganja yang ditanam bagi keperluan medis, ilmu pengetahuan dan secara legal oleh Undang-Undang Narkotika.

Sejauh ini pemanfaatan ganja merugikan si pengguna dan juga melibatkan orang-orang yang ada di sekitarnya. Berdampak pada fisik, psikis dan psikologis pemakai. Jika sudahmengakibatkan kecanduan, maka pemakai ganja akan melakukan segala hal agar dapat menggunakannya kembali. Dengan regulasi pemerintah saat ini, bukan suatu hal yang mustahil bila hal tersebut membuat tingkat kriminaliitas semakin tinggi.Dari sini kita telah mampu melihat, bahwa sistem sekuler tidak mampu meriayah, menjaga stabilitas dan menciptakan rasa aman bagi masyarakat.

Selama pandemi ini kita ketahui bersama bahwa banyak negara yang perekonomiannya menurun tajam, Indonesia salah satunya. Tindakan yang diambil oleh Kementrian Pertanian ini mungkin merupakan salah satu trobosan untuk mengembalikan perekonomian Indonesia. Namun, sebagai negara yang mayoritas rakyatnya adalah muslim tindakan ini sangat tidak sesuai. Dalam islam, semua zat yang memabukkan jelaslah haram, termasuk ganja ini. Muslim senantiasa menjadikan tolak ukur setiap perbuatan adalah halal atau haram. Umat islam tidak seharusnya melakukan tawar menawar terhadap syariat.