Oleh : NS.Rahayu

Ringan rasanya telah melepas satu-satunya orang yang sulit untuk melepasnya. “Allah perintahkan pada manusia; wa laa ta’rabu zina, janganlah kamu mendekati Zina.” Islam telah menjelaskan bahwa pada dasarnya kehidupan laki-laki dan wanita terpisah kecuali apa yang diperbolehkan syariat ketika berada di tempat umum. Sebuah kesalahan besar jika dekatnya hubungan tidak terjalin karena mahram atau nikah, karena bisa membuka pintu-pintu kemaksiatan yang lainnya.

Hingga perlahan dengan susah payah, persimpangan itu mulai menampakkan jelas warnanya. Pendar-pendar cahaya mulai tersingkap, menyibak kabut hitam yang meyelimuti, hingga secara akal mampu untuk menerimanya tinggal mengikut petunjuk yang telah jelas diberikan Allah dalam Al Qur’an.

Mata pun juga sudah terbiasa melihat dari tempat di mana dua warna tak kan bisa bercampur hingga menjadi abu-abu. Karena percampuran itu justru membuat selalu berkubang dalam kemaksiatan namun masih melakukan kebenaran. Pijakan yang rapuh.

Aku tidak lagi ingin dalam ketidakjelasan seperti itu, menerima warna putih namun juga tidak menolak warna hitam. Menerima Islam sebagai kebenaran namun juga menoleransi kemaksiatan yang terjadi. “Astaqfirullah.” Terbayang masalaluku tergambar bak sinema yang terlihat jelas. Ingin rasanya menghapus tiap hitam yang ada namun sang waktu tak mungkin berjalan mundur. Penyesalan berkepanjagan yang membuat tersungkur dalam kasih sayang-Mu.

Ternyata perjalanan hidupku selama ini bergelimang kemaksiatan. Namun apalah dayaku ketika semua itu sudah terjadi, takdir yang harus ku lalui tak bisa aku memilihnya.

“Kejarlah dengan amaliyah yang terbaik dik,” ucap mbak Erni yang selalu menguatkanku untuk istiqomah. “Allah maha pengampun, taubatan nasuha, tinggalkan semua dan jangan terulang lagi.” Saya hanya menggigit bibir saat mendengar itu, air mata entah sudah berapa kali tertumpah. Tak mudah melupakan semua itu dalam sekejab, bahkan mungkin takkan terlupa hingga jasad bertemu dengan tanah.

Bagaimana mungkin melupakan hari-hari ketika tangan ini mengetikkan berkas utang dan menjadi saksi atas akad batil selama bekerja di Notaria. Bagaimana mungkin menghapus ingatan bahwa apa yang mengalir dalam darah ini dan nikmat-nikmat dunia yang lainnya ini hasil dari pekerjaan yang batil.

Terbayang aku berada dalam ruangan gelap yang susah sekali untuk bernafas, terhempas dalam gelimang dosa yang tak kusadari karena tidak memiliki pondasi agama sama sekali.

“Aku malu dengan segala keponggahanku selama ini karena tak memiliki ilmu sehingga merasa telah menjadi orang yang baik selama tidak menyakiti orang lain dan merasa telah benar selama tak meninggalkan sholat dan puasa.” Aku menghela nafas panjang.
“Sekarang aku sudah melepas semuanya semua mbak, sekarang aku tak memiliki apapun juga.” Kesahku pada musripahku ini, mbak Erni. Kosong benar-benar kosong, Kutinggalkan semua kelam yang dulu aku nikmati. Saat ini aku tak punya apa-apa lagi, namun ada Allah yang cinta-Nya tak pernah menyakiti. Hanya kepada-Nya aku berpegang, karena semua miliknya. Rizki, jodoh dan maut semuanya atas kehendak-Nya.

Ada bait puisi yang ku suka dan aku ingin bisa meraihnya.

Dia telah memberimu selembar kanvas
Itulah perjalanan yang kau pilih sendiri
Torehan warna dalam jejak-jejak jalani dunia
Akan menjadi jejak di akhir kelak
Kecuali saat nafas masih bersama jasadnya

Meski kanvas penuh warna hitam
Pena masih bisa melukiskan warna menawan
Bahkan sekali tuang menutup hitam dengan putih
Dengan upaya terakhir yang merubah segala
Tiada yang tak mungkin terjadi atas kuasaNya

Tentang esok sudah tak terpikir lagi. Hijrah ini adalah sebuah titik balik yang masih berat namun aku juga yakin di balik tiap kesulitan pasti ada kemudahan. Bismillah.

Tamat