Oleh: Maman El Hakiem

Krisis ekonomi sulit dihindari. Angka pertumbuhan ekonomi negeri ini yang minim dua kuartal terakhir telah membuat limpung sektor riil. Sektor yang secara nyata menjadi tumpuan kehidupan rakyat. Jika kita paham tentang beberapa faktor penyebab krisis dalam sistem kapitalisme, bermuara pada satu akar masalahnya, ekonomi ribawi dan non riil.

Harus disadari bahwa riba secara nyata adalah penyakit yang suatu saat bisa mematikan gerak ekonomi. Maka, pandemi sebenarnya bukan penyebab krisis, melainkan alat uji ketahanan ekonomi. Terbukti, yang mampu bertahan dan selamat dari krisis adalah mereka pelaku bisnis yang bebas dari riba. Mereka tidak dipusingkan dengan kebijakan fiskal yang dilakukan negaranya. Tidak tersangkut paut urusan utang riba kepada bank. Karena usahanya berjalan tanpa bergantung pada utang atau pinjaman dari bank.

Bagi kehidupan rakyat, berputarnya uang di tengah mereka untuk digunakan kegiatan ekonomi menjadi penyelamat di saat krisis. Oleh sebab itu prinsip mereka yang beriman kepada Allah SWT, tidak akan membiarkan “seribu rupiah” pun uang tersimpan di dompet tanpa tujuan. Uang itu harus dibelanjakan, baik untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari,nafkah keluarga, sedekah atau untuk bisnis (kerjasama usaha).

Uang itu tidak akan beredar pada orang kaya saja, jika segera dibelanjakan. Para pedagang kecil tetap masih bisa berjualan karena banyak yang beli. Uang hanya boleh disimpan, jika ada tujuan tertentu dengan jangka waktu yang terukur, itupun tidak menyimpannya di bank. Karena bank pasti akan memutar kembali uang yang kita simpan untuk bisnis yang pasti berbau riba.

Menghadapi krisis ekonomi buah sistem ribawi ini, tidak lain harus segera melakukan langkah taktis, berupa strategi perputaran uang pada kegiatan ekonomi rakyat, terutama usaha kecil dan menengah. Di tengah pandemi ini justru kita harus banyak “membelanjakan” uang. Tidak menyimpannya, melainkan digunakan sebagai modal usaha, agar kehidupan ekonomi berputar.

Adanya pandemi harus memberikan hikmah, bahwa kekuatan keimanan kepada Allah SWT tentang hakikat rezeki yang berkah, tidak lain ketika syariat Islam dijalankan. Hukum halal dan haram menjadi standar perbuatannya. Tidak mudah mengeluh terhadap sempitnya lapangan kerja, terlebih jika kerjaan itu justru banyak yang melalaikan diri pada kewajiban syariah dan dakwah. Kunci utama hadapi krisis ekonomi ada pada diri kita di saat negara telah abai atas kewajibannya mengurusi rakyatnya. Yaitu menanamkan kesadaran, penerapan syariah secara kaffah sebagai satu satunya solusi terbaik bagi seluruh sendi kehidupan di dunia ini.

Wallahu’alam bish Shawwab.***