Oleh: Ayu Deswanti Rio Dingin

Kami akui jika pesona “good-looking” umat muslim memikat hati Pak Menang, bahkan siapapun yang melihatnya, itu sudah pasti. Semua berkat cahaya Islam yang kami bawa.

Kesempurnaan ajarannya bukan hanya memperindah penampilan. Tapi, juga mampu membangkitkan pemikiran. Hingga mengubah hidup seratus delapan puluh derajat.

Sayangnya, pernyataan Pak Menag tidak berhenti sampai keterpikatan tersebut. Ia justru menyeret kembali isu “radikal” yang sebenarnya sudah basi. Menag mengatakan radikalisme masuk masjid maupun lingkungan masyarakat melalui anak “good looking”.

“Caranya masuk mereka gampang; pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan Bahasa Arabnya bagus, hafiz (hafal Alquran), mereka mulai masuk.”

Menag juga mengungkit perihal sertifikasi penceramah yang mulai diterapkan bulan ini. Program tersebut bertujuan untuk mencetak penceramah yang memiliki bekal wawasan kebangsaan dan menjunjung tinggi ideologi Pancasila. Sekaligus, mencegah penyebaran paham radikalisme di tempat-tempat ibadah (CNN Indonesia, 03/09/20).

Framing buruk kepada Islam dan para pengembannya bukan terjadi sekali dua kali saja. Isu radikalisme selalu diangkat sebagai dalih pembenaran dalam mengkriminalisasi Islam.

Tak heran, dalam sistem sekuler saat ini agama harus dipinggirkan. Agama Islam yang sekaligus sebagai mabda’ (ideologi) dianggap mengancam eksistensi ideologi kufur. Sehingga ajarannya terus diotak-atik bahkan dimusnahkan.

Namun, usaha para pembenci Islam tidak pernah berhasil. Kemurnian ajaran Islam senantiasa dijaga langsung oleh Allah. Maka, dibuat lah serangkaian program untuk mendiskreditkan Islam. Atas tuduhan terorisme, radikalisme, ekstrimis, dan masih banyak lagi.

Berbagai upaya dilakukan agar Islam seolah terlihat seperti momok negeri. Akan tetapi, umat saat ini semakin cerdas. Tidak mudah menelan mentah-mentah tuduhan tersebut.

Justru membuat umat tertarik ingin menggali lebih dalam tentang Islam. Tanpa sadar, para musuh Allah malah ikut memviralkan kemuliaan syariat Islam yang diturunkan langsung oleh Sang Pencipta.

Di Balik Framing “Good-looking”

Sebetulnya, saat ini umat pun paham bahwa tuduhan yang dialamatkan kepada Islam dan pengemban dakwah tidaklah berdasar. Semua hanya sebagai kambing hitam untuk menutupi aib negeri yang sangat besar. Yaitu, kerusakan sistematis di berbagai sendi kehidupan.

Belum lagi kemaksiatan yang merajalela. Terutama menimpa generasi penerus bangsa. Sebut saja tingginya angka hamil di luar nikah yang berujung pada aborsi.

Ada pula yang menyalahi fitrah kemanusiaan, seperti maraknya pegiat juga pendukung LGBT. Baru-baru ini terungkap keberadaan komunitas gay yang eksis sejak 2018 telah berulang kali mengadakan pesta seks gay. Mereka mulai terang-terangan mengampanyekan ide kufur yang menjijikkan melalui beragam media sosial.

Itu baru yang terbongkar. Sisanya pasti masih banyak perzinaan yang tidak nampak di permukaan. Bukankah hal ini yang justru sangat meresahkan? Mau dibawa kemana bangsa ini oleh generasi rusak seperti mereka?

Pemerintah pun nampak abai sekali. Tidak ada peraturan yang melarang orang berbuat maksiat. Selagi suka sama suka, maka berzina sah-sah saja. Padahal, jika negeri ini melegalkan zina sama saja dengan mempercepat murka Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam

“Apabila perbuatan zina dan riba sudah terang-terangan di suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah rela terhadap datangnya adzab Allah untuk diri mereka,” (HR. Hakim)

Inilah aib yang sesungguhnya. Datang dari anak yang mabuk cinta dunia dan jauh dari agama. Bukan anak masjid yang “good-looking” apalagi para hafiz selaku sang penjaga Kalamullah.

Ya, bagaimana mungkin sosok yang dekat dengan Rabbnya dianggap radikal? Apakah syariat Islam yang menimbulkan seluruh kekacauan di muka bumi? Sungguh, tuduhan radikalisme benar-benar menciderai hati umat muslim.

Ketakwaan Kolektif yang Solutif

Seharusnya Pak Menag bersyukur atas kehadiran anak “good-looking” tersebut. Berkat istighfar mereka, Allah menahan adzab atas bumi Nusantara.

Berkat bara api dakwah yang tak pernah padam, kemaksiatan bisa dicegah hingga dibasmi. Lebih dari itu, banyak pula umat yang tercerahkan untuk mengambil solusi terbaik atas seluruh problematika kehidupan.

Sebab, menjadi “good-looking” sekaligus hamba yang bertakwa adalah perintah Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam

“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik” (HR. Ahmad).

Dan Allah banyak menjelaskan jaminan buah takwa di dalam Alquran, seperti firman-Nya

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka sendiri.” (QS. Al-A’raf : 96)

Sejatinya semua manusia pasti mendambakan kesenangan hidup. Tidak hanya di dunia, tapi abadi hingga ke surga. Maka, marilah kita wujudkan bersama ketakwaan secara kolektif. Dengan menjadikan syariat Islam kaffah sebagai sistem kehidupan. Tentu, semua itu hanya dapat dilaksanakan dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Wallahu’alam bisshowwab []