Oleh : Ummu Syam (Aktivis Dakwah)

Belum hilang dari benak masyarakat atas kasus prostitusi online yang menyeret sejumlah public figure. Sebut saja VA, HH dan berita terakhir seorang selebgram berinisial VS yang tersandung dalam kasus prostitusi online. (Kompas, 30/7/2020)
Miris memang mendengarnya. Dalam dunia kapitalistik, apapun bisa dijadikan barang komoditas untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah termasuk ‘kehormatan’.
Dan yang membuat tambah mirisnya adalah undang-undang yang menjerat para pelaku prostitusi ini tidak membuat jera para pelaku. Bahkan sikap pemerintah terkesan tidak serius dalam menangani masalah prostitusi.

Adalah hal yang lumrah jika pemerintah bersikap tidak serius dalam menangani masalah prostitusi. Mengingat dalam sistem Kapitalisme perempuan adalah barang komoditas yang harus terlibat langsung dalam pembangunan negeri.

Sejak Daulah Khilafah Islamiyyah runtuh pada 3 Maret 1924 melalui tangan besi Mustafa Kemal Attatürk, wanita muslim kehilangan kehormatan dan kemuliaannya. Dimulai dari memberlakukan peraturan melarang wanita muslim untuk menutup aurat sampai dibolehkannya berbaur dengan lawan jenis. Peraturan-peraturan tersebut telah membawa para wanita muslim pada derajat yang paling hina. Kehinaan yang terjadi pada wanita muslim sejak runtuhnya Daulah Khilafah Islamiyyah tidak ubahnya seperti kehinaan yang terjadi pada perempuan Nasrani.
Dalam Encyclopedie La Rousse, kata Femme menyebutkan bahwa perempuan adalah makhluk yang tidak mempunyai jiwa dan oleh sebab itu selamanya tidak akan menikmati taman firdaus dan tidak masuk kerajaan langit. Perempuan adalah kekejian perbuatan setan, tidak ada hak bicara dan tertawa dan tidak boleh memakan daging, bahkan setinggi-tingginya hak dia adalah menghabiskan semua kesempatan untuk melayani laki-laki tuannya, atau menyembah Tuhan Allah.
Kehinaan itu juga nampak pada sistem Kapitalisme yang telah mengakibatkan angka perceraian tinggi khususnya di negara-negara Islam, sehingga memaksa para perempuan keluar dari rumahnya. Di sinilah letak penghancuran generasi itu dimulai.
Karena seorang ibu keluar rumah untuk bekerja, para generasi tidak mendapatkan kasih sayang, perhatian dan pengawasan yang cukup. Mengakibatkan para generasi frustasi sehingga terjerembab dalam pergaulan bebas. Jika sudah seperti ini, orang-orang kafir melalui sistem Kapitalisme telah berhasil menghancurkan sendi-sendi kebangkitan umat itu.

Berbeda halnya jika Islam yang mengatur kehidupan ini. Islam memposisikan wanita dalam keadaan terhormat. Diwajibkannya menutup aurat secara sempurna seperti yang tertuang dalam QS. Al-Ahzab ayat 59 dan QS. An-Nur ayat 31, dan dianjurkan untuk berdiam diri di rumah seperti yang tertuang dalam QS. Al-Ahzab ayat 33.
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (TQS. Al-Ahzab (33) : 59)
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (TQS. An-Nur (24) : 31)
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliyah dahulu … ” (TQS. Al-Ahzab (33) : 33)
Tidak hanya itu, ada sebuah ungkapan mengatakan bahwa, “Wanita adalah tiang negara, apabila wanita itu baik maka akan baiklah negara dan apabila wanita itu rusak, maka akan rusak pula negara.”
Inilah istimewanya wanita dalam Islam. Jika dihubungkan dengan tiang negara, maka kaum wanita ini disebut sebagai penyokong yang kuat.

Dalam kitab Lisan al-Arab kata tiang diartikan sebagai sesuatu yang menyokong seperti tonggak panjang yang berfungsi untuk menyokong atau menyangga.
Dari pengertian ini bisa disimpulkan bahwa ungkapan wanita tiang negara adalah sebagai bentuk pokok kekuatan dan penghidupan. Namun, makna ini bukan semata-mata sebagai penyokong tunggal moralitas bangsa ini. Tiang akan menjadi kuat jika didukung dengan komponen yang lain seperti tembok, pondasi dan lainnya.
Ungkapan ini juga mengisyaratkan bahwa Islam datang bukan untuk mendiskreditkan wanita seperti wanita kaum terdahulu sebelum datangnya Islam. Hal ini menunjukkan bahwa wanita merupakan tiang rumah tangga yang mempunyai posisi vital di tengah-tengah keluarga. Sebagai tiang negara, wanita harus mewujudkan kualitas yang baik lahir maupun batin. Kualitas ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain, jadi mereka bisa menjadi wanita yang kokoh kalau mereka mampu mewujudkan keluarga yang bahagia. Jika tidak mereka akan kehilangan tiangnya.
Keluarga adalah unit terkecil dalam suatu negara. Berdasarkan ini, peran wanita sebagai tiang negara sangat signifikan dalam mewujudkan kualitas bangsa dalam suatu negara. Dan kualitas wanita tergantung kepada sistem yang mengatur kehidupan itu.
Sungguh agung peran wanita di dalam Islam. Ia tidak hanya mengandung, melahirkan dan menyusui anak-anaknya, ia pun bertugas dalam mendidik anak-anaknya. Bahkan disebutkan dalam sebuah hadis bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.
Melalui peran wanita yang bertugas sebagai pendidik, Daulah Khilafah Islamiyyah memiliki peradaban yang gemilang salah satunya adalah memiliki pemuda-pemudi yang cakap dalam berilmu, memiliki jiwa dan mental yang kuat dalam jihad fii sabilillah dan memiliki lisan yang fasih dalam menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru negeri.
Hal tersebut tertulis dalam tinta emas sejarah. Sebut saja ada Muhammad Al-Fatih.
Sejak Muhammad Al-Fatih kecil ibunda Muhammad Al-Fatih selalu meyakinkan putranya kelak sebagai penakluk Konstantinopel. Setiap hari ibunda Muhammad Al-Fatih membawanya ke sebuah tebing. Dari tebing itulah terlihat kemegahan benteng Konstantinopel. Ibunya kemudian membacakan hadits Rasulullah SAW tentang penaklukkan Konstantinopel. Ketika itu Muhammad Al-Fatih kecil bertanya, “Bagaimana aku bisa membebaskan wilayah sebesar itu wahai Ibu?”. “Dengan Al Qur’an, kekuatan persenjataan dan mencintai manusia,” jawab sang ibu.

Kisah lain, ibunda dari ulama Sufyan ats-Tsauri dengan pesannya yang dahsyat “Wahai puteraku, tuntutlah ilmu dan aku siap membiayai dari pintalanku, wahai puteraku jika engkau telah mencatat sepuluh kalimat, maka perhatikan, apakah engkau bertambah takut, sabar, dan sopan? Jika engkau tidak demikian maka ketahuilah bahwa semua kalimat tadi akan membahayakanmu dan tidak bermanfaat bagimu”
Dalam hal ini kita bisa menyimpulkan bahwa ada peranan penting sebuah sistem dalam membentuk karakter dan peran seorang wanita. Kita bisa lihat perbedaan mencolok disini. Sistem Islam membentuk kepribadian seorang wanita yang tangguh sehingga dapat melahirkan generasi Islam yang cemerlang. Sedangkan sistem Kapitalisme yang rusak, hanya membentuk para wanita menjadi barang komoditas dan sudah pasti melahirkan generasi yang bobrok.
Maka, ini pertanda bahwa kita harus menjadikan sistem Islam sebagai satu-satunya sistem untuk mengatur seluruh aspek kehidupan.
Wallahu a’lam bish-shawab.