Oleh: Maman El Hakiem

Selepas maghrib. Mendung yang menggelayut di langit. Belum terkonversi menjadi hujan. Hanya udara gerah, meskipun waktu menjelang malam. Biasanya di musim kering, udara malam terasa dingin. Tetapi, tidak untuk malam ini, sepertinya nyamuk pun enggan menghampiri. Justru sekumpulan laron menyerbu bola lampu teras rumah. Laron adalah makhluk malam yang menyukai cahaya. Ketika pergantian musim dari hujan menuju kemarau, laron menghampiri rumah-rumah.
Cahaya bola lampu yang menggantung di atap teras,temaram oleh laron yang lalu lalang. Seperti mahkluk langit yang keluar dari dunia gelap. Secercah cahaya adalah kehidupan yang lama dirindukan. “Hidup yang terkurung tanah dan menjadi rayap, selalu dimaki dan dibenci.” Selalu itu yang terngiang di hati ribuan laron. Bukan hanya di teras rumah, mereka mencari titik-titik cahaya yang lain.
“Yah, laron itu jahat gak ya?” Tanya gadis bungsu,yang baru masuk sekolah dasar, memudarkan alam pikiranku.
“Kalau gak jahat, kenapa selalu ditangkap?” Tanyanya lagi, seakan penuh penasaran.
Menjawab pertanyaan yang sebenarnya mudah tersebut, namun terasa sulit memilih kata-kata. Anak seusianya ranah logikanya harus terus terasah agar bisa mencerna kehidupan lebih bijak. Kata-kata jahat itu jika salah persepsi, akan menjadi kosa kata yang tersimpan di benaknya.
“Laron itu makhluk yang baik, buktinya merindukan cahaya. Coba Nak, lihat bagaimana kalau lampu itu dimatikan. Mereka berpencar mencari sumber cahaya yang lain.” Jawabku dengan penuh harap dia mulai berpikir lebih luas.
“Lalu, mengapa ditangkap seperti anak-anak tetangga, yang selalu ambil plastik, bahkan ember berisi air agar lebih banyak laron yang masuk perangkap?” Sungguh, pertanyaan ulang yang di luar dugaan. Memang, laron-laron selalu dijebak dengan cahaya di dalam ember. Begitulah kehidupan, ada juga yang mengemas cahaya sebagai tipu muslihat. Bertopeng dalil kebenaran, padahal menyesatkan. Orang-orang yang menipu agamanya, padahal dirinyalah yang akan tertipu.
“Tidak boleh mencelakakan makhluk yang diciptakan Allah SWT, sekalipun itu laron, kecuali jika laron itu untuk kebaikan manusia. Karena setiap makhluk di muka bumi, diperuntukkan untuk memudahkan manusia menjalani syariat dari Allah SWT. Suka makan laron?” Tanyaku lagi.
Dengan tersenyum, gadis bungsuku memalingkan wajahnya. “Ah…ayah tuh yang suka mancing, menangkap laron buat umpan ikan bukan?” Sindirnya. ***

Sindangwasa. 5.9.2020.