Oleh: Maman El Hakiem

Pagi hari. Kota kecil di pantai utara. Jalan beraspalnya sudah banyak tambalan. Setiap musim hujan, kolam-kolam jebakan sering mencelakakan pengendara. Tidak jarang tumbal berjatuhan, hanya karena dikira jalan rata, padahal berlubang. Proyek infra struktur asal-asalan, demi isi perut sekedar menghabiskan anggaran.


“Ada berita pagi apa nih, Mang?” Selalu bertanya itu bila berjumpa Mang Koran. Penjual koran yang mangkal di pinggir trotoar jalan. Biasanya ia lebih tahu informasi berita hangat lebih dulu.
“Masih korban covid yang terus bertambah, mas. Sekarang koran lagi lesu.”
“Kalau tidak ada berita bola, oplah koran tidak banyak.”
“Sudah mah halamannya berkurang, harganya naik.” Jawab Mang Koran seperti mengungkapkan curahan hatinya.


Setelah dilihat-lihat sebentar, memang tidak banyak koran yang dipajangnya. Beberapa koran yang dulu tumbuh bagaikan jamur, kini pada layu bahkan mati karena perilaku konsumen yang beralih ke media daring. Koran cetak tergerus berita-berita dari ponsel. Orang sepertinya malas pegang kertas, lebih menyukai mengusap gawainya.


“Berapa tiap hari yang lakunya, Mang?” Tanyaku sembari membuka-buka halaman koran.
“Hanya sepuluh ekslempar, itupun sama pelanggan seperti Mas..hehe.” Jawabnya.
Mang Koran memang tahu bahwa kalau saya sering membelinya lebih dari satu. Setiap koran memang beritanya hampir sama, tetapi setiap koran punya cara penyampaian berita yang berbeda. Koran juga “manusia” punya kepentingannya sendiri. Andai tahu bahwa saya yang belinya, pasti ia tidak akan bergantung pada iklan. Saya sebenarnya bukan anti iklan, tetapi sangat benci jika kreatifitas jurnalistik terpasung iklan yang memaksakan kepentingannya. Pernah ada koran yang beritanya ditutup oleh “jaket iklan”, seperti mengatakan pada dunia, isi berita tidak penting. Yang penting membeli produk tersebut.


“Oh gitu ya Mang, ini saya beli korannya tiga ya.” Ucapku sembari menyodorkan uang limapuluh ribu rupiah.
“Wah..mas kembalianya belum ada. Untuk apa beli banyak koran yang sama?” Mang Koran heran.
“Kembaliannya buat Mang Koran saja, bagi saya berita pagi ini tidak terlalu penting. Tetapi karena sudah dicetak, tentu banyak orang yang berharap dapat rezeki darinya, termasuk Mang Koran, kan?” Jawabku.


Mang Koran tersenyum. Dan senyum itu selain sedekah juga tanda orang bahagia.***