Oleh: Linda Khadeeja

Saudaraku, apa kabar imanmu di hari ini? Semoga Allah senantiasa melimpahkan kebaikan dan keberkahan untukmu sekalian di sana. Aamiin.

Pada pagi yang indah ini kita akan belajar tentang memaknai pertolongan dari Allah. Karena hakekatnya pertolongan Allah itu sangatlah dekat. Dan senantiasa menghiasi hari-hari kita.

Saudaraku yang baik, mungkin hari ini kita bertanya kapan pandemic covid-19 ini akan berakhir? Diantara kita mungkin sudah mulai berputus asa. Bahwa pandemic ini belum berlalu. Dan kapan akan diangkat oleh Allah?

Sebagian kita sudah banyak mengeluh. Karena secara tidak langsung pandemic ini membuat system kehidupan kita berbeda dari biasanya. Dan bahkan tidak sedikit beberapa keluarga mendapat ujian kehilangan pekerjaannya. Sekolah difokuskan di rumah sehingga menambah tanggung jawab ibu. Sehingga mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada.

Wahai saudaraku, apapun keadaan hari ini marilah kita tetap bersyukur pada Allah atas ujian yang Allah titipkan pada kita saat ini. Karena hakekat ujian itu bukan seberapa besar ujian itu, namun seberapa besar keyakinan kita akan pertolongan dari Allah.

Coba kita tengok bersama kisah Nabi Musa yang membawa kaumnya Bani Israil pergi ke Mesir yang saat itu dikejar oleh Fir’aun dan tentaranya. Sampai akhirnya Nabi Musa sampai di tepian Laut Merah.

Kaum bani Israil waktu itu sudah mulai berputus asa karena sudah tidak ada jalan lagi. Perasaan akan tertangkap dan disiksa oleh Fir’aun dan tentaranya mulai menggelayuti mereka.

Namun, Nabi Musa dengan keyakinan yang kokoh kepada Allah mengakui bahwa pertolongan Allah itu sangat dekat. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Asy Syu’ara:61

“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”.

Akan tetapi Nabi Musa dengan keimanan yang sangat tinggi mengatakan kepada kaumnya:

“Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”.(QS. Asy Syu’ara: 62)

Tak lama kemudian Nabi Musa mendapatkan ilham dari Allah untuk memukulkan tongkat beliau ke laut.

Alhamdulillah..kemudian, atas izin dan pertolongan-Nya air laut membelah dan terbentanglah jalan di depan mereka. Sehingga mereka bisa melanjutkan perjalannya lepas dari kejaran Fir’aun dan tentaranya.

“Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.”(QS. As Syuaro:63)

Sementara Fir’aun terus mengejar dan kemudian ditenggelamkan di Laut Merah merah oleh Allah.

Dari kisah ini kita bisa ambil beberapa hikmah akan pentingnya husnuzhonbillah atau berprasangka baik kepada Allah dan optimisme dalam setiap kondisi. Meskipun secara logika manusia sudah terjepit. Tidak ada jalan solusi. Tapi kejaiban itu selalu ada.

Karena seorang yang beriman dalam kondisi sekrisis apapun dalam hidupnya selalu menghadirkan Allah dalam hatinya. Sehingga ujian seberat dan sebesar apapun akan coba dilalui dengan tetap berpegang kokoh atas pertolongan dari-Nya sangat dekat. Ketika jatuh ia akan bangkit dengan optimisme yang tinggi. Karena ia bersama Allah dan senantiasa bergantung kepada-Nya.

Sebagaimana perkataan Rasullullah yang di sampaikan kepada sahabat dekatnya Abu Bakar ketika beliau bersembunyi di Gua Tsur untuk mengindari kejaran kaum kafir Quraisy saat beliau hendak hijrah ke Madinah.

“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah: 40).