Oleh: Aini Ummu Aflah

Sering kita mendengar istilah wisata kuliner, wisata religi, wisata bahari, taman wisata dan lain sebagainya. Dan baru-baru ini kita mendengar juga istilah wisata medis. Jika dulu, rumah sakit identik dengan orang sakit saja dan tempatnya pun khas ala rumah sakit. Sekarang pemerintah berencana hendak membangun wisata medis di kawasan pusat-pusat kota, pusat-pusat wisata dan juga Mall. Alangkah menyenangkan jika membayangkan ada wisata medis di sekitar pusat wisata. Jalan-jalan menikmati indahnya pantai, taman bermain, makanan, sekaligus bisa menikmati pelayanan kesehatan.

Masyarakat Indonesia memiliki keyakinan dan kepercayaan bahwa dengan berobat ke luar negeri, penyakit keras apapun akan bisa disembuhkan. Terlebih lagi, destinasi wisata di luar negeri juga oke karena dapat pengalaman berbeda saat mengunjungi tempat wisata di luar negeri. Tidak hanya itu saja, fasilitas medis di luar negeri juga sangat lengkap sehingga ada keyakinan jika berobat ke luar negeri penyakit langsung bisa di sembuhkan. ini bagi mereka yang memiliki kantong tebal setebal semen.

Jika kita menilik salah satu rumah sakit di Jakarta, misal saja RS Siloam yang menarik tarif sekitar Rp1.755.000 – Rp3.247.000, pemeriksaan diagnostik untuk mendeteksi gangguan pada apendiks atau usus buntu (alodokter.com). Itupun belum biaya konsultasi dokter, obat-obatan, laboratorium, rawat inap dan lain-lain. Wao, luar biasa mahal. Dan, lagi-lagi rumah sakit di negeri ini hanyalah bagi mereka yang beruang. Hanya orang-orang yang memiliki kantong tebal bisa berobat, sedangkan rakyat miskin di larang sakit. Sungguh miris hidup jadi orang miskin.

Lantas wisata medis yang bertaraf Internasional seperti apa yang akan dibangun? membayangkan saja sudah tak mampu, karena pasti sangatlah mahal sekali dari rumah sakit yang terbaik di Indonesia.

Dikutip dari CNBC Indonesia – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves) Luhut Binsar Pandjaitan memerintahkan BKPM yang dikepalai oleh Bahlil Lahadalia mendatangkan rumah sakit asing ke Indonesia.

Permintaan Luhut diiringi dengan rencana pemerintah untuk memperbolehkan dan mengizinkan dokter asing lebih banyak di Indonesia.

Dikutip dari Sosial Media Instagramnya, Luhut mengatakan rencana ini dikaji karena berbagai pertimbangan, di antaranya adalah fakta bahwa bahwa rata-rata pengeluaran wisatawan medis sebesar US$ 3,000 – 10,000 per orang.

Menurut Luhut, lewat wisata medis ini nantinya pemerintah ingin Indonesia melakukan diversifikasi ekonomi, menarik investasi luar negeri, penyediaan lapangan pekerjaan, pembangunan industri layanan kesehatan di Indonesia, serta menahan laju layanan kesehatan serta devisa kita agar tidak mengalir ke negara-negara yang lebih sejahtera.

“Untuk mendukung industri wisata medis ini, saya rasa perlu adanya dukungan dari pemerintah melalui promosi masif serta fasilitas-fasilitas penunjang lainnya, seperti membangun rumah sakit berstandar internasional seperti John Hopkins di Amerika Serikat.”

“Karena itu saya meminta BKPM untuk mencari investor potensial guna membangun rumah sakit berkelas internasional di Jakarta, Bali, dan Medan. Kita juga akan pertimbangkan ijin untuk dokter asing, untuk spesialis tertentu namun harus sesuai kebutuhan.”

Pemerintah sungguh berupaya mati-matian agar devisa negara negara tidak mengalir ke negeri orang. Dibuatlah wisata medis untuk menarik wisatawan dan sekaligus menarik simpati rakyat Indonesia. Sekilas opini ini sangatlah bagus, tapi akankah seluruh lapisan rakyat menengah kebawah bisa merasakan wisata medis bertaraf internasional? Masuk rumah sakit yang terbaik dan termewah seperti RS Pondok Indah, RSPAD Gatot Soebroto dll tidak mampu, alih-alih masuk RS bertaraf Internasional. Dengan mendatangkan tenaga ahli atau dokter spesialis dari asing, tidakkan ini rentan sekali? Mengingat masa pandemi masih mengintai di negeri kita. Sungguh kebijakan yang hanya bersifat sementara dan tambal sulam.

Berbeda halnya dalam Islam. Islam memandang kesehatan sebagai kebutuhan dasar yang harus terpenuhi oleh seluruh lapisan masyarakat. Tidak ada tebang pilih antara si miskin dan si kaya, semua diberikan fasilitas yang sama dan yang terbaik.

Kebijakan yang pernah dijalankan oleh pemerintahan Islam sejak masa Rosulullah saw. menunjukkan tingkat taraf yang sungguh maju. Pelayanan kesehatan gratis diberikan oleh negara yang dibiayai dari kas Baitul Maal. pelayanan diberikan secara berkualitas yang merupakan prestasi yang luar biasa mengagumkan.

Hal itu sudah dijalankan Rasul saw. Delapan orang dari Urainah datang ke Madinah menyatakan keislaman dan keimanan mereka. Lalu mereka menderita sakit gangguan limpa. Nabi saw kemudian memerintahkan mereka dirawat di tempat perawatan yaitu kawasan penggembalaan ternak milik Baitul Maal di Dzi Jidr arah Quba’, tidak jauh dari unta-unta Baitul Maal yang digembalakan disana. Mereka meminum susunya dan berada di tempat itu hingga sehat dan pulih.

Raja Mesir, Muqauqis pernah menghadiahkan sebuah seorang dokter kepada Nabi saw. Beliau menjadikan dokter itu untuk melayani seluruh kaum muslim secara gratis. Khalifah Umar bin Khattab, menetapkan pembiayaan bagi para penderita lepra di Syam dari Baitul Maal. Khalifah Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah membangun rumah sakit bagi pengobatan para penderita leprosia dan lepra serta kebutaan. Para dokter dan perawat digaji dari Baitul Maal. Bani Thulan di Mesir membangun tempat dan lemari minuman yang di dalamnya disediakan obat-obatan dan berbagai minuman. Di tempat itu ditunjuk dokter untuk melayani pengobatan.

Pada masa Khilafah Abbasiyah itu pula untuk pertama kalinya ada apotik yang terbesar yaitu Ibnu Baithar. Saat itu para apoteker tidak diijinkan menjalankan profesinya di apotik kecuali setelah mendapat lisensi dari negara. Para Apoteker itu mendatangkan obat-obatan dari India dan negeri-negeri lainnya. Mereka melakukan berbagai inovasi dan penemuan untuk menemukan obat-obatan baru (Dirasat fi al- Fikri al-Islami, hal 89).

Rosulullah saw bersabda “Imam(Khalifah) laksana penggembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya (HR. Bukhari). Ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan yang terbaik sepanjang masa kejayaan Islam. Karena negara sebagai penerap syariat Islam secara kaaffah. Negara bertanggung jawab penuh terhadap pemenuhan hajat hidup. Sehingga haram bagi negara jika memposisikan diri sebagai regulator dan fasilitator dengan alasan apapun.

inilah fakta pelayanan kesehatan dari masa Rosulullah hingga kekhilafahan. Di ukir oleh tinta emas sepanjang sejarah peradaban Islam. Saat ini dunia membutuhkan Khilafah dalam menyelesaikan pandemi covid-19 dan menyelesaikan berbagai penyakit dan penderitaan umat dalam masalah apapun. Apakah kita tidak ingin terlepas dari penderitaan akibat sistem Kapitalis ini? Tidak kah kita ingin menyambut seruan Allah ini?

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila Dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu..”(QS Al Anfaal:24). Wallahu A’lam Bish Sowab