Oleh: Ummul Asminingrum, S.Pd.
Aktivis Muslimah

Pada hakikatnya hanya ada dua sisi dalam hidup ini. Bila ada kebatilan maka musuhnya adalah kebenaran. Bila ada cahaya maka musuhnya adalah kegelapan. Bila ada kebaikan maka musuhnya adalah kejahatan. Bila ada perbaikan maka akan ada yang merusak. Begitu pula dengan Islam, akan ada yang memusuhi, yaitu berupa kekufuran.

Bila Islam diidentikkan dengan kebenaran, cahaya, dan perbaikan. Maka akan selalu ada pihak yang menjadi kegelapan, kebatilan, perusak dan kekufuran. Dua sisi dari kehidupan ini akan saling berlawanan dan bertolak belakang. Karena tidak mungkin malaikat bekerjasama dengan syaitan.

Maka tak heran bila selalu ada pihak-pihak yang memusuhi dan membenci Islam. Mereka takut adanya kebenaran sebab mereka pecinta kebatilan. Mereka takut dengan cahaya sebab mereka merasa nyaman dalam kegelapan. Pun mereka takut dengan perbaikan, sebab mereka tak bisa melakukan kerusakan dengan leluasa.

Seperti sebuah aksi pembakaran Alquran secara sistematis yang terjadi di Swedia. Aksi ini dilakukan dengan dukungan seorang politikus rasis asal Denmark bernama Rasmus Poludan. Dilansir dari AFP pada Sabtu (29/08) sekitar 300 orang turun kejalan di Malmo Swedia.

Orang-orang itu menghadiri aksi anti-Islam yang masih terkait insiden sehari sebelumnya saat pengunjuk rasa membakar salinan kitab suci Islam tersebut, juru bicara polisi Rickard Lundqvist mengatakan kepada tabloid Swedia Expressen. (detiknews, 29/8/2020)

Tak hanya di Swedia aksi kerusuhan yang serupa juga terjadi di Norwegia. Ketegangan memuncak di Ibu kota Norwegia, Oslo ketika seorang pengunjuk rasa anti-Islam merobek-robek isi kitab suci Alquran. Unjuk rasa anti-Islam itu diorganisir kelompok Stop Islamisasi Norwegia (SIAN) yang berlangsung di dekat gedung parlemen Norwegia pada Sabtu (29/08).

Itulah Islamofobia. Menurut Wikipedia, Islamofobia adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan Muslim. Istilah itu sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001.

Islamofobia Penyakit Sistematis Masyarakat Barat yang Sekuler.

Mengapa masyarakat Barat begitu takut dengan Islam. Sebab, secara fitranya mereka mewakili kalangan kuffar, pembenci, dan perusak tadi. Mengapa pula Islamofobia disebut penyakit sistemik? Sebab, penyakit ini lumrah ada pada masyarakat yang hidup dalam sistem sekuler.

Stigma negatif terhadap Islam sengaja dibangun secara sistematik. Dan akan terus terjadi bila tak ada sistem lain yang menandingi. Ditambah dengan dukungan politisi.

Bahkan, untuk membenarkan aksi anarkis mereka. Barat telah membangun narasi bahwa munculnya Islamofobia ini karena ulah umat muslim sendiri. Aktivis liberal mengatakan bahwa satu sebab munculnya Islamofobia di Eropa adalah beberapa serangan bom mematikan oleh para jihadis di Eropa. Yang dikampanyekan sebagai teroris.

Tak hanya itu, mereka juga menyampaikan bahwa Islamofobia yang muncul di Eropa disebabkan oleh banyaknya imigran asal Timur Tengah. Yang hampir semuanya beragam Islam. Mereka mengasosiasikan kebenciannya terhadap para imigran tersebut kepada seluruh kaum muslim.

Yang diharapkan Barat adalah penyesuaian dan peleburan kaum muslim terhadap nilai dan budaya Barat. Namun, kenyataannya tak bisa. Sebab tak mungkin kebenaran akan melebur dan berkolaborasi dengan kebatilan. Islam dan kekufuran adalah dua hal yang berbeda yang tak mungkin dipersatukan.

Maka stigma buruk akan ajaran Islam akan terus mereka bangun. Sebab keberpegangteguhan kaum muslimin terhadap syariat Islam. Hingga akhirnya memicu terjadinya Islamofobia di Eropa. Hal makin terasa, seiring makin derasnya opini negatif terhadap Islam.

Puncak Islamofobia terjadi setelah peristiwa serangan 11 September 2001 di New York. Bentuk-bentuk Islamofobia yang terjadi di Eropa dan Barat beragam. Seperti pelarangan pemakaian cadar bagi muslimah. Diskriminasi terhadap pelaksanaan peribadatan umat. Pembakaran Alquran hingga pembunuhan.

Hal ini sungguh sangat kontradiktif dengan nilai-nilai demokrasi yang diagung-agungkan Barat. Meski Barat sendiri menganggap tindakan ini melawan hukum. Namun munculnya aksi-aksi anarkis dan diskriminatif yang sejenis. Cukup menggambarkan kegagalan sistemis untuk menjamin keadilan dan kebebasan beragam di negara-negara demokrasi sekuler.

Islamofobia sejatinya sengaja dihadirkan oleh Barat untuk menjauhkan umat manusia dari Islam. Mereka memandang bahwa keteguhan kaum muslimin dalam memegang nilai-nilai Islam dan aturan Islam sebagai penghambat kebangkitan.

Adakah Solusinya?

Munculnya Islamofobia sejatinya adalah design licik Barat. Penyakit ini sengaja dihadirkan untuk menjauhkan umat dari kemuliaan yang hakiki. Yang mustahil akan diraih melalui sistem Demokrasi Kapitalis yang sekuler. Design ini sengaja terus dihembuskan untuk mencegah kebangkitan Islam dengan tegaknya institusi Khilafah.

Padahal Khilafah adalah sebuah institusi negara yang akan menerapkan syariat Islam secara Kaffah. Dan juga mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Melindungi kaum muslimin dan menjamin kemaslahatan bagi mereka.

Khilafah pula yang akan menjadi junnah atau perisai bagi kaum muslimin dari setiap serangan dan pelecehan terhadap agamanya. Khilafah menjamin terjaganya agama dan jiwa bagi setiap warga negaranya. Baik muslim maupun non muslim (ahli dzimah).

Allah SWT berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 256 :

آ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”

Artinya hanya sistem Islam yang bisa menjamin orang-orang non muslim bebas beribadah, menikah dan bercerai. Mereka juga bebas makan, minum dan berpakaian sesuai agama mereka. Namun, negara tak akan membiarkan siapapun menista agama Islam.

Sejarah telah mencatat bagaimana masyarakat muslim dan non muslim hidup harmonis dan berdampingan dalam negara Islam. Ambil saja contoh saat negara Islam pertama di Madinah dibangun oleh nabi Muhammad Saw. Disana ada tiga komunitas masyarakat yakni muslim, musyrik dan Yahudi.

Mereka hidup saling menghormati dan tolong menolong dalam urusan dunia. Tidak saling membenci dan merusak. Dalam urusan peribadatan Rasulullah Saw, selaku kepala negara membebaskan kaum musyrikin dan Yahudi beribadah sesuai agama mereka masing-masing. Begitupula dalam urusan makanan dan minuman.

Begitulah daulah Islam (khilafah) menjamin lahirnya masyarakat yang sehat. Yakni masyarakat yang mampu menjaga kemurnian ajaran Islam namun tetap bisa menjaga harmoni antar individu umat beragama.

Bila kini kita menginginkan masyarakat hidup damai dan harmonis. Tidak saling merusak dan menhina ajaran agama lain. Bahkan bila kita menginginkan Islamofobia lenyap. Maka tidak ada cara lain, yaitu dengan mengembalikan institusi negara yang bisa menjamin semua itu. Tidak lain dan tidak bukan ialah Khilafah ala minhaji nubuwah.

Wallahu’alam bish-shawab.