Oleh: Herawati,S.Pd.I
(Muslimah peduli generasi)

Saat Islam tidak lagi mengatur hubungan sosial dalam masyarakat, maka seks bebas dikalangan remaja menjadi problem yang tak pernah usai, bahkan kasusnya melonjak tajam dari tahun ketahun terlebih dimasa pandemi.

Sebagai mana dilansir dari
SRIPOKU.COM, LUBUKLINGGAU — Pengadilan Agama Kelas I B Lubuklinggau telah menerima 297 permohonan dispensasi nikah, sepanjang kurun waktu Januari hingga Agustus 2020.

Mayoritas, warga yang mengajukan dispensasi nikah tersebut remaja, akibat sudah hamil di luar nikah.
“Dari tiga wilayah Lubuklinggau Mura dan Muratara paling banyak berasal dari Lubuklinggau karena status kota besar,” kata Panitera Pengadilan Agama Kelas I B Lubuklinggau, Yuli Suryadi, Minggu (9/8/2020).

Dispensasi nikah adalah untuk perkawinan yang calon mempelai laki- laki ataupun perempuannya masih di bawah umur dan belum diperbolehkan untuk menikah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Yuli mengungkapkan bahwa masalah peningkatan jumlah pemohon dispensasi nikah juga disebabkan berbagai sebab.
Salah satunya faktor pengaruh perkembangan teknologi komunikasi dan informasi.

membuat remaja semakin mudah mengakses hal-hal yang berbau porno dan lain-lainnya, yang berpengaruh pada tindakan asusila. “Hal ini mendorong kalangan remaja untuk semakin berani dan mudah tergoda dengan hal-hal yang berbau seksual.
Terlebih mereka yang masuk usia remaja kerap kali ingin mencoba hal-hal baru,” paparnya.

Data ratusan remaja mengajukan dispensasi nikah akibat seks bebas, telah mengungkap tabir kehidupan remaja saat ini yang sudah jauh dari nilai-nilai keagamaan dan lebih memilih gaya hidup hedonis yang bebas tanpa batas.

Budaya ketimuran yang konon menjadi landasan pergaulan bangsa ini, hilang jejaknya dihapus oleh moderenisasi ala barat, budaya barat nyatanya telah berhasil menjerumuskan generasi remaja penerus bangsa pada aktivitas seks bebas bahkan praktek prostitusi.

Inilah bukti, bahwa sistem pemerintahan demokrasi telah gagal dalam membentengi remaja dari pengaruh buruk pornografi dan pornoaksi, budaya barat yang hedonis dengan gaya hidup food, fun, fashion diterima generasi penerus bangsa tanpa filter.

Sejatinya sistem Demokrasi kapitalisme sekuler telah menjadi akar masalah kenapa problematika seks bebas dikalangan remaja sampai saat ini belum tertuntaskan, hal ini karena sistem Demokrasi melindungi kebebasan setiap warganya, khususnya kebebasan bertingkah laku, tidak ada sangsi kepada pelaku seks bebas apa bila dilakukan suka sama suka.

Maka dispensasi pernikahan bukan menjadi solusi untuk menekan jumlah pelaku seks bebas di kalangan remaja, dispensasi pernikahan malah dijadikan ‘jalan keluar’ untuk memaklumi fenomena seks bebas di kalangan remaja. Hal ini secara tidak langsung menguntungkan para remaja yang sudah terbiasa melakukan seks bebas dan pelaku bisnis prostitusi.

Berbeda sekali dengan sistem pemerintahan Islam, sistem yang berasal dari Ilahi yang maha sempurna, telah menetapkan aturan yang terbaik untuk mengatur pergaulan antara laki-laki dan perempuan agar hubungan keduanya harmonis dan terhindar dari kemaksiatan dan seks bebas.

Cara Daulah Islam menuntaskan problem seks bebas adalah;

Pertama, Pemerintahan Islam akan mewajibkan wanita dan laki-laki berpakaian sesuai apa yang sudah diwajibkan Allah kepada keduanya, yakni dengan pakaian yang menutup aurat laki-laki dan perempuan dan melarang wanita bertabarruj. Hal ini Allah tetapkan untuk memuliakan keduanya dan sebagai bukti ketundukan hamba pada Rabb-Nya.

Pakaian perempuan dengan jilbab dan khimar, sebagai mana Allah berfirman di surah al-ahzab:59

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Firman Allah di surah An Nur: 31

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ …

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya… ”

Kedua, Daulah Islam akan memblokir semua situs pornografi dan pornoaksi dan memusnahkan benda apapun yang berkaitan dengan keduanya, seperti patung patung tanpa busana, dan lukisan lukisan serta buku buku berkonten vulgar. karena semua inilah yang memicu terjadinya seks bebas, hakikatnya gorizah na’u (naluri melestarikan keturunan) tidak akan bangkit apabila tidak ada rangsangan.

Ketiga, Daulah Islam juga akan mengatur aktivitas laki-laki dan perempuan karena hukum asal aktivitas laki-laki dan perempuan itu terpisah. Maka Islam mengharamkan semua aktivitas yang bisa mendekatkan pada perzinahan dan kemaksiatan seperti aktivitas pacaran, khalwat, dan ikhtilat. Sebagai mana firman Allah dalam surah Al-isra: 32

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يخلون أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثهما

“Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.”
(HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban)

Keempat, Daulah Islam memberikan sanksi yang tegas kepada pasangan yang melakukan perzinahan berupa razam dan jillid, hal ini dilakukan agar kemaksiatan tidak berang hukum ini ditegakan agar kemaksiatan tidak berulang dan mempunyai efek jera. Serta sebagai penebus atas dosa perzinahannya.

Allah Subhanahu wa Ta’alal berfirman dalam surah An Nur : 2

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مَائَ جَلْدَةٍ وَلاَتَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.

Rasulullah bersabda;

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنَّهُ أَمَرَ فِيمَنْ زَنَى، وَلَمْ يُحْصَنْ بِجَلْدِ مِائَةٍ، وَتَغْرِيبِ عَامٍ»

“Sesungguhnya beliau –shollallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan kepada orang yang berzina yang masih lajang (belum pernah menikah) untuk dicambuk sebanyak seratus kali dan diasingkan selama satu tahun.”
(HR. Al-Bukhari & Muslim )

Kelima, agar hubungan laki-laki dan perempuan mendapat ridha Allah dan tidak memunculkan kerusakan sosial, maka solusi untuk keduanya adalah dengan melakukan pernikahan yang sesuai syarat dan rukunnya pernikahan didalam Islam.

Begitulah Islam, mempunyai seperangkat aturan yang paripurna, agar manusia tidak terjebak pada kemaksiatan, perzinahan dan kerusakan akhlak dan soaial, dan semua aturan ini hanya bisa ditegakan oleh institusi Islam. Wallahu Alam Bishawab.