Oleh: Desi Wulan Sari

Sebuah generasi adalah penerus dan pewaris pendahulunya. Seperti contoh budaya seni tari, yang secara turun temurun diteruskan dari gnerasi ke generasi agar seni tari tersebut tidak punah, tetap eksis dan terpelihara untuk tetap dinikmati pencinta seni dari penjuru manapun.

Islam sendiri lahir dari sebuah peradaban jahiliyah menuju peradaban gemilang. Islam melalui Rasulullah saw sebagai pembawa risalah kenabian, mengajarkan dan membentuk seorang muslim dengan kepribadian yang berakhlak mulia. Mempelajari Islam sebagai ilmu kehidupan, pengetahuan, politik, keamanan, ekonomi, sosial masyarakat semua dipelajari dan diteruskan dari generasi ke generasi. Saat itu, seorang pemimpin adalah sosok yang memahami politik, mampu meriayah rakyatnya, memiliki kemampuan strategi militer, mampu menganalisa ekonomi, dan yang paling penting seorang pemimpin umat haruslah seorang Hafiz AlQuran yang menguasai ilmu hadis dan fikih, dia juga seorang mujtahid yang mampu menggali hukum syariat bagi kemaslahatan umat.

Jika Islam membentuk sebuah kepribadian yang selalu menjaga kehormatannya, kesuciannya, dan kebersihannya, semata-mata karena Islam telah mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai keindahan di dalamnya. Seperti thaharah (bersuci), berwudhu, menjaga hati dan lisan, mandi, dan masih banyak lagi. Ketakwaan kepada Allah dan Rasulnya membuat seorang muslim terlihat bercahaya raut wajahnya, sosoknya, hingga pada kepribadiannya. Maka, jika wajah yang enak di pandang mata (good looking) cerdas (hafiz quran, berilmu) di zaman ini dikatakan sebagai indikator radikalisme, sunnguh sangat disayangkan apa yang telah disampaikan pejabat pemerintah tersebut pada khalayak ramai.

Seperti yang dilansir sebuah media nasional digital, pernyataan yang dilontarkan oleh seorang pejabat pemerintah setingkat menteri membuat umat muslim tidak habis pikir. Apa makud dari pernyataannya itu, sungguh sangat absurd dan tidak masuk akal. Beliau mengatakan “masuknya paham-paham radikalisme ke mesjid-mesjid yang ada di lingkungan pemerintahan, BUMN, dan di tengah masyarakat dengan memasukkan anak-anak good looking, fasih berbahasa Arab, dan Hafiz Quran” (cnnIndonesia, 3/9.2020).

Rasanya sulit menerima apa yang baru saja di dengar. Sebuah pernyataan yang lagi-lagi tidak bijaksana jika disampaikan seorang pejabat pemerintah, yang semestinya lebih berhati-hati dalam membuat statement, menganalisa dan menyimpulkan satu masalah dengan tidak mengeneralisir satu peristiwa tertentu saja. Dan yang kita pahami selama ini, dugaan-dugaan yang mereka sampaikan kepada umat muslim banyak yang keliru. Bahkan terkesan hanya ingin memberikan citra negatif bagi Islam.

Tanggapan Tokoh Masyarakat

Sosiolog dari Universitas Ibnu Chaldun Musni Umar berharap pernyataan Fachrul Razi itu salah kutip. Beliau mengatakan “Semoga pernyataan Menag salah kutip. Sebaiknya kita dorong anak-anak bangsa kita good looking bukan bad looking. Kalau ada radikalisme, harus dicari akar masalahnya. Saya yakin akar masalahnya adalah ketidakadilan. Alquran menyuruh kita untuk memperjuangkan tegaknya keadilan,” kata Musni Umar (Suara.com, 3/9/2020).

Pernyataan Menag menjadi perhatian dan mendapatkan tanggapan kritis dari masyarakat, tokoh dan ulama terkait hal tersebut. Tanggapan dari Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Tengku Zulkarnain. Dia mengejar bukti adanya orang yang Hafidz Alquran dan radikal. “Coba tunjukkan sudah berapa Hafidz AlQuran yang radikal, apalagi jadi teroris…? Bicara Pejabat harus pakai data. Dan bandingkan dengan berapa banyak manusia yang tidak mendalami agama jadi penjual diri, rampok, maling, koruptor, homo, pengkhianat bangsa, penjual negara…?” Juga disinggung oleh beliau bahwa paham komunisme masuk Indonesia yang dia katakan, awalnya tidak dibawa oleh “anak good looking,” melainkan pemuda bad looking. kata Tengku (IJNNews, 4/9/2020).

Melihat berbagai tanggapan kritis umat muslim atas pernyataannya tersebut, seharusnya menjadi muhasabah diri. Bagaimana semestinya sikap seorang pemimpin terhadap rakyatnya? Yang seharusnya senantiasa melindungi dan menjaga keutuhan dan persatuan umat. Bukan sebaliknya, justru membuat publik bertanya-tanya, apa maksud dari pernyataan beliau? Mengapa diksi yang digunakan dan karakteristik yang ditentukan bagi seorang radikalisme sungguh sangat tidak tercermin dari yang beliau sampaikan.

Bahkan, seorang politikus dan anggota DPR RI Fadli Zon meminta kepada pak Presiden untuk mengganti salah satu pejabat menterinya di Kabinet Indonesia Maju. Beliau mengatakan “Menteri ini pernyataan-pernyataannya sering menimbulkan kecurigaan, salah paham perselisihan atau malah Islamophobia.” (radar Bogor, 4/9/2020).

Umat Muslim Adalah Khairu Ummah

Sebagai seorang muslim mampu menjaga marwah dirinya dan sesama muslim. Karena Rasulullah saw menyampaikan bahwa seorang muslim adalah khairu ummah (sebaik-baik umat). sehingga beliau memberikan gambaran muslim yang pantas mendapatkan label khairu ummah, antara lain:

1.Menjaga Lisan. Islam tidak hanya menekankan kepada kita untuk menjaga hubungan dengan Allah SWT, tapi juga kepada sesama makhluk hidup. Menjaga lisan adalah salah satu kriteria muslim yang khairu ummat. Lisan yang dimaksud adalah berupa perkataan dan ucapan.

Muslim baik, jika mereka mampu menjaga lisan dari segala perkataan kotor, mengejek, ghibah, perkataan yang bersifat provokasi, mengumpat, gosip, menghardik anak yatim dan segala yang dapat memecah belah ummat.
Islam juga mengajarkan kita untuk tidak berbohong dan selalu menjunjung asas-asas kejujuran. Karena bohong adalah pangkal dari segala dosa. Ada sebuah Kalam hikmah yang berbunyi “katakanlah yang benar walaupun itu pahit”.
Berkata baik atau diam,salah satu benteng kita agar terhindar dari segala dosa-dosa yang lahir dari lisan. Jika tak mampu untuk berkata baik maka, diam jauh lebih baik. Dari pada banyak bicara,tetapi manfaat nya tidak ada dan hanya mengusik orang orang sekitar. Karena muslim hanya melakukan yang bermanfaat dan meninggalkan yang sebaliknya.
Menjaga perkataan dan ucapan dari hal diatas sangat penting, karna secara tidak langsung kita telah menjaga keharmonisasian antar sesama manusia. Sungguh, lisan dapat menembus apa yang tidak dapat ditembus oleh pedang.
2.Menjaga Tangan. Selain menjaga lisan, Muslim yang baik harus menjaga diri dari dosa-dosa yang lahir dari tangan. Muslim yang baik mampu menjaga tangan dari mengganggu kehidupan sesama makhluk hidup sehingga memecah belah ummat, membuang sampah sembarang sehingga merusak kelestarian alam, merusak fasilitas umum dengan sengaja, menebang pohon sehingga mengakibatkan banjir, mencuri sehingga korban merasa dirugikan.
Kata tangan juga mengandung makna kekuasaan dan kedududukan. Lagi-lagi Islam memberikan kita pelajaran bagi para pemimpin, untuk tidak memanfaatkan kekuasaan sebagai ladang memperkaya diri, ataupun kepentingan atas kekuasaannya. Hadist ini memberikan sinyal bahwa hendaknya kita senantiasa berlaku adil dalam kepemimpinan, tanpa mementingkan kepentingan pribadi, kelompok, golongan maupun status. Oleh karena itu pemimpin harus adil dalam setiap tindakan. Kepentingan ummat jauh lebih penting daripada kepentingan pribadi dan kelompok. Tidak menindas yang lemah, mengusir kemiskinan bukan orang miskin. Sungguh, setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban. Wallahu a’lam bishawab.